Di tengah gempuran inflasi dan naiknya harga bahan pangan, menjaga konsistensi harga sekaligus kualitas adalah tantangan besar bagi pelaku usaha kuliner.
Namun, hal ini berhasil dibuktikan oleh Nasi Goreng Oplos AAH, salah satu ikon kuliner legend Purwokerto yang telah berdiri selama lebih dari 25 tahun.
Kesetiaan mereka pada pelanggan tercermin dari riwayat harga yang tetap merakyat sejak pertama kali melayani warga Purwokerto pada akhir milenium lalu.
Sejarah dan Konsistensi Selama 27 Tahun
Didirikan pertama kali pada tahun 1999, Nasi Goreng Oplos AAH merupakan buah kerja keras Pak AAH bersama sang istri. Berbeda dengan pedagang kaki lima kebanyakan yang sering berpindah tempat, kedai ini justru dikenal karena loyalitasnya terhadap lokasi awal mereka berdiri.
“Dari dulu memang tidak pernah keliling, langsung buka di sini,” ujar Bu AAH, ketika diwawancarai tim seputarbanyumas.com, Sabtu (4/4/2026).
Konsistensi inilah yang membuat para alumni sekolah atau warga asli Purwokerto selalu merasa bernostalgia setiap kali berkunjung kembali ke kedai ini.
Nostalgia Harga: Dari 300 Perak hingga Era Digital
Mendiang suami, bersama sang istri memulai usaha ini dengan harga yang mungkin sulit dipercaya oleh generasi sekarang.
Pada masa awal pembukaannya, satu porsi nasi goreng ini hanya dibanderol seharga Rp300.
“Awal ya 300 perak, 300 perak kayaknya pas 99. Terus naiknya 400, naik 500, naik 700, naikkan 1.000, 1.250, ya pokoknya bertahap,” kenang Bu AAH.
Berdasarkan catatan perjalanannya, harga mulai menyentuh angka Rp1.000 sekitar tahun 2005, dan berada di kisaran Rp4.000 pada tahun 2015.
Kini, meski telah menjadi kuliner legendaris, Nasi Goreng Oplos AAH tetap mempertahankan prinsip harga terjangkau:
* *Porsi Biasa*: Rp7.000 (Tanpa Telur) / Rp10.000 (Dengan Telur).
* *Porsi 1,5*: Rp10.000 (Tanpa Telur) / Rp13.000 (Dengan Telur).
* *Porsi Double*: Rp13.000 (Tanpa Telur) / Rp16.000 (Dengan Telur).
* *Porsi Triple*: Rp19.000 (Porsi jumbo yang sudah tersedia sejak lama).
Rahasia Dapur: Teknik Memasak yang Unik
Bukan hanya soal harga, daya tarik utama kedai ini terletak pada proses pembuatannya yang khas. Menu andalan mereka, nasi goreng magelangan atau orang Jawa menyebutnya Nasi Goreng Mawut. Bahkan, bahasa Minang atau masyarakat Padang sering mengenalnya dengan Minas (Mie Nasi), dimasak dengan urutan yang berbeda dari biasanya.
Mie goreng diolah terlebih dahulu dengan racikan bumbu seperti gula, garam, dan saus tiram hingga meresap. Setelah mie matang sempurna, barulah nasi putih dimasukkan dan diaduk bersama kecap spesial asli Purwokerto.
Hasilnya adalah perpaduan rasa asin dan manis yang gurih, dengan aroma yang seringkali disebut mirip dengan kelezatan mie instan goreng.
Nasi Goreng Oplos AAH, Komitmen Menjaga Kualitas di Tengah Kenaikan Bahan Baku
Kenaikan harga bahan baku seperti cabai rawit atau beras tidak lantas membuat kedai ini panik dan menaikkan harga secara drastis. Sang pemilik menegaskan bahwa menjaga kualitas dan kepuasan pelanggan adalah prioritas utama.
“Ya enggaklah ya, tetap menjaga kualitas. Kalau mengikuti kayak gitu (kenaikan bahan baku) ya susah, barang matang kan lain sama barang mentah ya. Walaupun naik ya masih bertahanlah,” ujarnya.
Lokasi dan Informasi Operasional
Bagi Anda yang ingin mencicipi sensasi makan “Oplos” yang melegenda ini, Kedai Nasi Oplos AAH tetap setia berada di lokasi yang sama sejak 27 tahun silam tanpa pernah berpindah tempat atau berkeliling.

– Lokasi: Jalan Kombas Jl. Komisaris Bambang Suprapto Gg. 2, RT.002/RW.002, Mangunjaya, Purwokerto Lor, Kec. Purwokerto Tim., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 53114.
* Jam Operasional: 18.00 – 23.30 WIB (atau sampai habis).
* Menu Tambahan: Tersedia aneka sate-satean (bakso goreng, hati ampela) dan gorengan mulai dari Rp2.000.
* Kapasitas: Mampu menghabiskan sekitar 20 kg beras dan 280 bungkus mie goreng dalam satu malam.
Dengan sejarah panjang dan harga yang tetap ramah di kantong, Nasi Goreng Oplos AAH membuktikan bahwa dedikasi pada rasa dan pelanggan adalah kunci utama menjadi legenda kuliner di Purwokerto.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



