Getaran yang berulang kali dirasakan warga Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, sejak awal Februari 2026 dipastikan berasal dari aktivitas gempa mikro tektonik dangkal. Kepastian itu disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melalui laporan resmi Stasiun Geofisika Banjarnegara tertanggal 28 Februari 2026.
Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara, Hery Susanto Wibowo mengatakan, sebelumnya, warga Desa Bantar, Dusun Jomblang, dan Dusun Sasak melaporkan getaran terjadi berulang, bahkan pada puncaknya lebih dari lima kali dalam sehari. Sebagian getaran disertai suara dentuman dari dalam tanah.
“Namun, pada periode 9–18 Februari 2026, jaringan seismik regional BMKG hanya merekam lima kejadian gempa tektonik lokal dengan magnitudo antara 1,4 hingga 2,2 dan kedalaman 21–54 kilometer,” katanya, Selasa (3/3/2026).
Menurut Heri, untuk memastikan sumber getaran, tim Stasiun Geofisika Banjarnegara memasang tiga sensor portable pada 18–21 Februari 2026. Dua sensor jenis short period dan satu broadband ditempatkan di sekitar Desa Bantar dan Jomblang.
Dalam tiga hari pemantauan, tercatat 10 kejadian gempa mikro. Seluruhnya menunjukkan selisih waktu tiba gelombang P dan S (S-P) rata-rata sekitar 0,5 detik. Selisih yang pendek itu menandakan sumber gempa berada sangat dekat dengan lokasi sensor atau di bawah permukiman warga.
“Analisis spasial memperlihatkan tujuh dari sepuluh episenter membentuk klaster di sisi timur hingga tenggara titik pemasangan alat. Lokasi tersebut berjarak sekitar 2–3 kilometer dari jalur sesar dan lipatan geologi yang terpetakan di wilayah Wanayasa,” katanya.
Heri meminta agar masyarakat tenang, menghindari kepanikan saat merasakan getaran, serta menjauhi lereng curam mengingat morfologi wilayah Wanayasa yang berbukit. “Masyarakat jangan terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Gunakan informasi pada sumber resmi pemerintah,” katanya.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!




