BPBD Banjarnegara memastikan gempa lokal yang dirasakan warga Desa Bantar, Kecamatan Wanayasa, tidak menimbulkan kerusakan bangunan maupun korban jiwa. Meski demikian, potensi gempa lanjutan masih ada karena wilayah tersebut dikelilingi struktur sesar aktif.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, mengatakan pihaknya telah melakukan kajian kebencanaan dan asesmen lapangan pada Rabu (18/2/2026) pukul 10.00 WIB di Desa Bantar. Kajian kebencanaan ini melibatkan unsur BPBD Banjarnegara, BMKG, Kecamatan Wanayasa, serta Pemerintah Desa Bantar.
“Berdasarkan laporan Pemerintah Desa Bantar dan keterangan warga, gempa lokal dirasakan sebanyak lima kali pada Selasa, 17 Februari 2026. Namun tidak berdampak pada perumahan maupun sektor lainnya,” ujar Aji, Rabu sore(18/2/2026).
Dalam asesmen tersebut, BPBD juga menindaklanjuti laporan masyarakat terkait rumah rusak. Hasilnya, kerusakan itu bukan akibat gempa terbaru.
“Aduan rumah rusak tersebut terjadi pada tahun 2022. Jumlahnya 22 rumah dan sudah diusulkan untuk relokasi,” jelasnya.
Wilayah Dikelilingi Sesar Aktif
Dari sisi geologi, Desa Bantar didominasi morfologi perbukitan dengan lereng agak curam hingga curam. Berdasarkan peta geologi Banjarnegara-Pekalongan, wilayah ini berada pada Formasi Rambatan (Tmr) yang tersusun atas serpih, napal, batupasir, dan batugamping dengan ketebalan lebih dari 300 meter. Formasi ini bertumpang tindih dengan Formasi Gunungapi Jembangan.
Formasi Rambatan dikenal memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap gerakan tanah, khususnya di daerah berlereng dan dengan curah hujan tinggi. Selain itu, di kawasan tersebut terdapat banyak patahan atau sesar aktif.
Namun berdasarkan peta kerentanan gerakan tanah dari PVMBG Badan Geologi, wilayah Desa Bantar berada pada zona hijau hingga kuning, yang berarti relatif minim terhadap potensi gerakan tanah.
Menurut analisis BPBD dari sudut pandang geologi dan kebencanaan, getaran dan suara dentuman keras yang dirasakan warga diduga berasal dari aktivitas patahan batuan di bawah permukaan, khususnya pada formasi Gunungapi Jembangan yang tertutup Formasi Rambatan.
Aktivitas patahan tersebut melepaskan energi berupa getaran dan suara. Namun sebagian energi teredam oleh lapisan batuan di atasnya, sehingga fenomena tersebut bersifat sangat lokal.
“Karena sifatnya lokal dan terjadi pada struktur geologi setempat, kejadian ini tidak terekam sensor seismik milik BMKG maupun PVMBG seperti gempa tektonik atau vulkanik pada umumnya,” katanya.
Untuk itu, BMKG memasang seismograf portabel di tiga titik, yakni di SDN 1 Bantar, rumah Kepala Desa Bantar, serta Dusun Jemblang, Desa Kubang. Langkah ini dilakukan agar apabila terjadi kejadian serupa, data getaran dapat terekam dengan baik.
Faktor Curah Hujan Diduga Jadi Pemicu
BPBD juga menduga salah satu faktor pemicu kejadian tersebut adalah peresapan air hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama. Kondisi ini meningkatkan beban massa batuan akibat bertambahnya volume air yang masuk melalui pori-pori tanah.
“Karena wilayah ini dikelilingi struktur sesar aktif, masih terdapat potensi gempa lanjutan. Masyarakat diminta tetap waspada,” kata Aji.
Rekomendasi untuk Warga
BPBD Banjarnegara merekomendasikan masyarakat untuk:
- Selalu meningkatkan kewaspadaan.
- Segera melaporkan kepada pemerintah desa atau kabupaten jika ditemukan rekahan atau amblasan baru.
- Melaporkan jika terdapat kerusakan pada bangunan rumah maupun infrastruktur.
Sementara itu, Kades Bantar Kecamatan Wanayasa, Eko Purwanto mengatakan, untuk kegempaan pada Selasa (17/2/2026) hanya terjadi sekali pada sore hari. “Malam hingga hari berikutnya tidak terjadi getaran lagi. Namun masyarakat masih merasa khawatir dan was-was,” katanya.
Menurut Eko, getaran tersebut hanya dirasakan oleh Warga Dusun 1. Eko berharap, dengan adanya pemasangan alat deteksi kegempaan, diharapkan menjadi deteksi dini akan getaran gempa tersebut.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!




