Kematian menjadi satu-satunya janji Tuhan yang tak pernah meleset dan tidak mengenal kompromi bagi setiap insan yang bernapas. Tak peduli apakah ia seorang ulama, pejabat, hingga rakyat jelata, maut akan datang tepat pada waktunya tanpa bisa ditawar sedikit pun. Ketika ajal menjemput, harta dan takhta tak lagi berarti, menyisakan penyesalan yang mendalam bagi mereka yang belum mempersiapkan diri.
Allah Ta‘ala berfirman,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Ayat ini sering dibaca dan dihafal, namun jarang ditadabburi secara eksistensial. Kata dzā`iqah (ذَائِقَة) berarti “mencicipi”, menunjukkan bahwa kematian bukan sekadar berhentinya fungsi biologis, melainkan pengalaman sadar yang benar-benar dirasakan oleh ruh. Tidak ada satu jiwa pun yang “tidak sempat”; setiap orang akan mengalaminya dengan penuh kesadaran.
Salah satu ilusi terbesar manusia adalah kata “nanti”: nanti taubat, nanti hijrah, nanti memperbaiki shalat, nanti berubah. Padahal Allah telah menegaskan dengan kalimat yang menghancurkan semua angan,
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
“Apabila telah datang ajal mereka, tidak bisa ditunda sesaat pun dan tidak bisa dipercepat.” (QS. Al-A‘raf: 34)
Ayat ini meniadakan konsep “waktu tambahan”. Tidak ada extension, tidak ada grace period, dan tidak ada kesempatan kedua di dunia.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang benar-benar sedang menghadapi sakaratul maut, sementara ia masih melihat dunia di hadapannya.” (HR. Ahmad – hasan)
Harta masih ada, keluarga masih terlihat, dan dunia seolah tetap utuh. Namun pada saat yang sama, ruh sedang dicabut. Inilah tragedi terbesar manusia: menyadari kebenaran ketika kesempatan telah benar-benar habis.
Allah menggambarkan dialog yang hampir pasti diucapkan manusia saat kematian datang:
رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
“Ya Rabbku, kembalikan aku (ke dunia), agar aku dapat beramal saleh.” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)
Permintaan ini bukan hanya keluar dari lisan orang kafir. Banyak ulama tafsir menjelaskan bahwa orang beriman pun akan menyesal—bukan karena kekufuran, tetapi karena merasa belum maksimal dalam ketaatan. Namun jawaban Allah sangat singkat, tegas, dan memutus semua harapan,
كَلَّا
“Sekali-kali tidak.”
Saat kematian tiba, tidak ada lagi pencitraan dan penilaian manusia. Semua topeng jatuh. Yang tersisa hanyalah kejujuran amal. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung penutupnya.” (HR. Bukhari)
Inilah sebabnya para salaf bukan takut pada kematian, melainkan takut hidup panjang namun berakhir dengan amal yang rusak. Mereka tidak khawatir mati, tetapi khawatir mati dalam keadaan dimurkai Allah.
Kematian sebagai Penasihat Terbaik
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Cukuplah kematian sebagai penasihat.”
Sebab kematian membatalkan kesombongan, menghancurkan penundaan, menyamaratakan seluruh manusia, dan menguji kejujuran iman. Orang yang benar-benar sering mengingat kematian tidak mungkin hidup sembarangan.
Rasulullah SAW bersabda, “Di antara tanda Kiamat adalah kematian mendadak.” (HR. Thabrani – shahih). Fenomena ini kita saksikan setiap hari: sehat di pagi hari, wafat di sore hari; tidur tanpa bangun; berangkat bekerja namun tak pernah kembali. Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan peringatan massal dari Allah bagi manusia akhir zaman.
Jika malaikat maut datang malam ini, apakah taubat kita sudah jujur? Apakah shalat kita sudah sungguh-sungguh? Apakah hak manusia telah bersih? Ataukah hati masih menyimpan dendam dan kebencian? Karena kematian tidak pernah menunggu kesiapan kita.
Orang cerdas bukanlah yang takut mati, melainkan yang bersiap sebelum dipanggil. Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap hari berlalu, sebagian dari dirimu ikut pergi.” Kematian tidak bisa ditunda. Namun taubat masih bisa dilakukan—sekarang juga.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



