Gus Mikh Banjarnegara: Sejarah dan Keutamaan Nisfu Syaban di antaranya Pindahnya Kiblat Umat Islam dari Palestina ke Mekkah

Heri C
Gus Mikh menjelaskan tentang Nisfu Syaban. (Dokpri)

Nisfu Syaban 1447 Hijriah yang jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026, menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, taubat, dan muhasabah diri menjelang bulan suci Ramadan. Ulama muda Banjarnegara sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Alif Baa, Muhammad Mikhdlom Nihrir atau akrab disapa Gus Mikh, mengajak umat Islam memaksimalkan malam penuh ampunan tersebut.

Gus Mikh menjelaskan, Nisfu Syaban merupakan sebutan bagi pertengahan bulan Syaban dalam kalender Hijriah, tepatnya tanggal 15 Syaban 1447 H. Sementara itu, malam Nisfu Syaban dimulai sejak waktu Maghrib pada Senin malam, 2 Februari 2026, hingga terbit fajar keesokan harinya.

“Penetapan ini mengacu pada Kalender Hijriah Indonesia serta metode hisab dan rukyatul hilal yang digunakan lembaga keagamaan di Indonesia. Meski begitu, perbedaan pengamatan hilal di sejumlah daerah tetap memungkinkan adanya selisih penetapan,” kata Gus Mikh, Minggu (1/2/2026).

Menurutnya, bulan Syaban memiliki posisi strategis karena berada tepat sebelum Ramadan. Karena itu, Nisfu Syaban menjadi waktu yang tepat bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri secara spiritual.

Baca juga  Ada Tebak Skor Berhadiah Uang terkait Persak Kebumen, Buruan Ikut!

“Dengan mengetahui jadwal Nisfu Syaban, umat bisa lebih siap, baik dalam meningkatkan ibadah maupun memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sebelum memasuki Ramadan,” ujarnya.

Sejarah dan Makna Bulan Syaban

Secara historis, bulan Syaban juga mencatat peristiwa besar dalam sejarah Islam, salah satunya adalah pengalihan arah kiblat. Selama sekitar 17 bulan lebih tiga hari setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW dan para sahabat melaksanakan salat dengan menghadap Baitul Maqdis. Hingga akhirnya, Allah SWT menurunkan wahyu yang memerintahkan umat Islam menghadap Ka‘bah di Makkah.

“Peristiwa pengalihan kiblat tersebut terjadi pada malam Selasa yang bertepatan dengan Nisfu Syaban,” jelas Gus Mikh.

Dalam kitabnya, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dijelaskan bahwa kemuliaan suatu waktu tidak terletak pada zat waktunya, melainkan pada peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di dalamnya. Hal ini pula yang menjadikan bulan Syaban memiliki keistimewaan tersendiri.

Para ulama berbeda pendapat mengenai asal-usul penamaan Syaban. Pertama, berasal dari kata yata sya‘abu yang berarti bercabang-cabang, dimaknai sebagai banyaknya cabang kebaikan pada bulan tersebut. Kedua, berasal dari kata asy‘abu yang berarti jalan di gunung, sebagai simbol jalan kebaikan menuju Allah SWT. Ketiga, berasal dari kata asyabu yang berarti al-jabru atau menambal, yakni Allah SWT menambal dan memperbaiki hati hamba-Nya yang rusak serta menyempurnakan kekurangan amal.

Baca juga  Makna Isra Miraj 1447 H: Gus Mikh Banjarnegara Ajak Umat Jadikan Salat sebagai Penguat Iman di Era Modern

Nisfu Syaban: Malam Penuh Ampunan

Dalam tradisi dan pemahaman para ulama, malam Nisfu Syaban diyakini sebagai malam dibukanya pintu ampunan dan rahmat Allah SWT. Pada malam tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, dan taubat.

“Umat Muslim meyakini malam Nisfu Syaban sebagai malam rahmat, ketika Allah SWT melimpahkan kasih sayang-Nya dan mengangkat derajat orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam beribadah,” ujar Gus Mikh.

Ia menambahkan, keutamaan Nisfu Syaban tidak hanya terletak pada harapan ampunan dosa, tetapi juga sebagai sarana muhasabah atau evaluasi diri terhadap amalan selama setahun terakhir.

Tradisi dan Amalan yang Dianjurkan

Sejumlah amalan yang lazim dilakukan umat Islam pada malam Nisfu Syaban antara lain membaca surat Yasin sebanyak tiga kali, berdzikir, serta memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, umat juga dianjurkan melaksanakan salat sunnah dan qiyamul lail sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.

Pada siang harinya, umat Islam dapat melaksanakan puasa sunnah Nisfu Syaban yang bertepatan dengan 15 Syaban 1447 H atau 3 Februari 2026. Puasa ini juga termasuk dalam rangkaian puasa Ayyamul Bidh yang dilaksanakan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah.

Baca juga  Rutan Banjarnegara Jalin Kumunikasi Terkait Limbah Medis

Ajakan Memperbanyak Doa dan Taubat

Gus Mikh menekankan pentingnya memperbanyak doa pada momentum Nisfu Syaban, baik doa-doa yang diajarkan Rasulullah SAW maupun doa dengan bahasa sendiri.

“Momen ini sangat tepat untuk memohon ampunan atas dosa-dosa, meminta kesehatan, rezeki yang halal, serta kebaikan dunia dan akhirat,” katanya.

Ia berharap Nisfu Syaban tidak sekadar dipahami sebagai ritual tahunan, melainkan menjadi titik awal pembaruan niat dan tekad dalam menyambut Ramadan.

“Jadikan malam Nisfu Syaban sebagai kesempatan berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT dengan hati yang tulus dan penuh harap,” pungkas Gus Mikh.

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.