Ubah Sampah Jadi Cuan! Cara Keren Warga Kalibening Banjarnegara Sulap Sisa Makanan Jadi Pakan Entok

Earlena
Kepala DPKPLH Banjarnegara (berkerudung) saat berbincang dengan Komunitas 'Ayuning Kalibening' terkait pemanfaatan sampah, Sabtu (30/12/2025).(dok. Heri C) ‎

Alih-alih menumpuk di TPA, sampah organik di tangan komunitas di Banjarnegara justru berubah menjadi pakan ternak bernilai ekonomi tinggi.

​Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPKPLH) pun terus pasang badan mengajak warga untuk disiplin memilah  sejak dari dapur sendiri.

​Kepala DPKPLH Banjarnegara, Herrina Indri Hastuti, menegaskan bahwa pemilahan antara yang organik dan non-organik adalah kunci. Yang organik seperti sisa makanan atau daun-daunan jangan langsung dibuang, karena punya potensi besar jika diolah kembali.

​”Masyarakat diimbau memisahkan sampah organik dan non-organik. Yang organik bisa jadi kompos atau pakan hewan. Sementara yang non-organik seperti plastik dan kaca dipilah lagi untuk didaur ulang,” ujar Herrina, Sabtu (3/1/2026).

​’Sakti’ Pakai Magot: Sampah Habis, Entok Gemuk

Praktik nyata pengelolaan salah satunya ditunjukkan oleh Komunitas Peduli Sampah ‘Ayuning Kalibening’. Ketua komunitas, Panca AS, mengungkapkan rahasia mereka menyulap limbah dapur menjadi pakan magot (larva Black Soldier Fly).

Baca juga  Pesona Candi Pandhawa Dieng: Lokasi Sakral Ritual Cukur Rambut Gimbal yang Berdiri di Atas Tanah Para Dewa

​Bukan sembarang ulat, magot ini dikenal sebagai ‘mesin’ pengolah limbah dapur organik paling efektif yang kemudian menjadi pakan super untuk ternak.

​”Magot sangat baik untuk pakan entok, bebek, hingga ikan. Kandungan proteinnya tinggi. Selain lingkungan jadi bersih, peternak bisa hemat biaya pakan yang selama ini mahal,” jelas Panca.

​Prosesnya pun terbilang cepat. Sampah rumah tangga yang dikumpulkan dicacah untuk pakan magot, dan dalam waktu 10-14 hari, magot sudah bisa dipanen untuk diberikan ke ternak.

​Lawan Banjir

​Selain mengedukasi soal ekonomi sampah, Pemkab Banjarnegara juga memberikan peringatan keras terkait kebiasaan buruk membuang sampah di sungai atau pinggir jalan.

​Herrina mengingatkan kebiasaan tersebut adalah bom waktu yang bisa memicu banjir dan pencemaran lingkungan. Ia berharap kesadaran warga tumbuh bukan karena paksaan, tapi karena memahami nilai manfaatnya.

​”Kita ingin lingkungan bersih, sehat, sekaligus ada peluang ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.