AKSES jalan utama di Desa Karangnangka, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, terputus total setelah hujan deras memicu amblasnya badan jalan hingga kedalaman lebih dari lima meter. Akibat jalan amblas ini memaksa warga bersama relawan bergerak cepat membangun jalan darurat agar aktivitas masyarakat tetap bisa berjalan.
Kerusakan jalan terjadi sejak 5 Januari 2026, saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Pagentan dan memicu pergerakan tanah. Seiring waktu, kondisi jalan semakin memburuk hingga tidak dapat dilalui kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.
Ketua Forum Relawan Bencana (FRB) Kecamatan Pagentan, Wanidi, mengatakan jalan amblas ini membuat akses menuju sejumlah wilayah, termasuk RT 07 RW 01, terputus total.
“Jalan utama sudah benar-benar tidak bisa dilalui. Kedalamannya sekarang lebih dari lima meter, sehingga akses warga terputus total,” ujar Wanidi.
Jalan Amblas HIngga 5 Meter, Warga Bangun Akses Darurat Lewati Kebun
Demi membuka kembali akses bagi masyarakat setelah jalan amblas, warga bersama relawan bergotong royong membuat jalan darurat yang melewati kebun salak milik warga. Jalan sementara tersebut diharapkan dapat membantu mobilitas masyarakat, terutama pelajar dan petani, agar tidak harus menempuh jalur memutar yang jaraknya cukup jauh.
“Kami membuka dan membuat jalan darurat supaya warga tetap bisa beraktivitas. Jalan ini sangat dibutuhkan pelajar dan petani karena jalur utama sudah tidak bisa digunakan,” katanya.
Wanidi menambahkan, tanpa adanya jalan darurat, akibat jalan amblas tersebut warga harus memutar dengan jarak tempuh yang lebih panjang dan menyulitkan aktivitas harian.
Tanah Gerak Ancam Puluhan Rumah
Peristiwa amblasnya jalan ini merupakan dampak lanjutan dari fenomena tanah gerak yang melanda Desa Karangnangka. Pergerakan tanah dilaporkan kembali terjadi pada Senin (5/1/2026) dan mengancam sedikitnya 35 rumah warga. Sejumlah bangunan bahkan dilaporkan mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
Menurut Wanidi, gejala pergerakan tanah sebenarnya sudah terdeteksi sejak 24 Oktober 2025 lalu, setelah hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur wilayah tersebut.
“Awalnya masih bisa ditangani, tetapi tanah kembali bergerak dengan dampak yang lebih luas. Saat ini, khususnya pada ruas jalan warga, kedalamannya sudah mencapai lebih dari lima meter,” katanya.
Hingga kini, warga dan relawan masih terus memantau perkembangan pergerakan tanah sambil berharap adanya penanganan lebih lanjut dari pihak terkait untuk mengatasi risiko bencana susulan.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







