Gus Mikh Banjarnegara : Jangan Jadikan ‘Ilmu Hati’ Sebagai Dalih Tinggalkan Syariat

Heri C
Gus Mikh. (Heri C)

Di tengah tren kajian tasawuf dan “ilmu menata hati” yang kian digemari, suara berbeda datang dari Pengasuh Ponpes Alifbaa Banjarnegara, Muhammad Mikhdlom Nihrir atau akrab disapa Gus Mikh.

Ia mengingatkan, jangan sampai umat tergoda melompat terlalu jauh mengejar mutiara hakikat tanpa lebih dulu menyiapkan kapal syariat.

“Lanjut usia, hidup belum mapan, tidak bisa jadi alasan untuk enggan memulai ngaji ilmu. Ilmu untuk ‘ndandani’ kualitas keimanan dan ibadah,” ujar Gus Mikh. Ilmu hal, terutama fiqih bukan sekadar pelengkap. Ia adalah fondasi. Tanpanya, ibadah berisiko rapuh.

Gus Mikh mencontohkan perkara mendasar seperti membaca Al-Fatihah dalam salat. Dalam fiqih, seseorang yang belum mampu membacanya diberi keringanan. Ia boleh mengganti dengan ayat lain, mengulang dzikir yang jumlah hurufnya setara, bahkan—dalam kondisi paling minimal—diam seukuran durasi bacaan Al-Fatihah.

Namun, tegasnya, keringanan itu tidak menggugurkan kewajiban belajar. “Ia tetap wajib mempelajari Al-Fatihah, meskipun harus menempuh jarak dan mengeluarkan biaya. Keringanan adalah jembatan darurat, bukan rumah tinggal,” katanya.

Baca juga  Gus Mikh Banjarnegara: Sejarah dan Keutamaan Nisfu Syaban di antaranya Pindahnya Kiblat Umat Islam dari Palestina ke Mekkah

 

Jangan Lompat Anak Tangga

Di kalangan tertentu, mengaji kitab dasar seperti Sullam atau Safinah kerap dianggap “kurang keren” dibanding mengkaji Ihya’ atau Hikam. Gus Mikh menyebut pola pikir ini keliru.

Dalam belajar agama, ada prasyarat. Ia menyebutnya sebagai Cania Citta, anak tangga yang harus dilalui tahap demi tahap.

“Kalau bab wudlu belum tahu, cara mandi junub saja belum benar, maka sangat tidak muqtadhol hal meminjam istilah guru saya, Kiai Dawam Afandi jika kemudian yang diajarkan kitab-kitab raksasa yang susah dicerna,” ujarnya.

Ilmu fiqih, lanjut dia, termasuk ilmu hal yang hukumnya fardlu ain atau wajib bagi setiap individu dan bersifat mendesak. Mengabaikannya demi terlihat ‘naik kelas’ dalam tasawuf justru berisiko menyesatkan diri sendiri.

 

Syariat Itu Kapal, Tarekat Itu Lautan

Gus Mikh mengibaratkan perjalanan spiritual seperti orang yang hendak mencari mutiara di dasar laut.

Ilmu tarekat adalah lautan. Ilmu hakikat adalah mutiaranya. Sedangkan ilmu syariat adalah kapal yang mengantar menuju tengah samudra. “Tidak memaksa diri berenang dari bibir pantai menuju tengah lautan. Jangan ambil risiko mencari mutiara tanpa menaiki kapal, jika tidak ingin mati konyol,” katanya.

Baca juga  Ini Penyebab Jembatan Penghubung Dua Desa di Banjarnegara Ambruk

Perumpamaan itu menegaskan, tasawuf tanpa syariat bukan kedalaman, melainkan kecerobohan.

Fenomena lain yang ia soroti adalah sikap apatis terhadap hukum halal-haram. Ungkapan seperti ‘yang penting hatinya, Bro’ atau ‘Allah Maha Baik, Bro’ menurutnya sering dijadikan pembenaran untuk mengabaikan aturan syariat.

Padahal, kata dia, melanggar aturan Allah adalah bentuk ketidakpatuhan. Bukan hanya membuat hati tak tertata, tapi juga merusak relasi dengan Tuhan. “Jika diterus-teruskan, hati bisa jadi remuk tak berbentuk. Jangan memaksa Allah untuk mengerti orang yang tak tahu diri,” ujarnya.

Pesan itu terasa keras, namun menjadi refleksi penting di tengah kecenderungan sebagian orang yang ingin meraih kedalaman spiritual tanpa menapaki fondasi syariat lebih dulu.

Bagi Gus Mikh, belajar fiqih bukan soal keren atau tidak. Ia soal taat atau lalai. Soal menyiapkan kapal, sebelum berlayar menuju samudra keimanan.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!