Bersamaan dengan momentum Hari Bumi, PT PLN Indonesia Power UBP Mrica Banjarnegara menanam 20.000 pohon kopi di Desa Pegundungan, Kecamatan Pejawaran, Kamis (23/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Komisaris Utama PT PLN Indonesia Power, Arif Budiman, mengatakan bahwa penanaman pohon kopi merupakan langkah konkret perusahaan dalam mendukung konservasi lingkungan. Program ini telah berjalan sejak 2012 dan terus dikembangkan hingga saat ini.
“Konservasi ini tidak hanya fokus pada lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Sejak dimulai hingga 2024, program konservasi berbasis kopi di Desa Pegundungan telah mencatat penanaman sebanyak 76.000 pohon. Penanaman terbaru sebanyak 20.000 bibit merupakan bagian dari upaya pemulihan ekosistem di daerah aliran sungai (DAS) Serayu, khususnya di wilayah hulu.
Menurut Arif, kegiatan ini dilaksanakan di tiga dusun, yakni Dusun Pegundungan, Dusun Srandil, dan Dusun Simpar, dengan total luas area mencapai 22 hektare. Program tersebut melibatkan tiga kelompok tani dengan total 148 penerima manfaat.
Selain aspek lingkungan, program ini juga memberikan dampak ekonomi yang cukup besar. Luas lahan kopi yang dikelola mencapai 72,5 hektare, sebagian besar berada di lahan miring dengan sistem tumpangsari. Dari hasil panen, kelompok tani diperkirakan mampu meraih pendapatan hingga Rp250 juta per tahun.
“Untuk memastikan keberlanjutan program, perusahaan juga memberikan berbagai pendampingan, seperti pengembangan rumah pupuk organik, pelatihan metode infus tanaman kopi, serta pemasaran produk melalui ruang promosi “Mrica Corner”,” katanya.
General Manager PT PLN Indonesia Power UBP Mrica, Nazrul Very Andhi, menjelaskan bahwa wilayah hulu DAS Serayu dipilih karena memiliki peran penting terhadap kondisi Waduk Mrica.
“Wilayah hulu sangat subur, namun saat hujan berpotensi menimbulkan sedimentasi di waduk. Karena itu, kami memilih tanaman kopi yang memiliki akar kuat dan bernilai ekonomi tinggi,” jelasnya.
Ia menambahkan, hingga saat ini pihaknya telah menanam sekitar 76.000 batang kopi yang tersebar di lima kecamatan di wilayah hulu, tidak hanya di Desa Pegundungan.
Menurutnya, konservasi ini mulai menunjukkan hasil positif. Dalam periode 2024–2025, tercatat sekitar 100.000 meter kubik sedimentasi berhasil tertahan berkat upaya konservasi lahan dan penanaman kopi. Padahal, total sedimentasi di Waduk Mrica saat ini mencapai sekitar 133 juta meter kubik.
Nazrul juga menyebut bahwa sedimentasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik. Material sedimen dicampur dengan enceng gondok dan kotoran hewan untuk menghasilkan pupuk tanpa bahan kimia.
Ke depan, upaya konservasi tidak hanya difokuskan di hulu, tetapi juga akan diperluas ke wilayah pesisir Sungai Mrawu, yang merupakan bagian dari DAS Serayu dan menyumbang sekitar 70 persen sedimentasi ke Waduk Mrica.
“Dari sisi lingkungan, program ini terbukti mampu menekan potensi erosi hingga 13.616,2 meter kubik per tahun serta menyerap karbon sebesar 1.805 ton CO2e per tahun,” katanya.
Melalui pendekatan terpadu antara konservasi dan pemberdayaan ekonomi, PLN Indonesia Power berharap program ini dapat menjadi model pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!



