WAKIL Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) menggagas pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mengolah dan mendokumentasikan khazanah atau kisah para wali. Inisiatif ini dinilai penting sebagai upaya memperkuat pelestarian budaya, sejarah, sekaligus dakwah Islam yang relevan dengan generasi muda.
Gagasan tersebut disampaikan Gus Yasin saat mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam Dialog Interaktif Tembayatan Punden dan Belik Kasunanan Kudus, bertema “Menyebarkan Energi Peradaban Aulia”, yang digelar di Kompleks Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Rabu (7/1/2026) malam.
Menurut Gus Yasin, kisah para wali selama ini lebih banyak disampaikan dalam bentuk cerita lisan atau teks. Padahal, dengan perkembangan teknologi, khazanah tersebut bisa dikemas secara lebih modern dan menarik.
“Para wali ini luar biasa. Kalau bisa, kisah-kisahnya tidak hanya menjadi cerita, tetapi divisualisasikan. Gambar para wali lengkap dengan dawuh-dawuhnya bisa dikemas dengan teknologi AI,” ujar Gus Yasin.
Ia menegaskan, pemanfaatan AI bukan untuk menggantikan peran ulama, kiai, maupun sejarawan. Teknologi hanya menjadi alat bantu agar nilai-nilai keteladanan melalui kisah para wali dengan menjangkau audiens yang lebih luas, khususnya generasi muda.
“Anak-anak sekarang lebih sering membuka konten singkat di media sosial. Kalau yang muncul itu Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dengan wajah dan pesan-pesan dakwahnya, tentu akan lebih menarik,” katanya.
Menjawab Tantangan Zaman Digital Lestarikan Kisah Para Wali
Gus Yasin menilai minat generasi muda terhadap sejarah dan peradaban masa lalu semakin menurun. Sejak usia dini, anak-anak sudah diarahkan menguasai teknologi, sehingga waktu untuk mempelajari sejarah menjadi semakin terbatas.
“Fokus mereka lebih ke masa depan. Padahal, sejarah serta kisah para wali penuh dengan nilai perjuangan dan keteladanan yang sangat relevan untuk kehidupan hari ini,” ujarnya.
Putra ulama kharismatik KH. Maimoen Zubair ini juga menyoroti banyaknya kisah para wali dan ulama besar yang mulai terlupakan. Padahal, kisah tersebut bisa menjadi sumber inspirasi dan penguat optimisme.
Ia mencontohkan kisah Abu Yusuf, murid Imam Abu Hanifah yang hidup dalam kemiskinan, namun karena ketekunan dan khidmah kepada gurunya, kelak menjadi ulama besar yang dipercaya penguasa. Contoh lain adalah Fudhail bin ‘Iyadh, seorang begal yang kemudian bertobat dan menjadi wali besar.
“Ketika kita mengetahui karamah dan perjalanan hidup para aulia, kita akan optimis. Latar belakang apa pun, setiap orang punya peluang untuk dekat dengan Allah,” katanya.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







