Umbi Yakon Desa Bakal, Harta Karun Dieng yang Menjelma Ikon Wisata Agro dan Kesehatan

Syarif TM
Umbi Yakon dari Desa Bakal, Dieng, Banjarnegara, kini jadi primadona wisata agro dan kesehatan. Kaya manfaat untuk diabetes, diet, dan ekonomi desa. (dok. Kominfo)

DATARAN Tinggi Dieng selama ini dikenal sebagai negeri di atas awan dengan pesona alam dan jejak sejarah peradaban. Namun di balik hamparan kentang dan sayuran khas pegunungan, tersimpan “harta karun” pertanian yang kini mulai bersinar: Umbi Yakon dari Desa Bakal, Kecamatan Batur, Banjarnegara.

Tanaman yang dulu dianggap biasa dan kerap dibuang ini, kini menjelma menjadi komoditas unggulan bernilai ekonomi tinggi, sekaligus daya tarik baru wisata agro berbasis kesehatan.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Bakal, Hermawan, mengungkapkan bahwa Yakon sebenarnya sudah lama dikenal oleh masyarakat setempat.

“Dulu orang tua kita menanam di pinggiran kebun. Karena belum tahu manfaatnya, sering dianggap tidak berguna. Sekarang, setelah ada riset ilmiah, Yakon justru jadi andalan,” katanya.

Baca juga  Harus Jalani Operasi Medis, Warga Binaan Rutan Banjarnegara Dapat Pengawalan Ketat

Keseriusan membudidayakan Yakon sebagai komoditas unggulan dan ikon wisata agro dimulai sejak 2015. Salah satu pusat pengembangannya berada di kawasan Bosweisen, yang kini disiapkan sebagai kawasan edukasi pertanian terpadu.

Bosweisen, Kawasan Edukasi Agro di Lereng Dieng

Kawasan Bosweisen dikembangkan di lahan seluas kurang lebih 15 hektare. Di sini, wisatawan tidak hanya melihat umbi Yakon, tetapi juga belajar langsung tentang budidaya berbagai komoditas khas dataran tinggi Dieng, seperti:

  • Kopi pegunungan
  • Kol ungu
  • Terung Belanda
  • Aneka sayuran khas Dieng

Konsep ini menjadikan Desa Bakal tak sekadar sentra produksi, tetapi juga destinasi wisata edukasi dan kesehatan.

Produktivitas Tinggi dan Permintaan Pasar yang Terus Naik

Saat ini, Desa Bakal memiliki sekitar:

  • 20.000 batang Yakon siap panen
  • 10.000 batang dalam masa pertumbuhan

Setiap batang Yakon mampu menghasilkan 3–5 kilogram umbi, dengan masa tanam sekitar 6–7 bulan. “Permintaan cukup tinggi. Kami sudah kirim ke Jakarta dan melayani penjualan online,” kata Hermawan.

Di tingkat petani, Umbi Yakon dijual sekitar Rp25.000 per kilogram, membuka peluang ekonomi baru bagi warga desa.

Baca juga  Malam Natal di Banjarnegara Kondusif, Bupati Pastikan Ibadah Umat Kristiani Aman dan Nyaman

Umbi Yakon, Superfood yang Diakui Dunia Medis

Umbi Yakon (Smallanthus sonchifolius) diakui oleh National Institutes of Health (NIH) sebagai pangan fungsional dengan manfaat kesehatan yang luar biasa.

Berbeda dengan umbi lain, Yakon memiliki:

  • Tekstur renyah seperti apel atau pir
  • Rasa manis alami
  • Nikmat dikonsumsi mentah, dijus, atau diolah menjadi sirup

Kandungan Unggulan Umbi Yakon untuk Kesehatan

Keunggulan utama Yakon terletak pada kandungan Fruktooligosakarida (FOS) dan Inulin, yang mencapai 58–78 persen dari total karbohidrat.

Manfaat utamanya antara lain:

  • Tidak menaikkan gula darah secara drastis, aman bagi penderita diabetes
  • Prebiotik alami untuk kesehatan pencernaan
  • Kaya antioksidan untuk melawan radikal bebas
  • Mengandung kalium, kalsium, dan magnesium untuk jantung dan tulang
  • Rendah kalori, cocok untuk diet dan manajemen berat badan

Bukan Sekadar Mitos, Manfaat Yakon Berbasis Riset

Meski sempat beredar mitos bahwa Yakon meningkatkan vitalitas, Hermawan menegaskan bahwa manfaat utama Yakon yang terbukti secara ilmiah adalah:

  • Membantu menstabilkan kadar gula darah
  • Mendukung produksi hemoglobin (sel darah merah)
Baca juga  Ribuan Wisatawan Kunjungi Dieng Saat Libur Waisak

Hal inilah yang membuat Yakon sering dijuluki warga sebagai “tanaman insulin”.

Desa Bakal Siap Jadi Destinasi Wisata Agro Unggulan Dieng

Dengan perpaduan keindahan alam Dieng, potensi kesehatan Umbi Yakon, dan konsep wisata edukasi, Desa Bakal kini bersiap menjadi destinasi wisata agro unggulan di Banjarnegara.

Dari tanaman yang dulu dipandang sebelah mata, Yakon kini menjadi simbol kebangkitan ekonomi desa, kesehatan, dan wisata berkelanjutan.

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.