Mengawali tahun baru, SMP Negeri 2 Banjarmangu meneguhkan komitmen membangun lingkungan sekolah yang hangat, inklusif, dan berorientasi pada penguatan karakter. Tahun baru dimaknai sebagai momentum memperbarui semangat kebersamaan, baik di kalangan siswa, guru, maupun orang tua.
Kepala SMPN 2 Banjarmangu, Toto Raharjo mengatakan, di sekolah ini, hubungan antarsiswa tidak lagi sekadar dipandang sebagai pertemanan biasa. Para siswa didorong untuk saling melihat satu sama lain sebagai teman seperjuangan dalam menempuh proses belajar, menghadapi tantangan akademik, serta membangun karakter bersama.
“Semangat gotong royong, saling mendukung, dan empati menjadi nilai yang terus ditanamkan dalam keseharian. Prinsip tersebut menjadi bagian dari menumbuhkan rasa sayang, saling melindungi dan senasib sehingga menguatkan ikatan persaudaraan antar siswa,” katanya, Senin (5/1/2026).
Menurut Toto, perubahan pendekatan juga terlihat dari pola interaksi guru dan siswa. Pada waktu istirahat, guru dihimbau tidak hanya berdiam di ruang kantor. Mereka memilih hadir di tengah siswa, bercengkrama, berdialog santai, dan mendengarkan cerita para peserta didik. Cara ini dilakukan untuk menciptakan kedekatan emosional, sehingga guru tidak hanya dipandang sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teman dan pendamping.
“Kami ingin siswa merasa aman, nyaman, dan dihargai. Ketika guru hadir dan mau mendengarkan, hubungan menjadi lebih humanis dan pembelajaran pun berjalan lebih efektif,” ujarnya.
Peran orang tua pun menjadi bagian penting dalam ekosistem kebersamaan tersebut. Sekolah mendorong komunikasi yang terbuka antara guru dan orang tua agar pendidikan anak tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga mendapat dukungan penuh dari lingkungan keluarga.
“Dengan semangat tahun baru dan hari baru, SMPN 2 Banjarmangu berharap dapat terus menumbuhkan budaya sekolah yang ramah, kolaboratif, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang tumbuh bersama bagi seluruh warganya,” katanya.
Guru Bimbingan Konseling SMPN 2 Banjarmangu, Mustofa juga mengatakan, sekolah memang memiliki aturan baku dan mengikat seluruh kegiatan pendidikan.
“Kami menekankan kepada seluruh keluarga besar sekolah termasuk para siswa agar saling asah asih asuh serta tidak melakukan sesuatu hal yang bisa merugikan orang lain dan dirisendiri,” katanya.
Menurut Mustofa, gempuran tekhnologi melalui gadget (HP) harus bijak disikapi sehingga kemajuan tekhnologi bermanfaat positif bagi dunia pendidikan.
“Bulying atau kekerasan tidak hanya secara fisik melainkan juga melalui ketikan tangan atau medsos. Ini harus dipahami semua siswa, guru dan orang tua agar bijak dalam memanfaatkan kemajuan tekhnologi,” katanya.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







