Lintas Elemen Mahasiswa dan Rakyat Banjarnegara Soroti Berbagai Masalah Mulai dari Kekerasan Seksual, Sampah hingga Penanganan Kebencanaan.
Sejumlah elemen mahasiswa, rakyat, petani, hingga praktisi hukum di Banjarnegara menggelar diskusi lintas isu di kawasan Mrica Corner Banjarnegara, Minggu (10/5/2026) sore. Dalam forum tersebut, berbagai persoalan daerah hingga isu nasional mengemuka, mulai dari kekerasan terhadap perempuan, krisis pertanian, persoalan sampah, rendahnya minat baca masyarakat, nasib buruh hingga penanganan kebencanaan.
Diskusi yang berlangsung sekitar pukul 16.10 WIB itu dihadiri perwakilan berbagai organisasi mahasiswa dan komunitas rakyat. Mereka di antaranya Sekutu Buku, Serikat Petani Kalitlaga, BEM STAI Tanbihul Ghofilin, BEM STIMIK Tunas Bangsa, BEM STIE Tambara, mahasiswa Universitas Terbuka Banjarnegara, hingga perwakilan Politeknik Banjarnegara.
Perwakilan Sekutu Buku, Endan, menyoroti pentingnya advokasi terhadap perempuan yang masih menghadapi banyak ketidakadilan sosial. Menurutnya, ruang-ruang diskusi publik perlu diperbanyak agar kesadaran masyarakat terhadap isu perempuan semakin meningkat.
Hal senada juga disampaikan Awan dari Serikat Petani Kalitlaga. Ia menilai persoalan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan perlindungan perempuan dan anak masih membutuhkan keberanian masyarakat untuk bersuara.
“Kesadaran untuk berani berbicara masih perlu didorong. Selain itu, persoalan nasib petani dan buruh juga harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Sementara itu, Rafi dari BEM STAI Tanbihul Ghofilin mengaku prihatin dengan sikap sebagian mahasiswa yang dinilai mulai apatis terhadap isu daerah maupun persoalan nasional.
“Mahasiswa sekarang banyak yang kurang peduli terhadap isu wilayah maupun nasional. Ini tidak boleh terjadi karena mahasiswa adalah agen perubahan yang menjadi motor bagi perjuangan rakyat,” katanya.
Isu lingkungan juga menjadi sorotan dalam forum tersebut. Nurul Hikmah dari STIMIK Tunas Bangsa menyinggung persoalan sampah dan limbah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akhir-akhir ini banyak dikeluhkan masyarakat sekitar SPPG. Ia menilai tumpukan sisa makanan dan pencemaran udara akibat pengelolaan limbah perlu segera mendapat perhatian serius.
Nanda dari BEM STIE Taman Siswa turut menyoroti isu kebencanaan yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih di Banjarnegara, mengingat daerah tersebut rawan longsor dan bencana alam lainnya.
Mahasiswa Universitas Terbuka Banjarnegara, Yuki Raihan, menilai gerakan mahasiswa di Banjarnegara masih berjalan sendiri-sendiri dan belum solid dalam membangun gerakan bersama.
“Pergerakan mahasiswa masih belum bersatu. Melalui diskusi ini, akhirnya menjadi momentum bersatunya elemen mahasiswa dan rakyat secara utuh sehingga menjadi forum untuk bersuara,” katanya.
Adapun Alfat dari STAI Tanbihul Ghofilin menilai kualitas sumber daya manusia di Banjarnegara masih perlu diperkuat, terutama dalam keberanian menyuarakan persoalan sosial. Menurutnya, kasus perundungan atau bullying di lingkungan sosial dan pendidikan masih lebih dominan dibanding kasus kekerasan seksual yang terungkap ke publik.
“Nantinya, akan ada ruang diskusi antara elemen mahasiswa dan rakyat yang akan menjadi agenda rutin. Hasil dari pertemuan tersebut tentu akan menjadi sikap advokasi dari BEM se Banjarnegara kepada pemerintah,” katanya.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!



