Unik! Anak Rambut Gimbal di Banjarnegara Minta Sapi Cokelat Sebelum Dicukur

Syarif TM
Prosesi pemotongan rambut gimbal dilakukan dengan ritual khusus. (dok. Kominifo)

RAMBUT Gimbal dan ruatan tidak hanya ada di dataran tinggi Dieng, fenomena ini juga muncul di Desa Pagelak, Kecamatan Madukara Banjarnegara. Aswa Hanun Syafira (6), putri kedua pasangan Gino dan Andriana Rismawati memiliki rambut gilmal dan menjalani prosesi adat dalam pencukurannya.

Pada moment tersebut, suasana hangat dan penuh rasa syukur menyelimuti keluarga Hanun di Desa Pagelak, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara, Rabu (11/6/2026) malam. Warga berkumpul dalam sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun, yakni ruwatan cukur rambut gimbal seorang anak yang dipercaya memiliki keistimewaan tersendiri.

Sejak bayi, Hanun memiliki rambut gimbal atau gembel alami yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai warisan leluhur dan bagian dari tradisi budaya yang harus diperlakukan secara khusus.

Prosesi ruwatan digelar setelah Hanun menyatakan keinginannya untuk memotong rambut gimbalnya. Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat, rambut gimbal tidak boleh dipotong secara sembarangan dan harus dilakukan atas permintaan anak yang bersangkutan.

Baca juga  Setiap Hari Ada 8 Janda Baru, Perceraian di Banjarnegara Masih Tinggi

Rambut Gimbal Muncul Setelah Hanun Mengalami Demam Tinggi

Ayah Hanun, Gino, menceritakan bahwa rambut gimbal putrinya mulai tumbuh saat berusia sekitar sembilan bulan.

Sebelum rambut tersebut muncul, Hanun sempat mengalami demam tinggi dan kondisi kesehatan yang kurang stabil. Awalnya hanya muncul sedikit gumpalan rambut sepanjang jempol tangan, namun seiring waktu rambut tersebut semakin tebal dan sulit dipisahkan saat disisir.

Menurut Gino, fenomena rambut gembel ini bukan hal asing di keluarganya. Tradisi tersebut telah berlangsung secara turun-temurun dari garis keturunan istrinya.

“Hampir semua dari garis keluarga istri memiliki rambut gembel, mulai dari bude, pakde, keponakan, mbah putri hingga mbah buyut,” ujarnya.

Minta Sapi Cokelat Sebagai Syarat Ruwatan

Salah satu keunikan tradisi rambut gimbal adalah adanya permintaan khusus dari sang anak sebelum prosesi pencukuran dilakukan.

Memasuki usia enam tahun, Hanun akhirnya menyampaikan keinginannya untuk memotong rambut gimbalnya. Namun, ia mengajukan satu permintaan yang harus dipenuhi keluarganya, yakni seekor sapi berwarna cokelat.

Permintaan tersebut kemudian dipenuhi oleh keluarga. Sapi berwarna cokelat itu disembelih dan dagingnya dimasak untuk disajikan kepada warga yang hadir dalam acara tasyakuran ruwatan.

Baca juga  Persibara Banjarnegara Siap Jajal PPSM Magelang dalam Laga Uji Coba

Gino mengatakan, permintaan anak dalam tradisi rambut gimbal dipercaya tidak boleh diabaikan. Jika rambut dipotong tanpa persetujuan anak atau tanpa memenuhi permintaannya, masyarakat meyakini rambut gimbal tersebut dapat tumbuh kembali.

“Ada keluarga yang pernah memotong rambut gimbal bukan atas permintaan anaknya sendiri. Setelah itu rambut gimbalnya tumbuh lagi. Karena itu, permintaan Hanun kami penuhi terlebih dahulu,” katanya.

Prosesi Ruwatan Dipimpin Dukun Bayi dan Disaksikan Warga

Prosesi pencukuran berlangsung khidmat dengan diiringi doa-doa keselamatan. Keluarga mengundang Mbah Suwito, seorang dukun bayi yang selama ini dikenal menangani ruwatan rambut gembel di wilayah tersebut.

Setelah doa bersama dipanjatkan, Mbah Suwito melakukan pencukuran pertama terhadap rambut Hanun. Selanjutnya prosesi dilanjutkan oleh anggota keluarga dan sejumlah tamu yang telah ditunjuk.

Tradisi tersebut menjadi momen sakral sekaligus ajang mempererat kebersamaan warga yang hadir.

Rambut Gimbal Tidak Dilarung, Disimpan untuk Kenang-Kenangan

Berbeda dengan sebagian tradisi ruwatan rambut gimbal yang melarung potongan rambut ke sungai atau tempat tertentu, keluarga Hanun memilih menyimpan rambut tersebut.

Baca juga  Dari Sampah Jadi Rupiah, Pemuda Banjarnegara Ubah Daun Nangka Kering Jadi Karya Seni

Potongan rambut diletakkan di atas kain putih dan disimpan sebagai kenang-kenangan. Keputusan itu ternyata merupakan permintaan langsung dari Hanun.

“Rambutnya sengaja disimpan karena Hanun ingin menjadikannya kenang-kenangan ketika sudah besar nanti,” ungkap Gino.

Orang Tua Berharap Hanun Tumbuh Sehat dan Berprestasi

Setelah prosesi ruwatan selesai, keluarga berharap Hanun dapat tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan memiliki masa depan yang baik.

Gino mengaku tidak memiliki harapan yang berlebihan selain melihat putrinya menjadi anak yang salehah, pintar, serta bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.

Sementara itu, Hanun tampak bahagia dengan penampilan barunya. Ia juga mengaku senang karena permintaannya mendapatkan sapi cokelat telah dipenuhi.

“Senang dapat sapi besar warna cokelat. Sapinya disembelih untuk dimasak dan dimakan banyak orang,” ujar Hanun dengan polos.

Tradisi ruwatan rambut gimbal yang masih lestari di sejumlah wilayah Banjarnegara menjadi salah satu kekayaan budaya lokal yang terus dijaga oleh masyarakat. Selain sarat nilai spiritual dan tradisi leluhur, ritual tersebut juga menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur dalam kehidupan masyarakat setempat.

*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.