Beberapa Komoditas Penyumbang Inflasi Versi BPS Banyumas

Besari
Suasana High Level Meeting TPID di Smartroom Purwokerto, Selasa (10/03/2026). (Besari)

Dalam agenda High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang digelar di Smartroom Purwokerto pada Selasa (10/03/2026), Kepala BPS Kabupaten Banyumas, Fatichuddin, membedah dinamika ekonomi terkini. Data menunjukkan bahwa Purwokerto mencatatkan inflasi month to month sebesar 0,78% pada Februari 2026.

Fatichuddin merinci tiga komoditas utama yang mendongkrak inflasi, yakni Daging ayam ras: 0,14%, Cabai rawit: 0,13%, dan Emas perhiasan: 0,11%.

Di sisi lain, terdapat beberapa sektor yang menyumbang deflasi, di antaranya bensin (-0,05%), wortel (-0,01%), serta bawang putih (-0,01%).

Dia juga menggarisbawahi bahwa lonjakan permintaan pada kelompok makanan dan tembakau saat ini merupakan yang tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

“Bahwa pada Februari 2026, Purwokerto mengalami inflasi month to month sebesar 0,78 persen, berbeda dengan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi,” katanya.

Peningkatan angka inflasi ini tidak lepas dari pertemuan dua momen besar yang meningkatkan konsumsi masyarakat.

“Kondisi ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan akibat dua momentum besar, yakni libur bersama Tahun Baru Imlek pada minggu kedua Februari serta awal Ramadan pada minggu ketiga Februari,” kata Fatichuddin.

Baca juga  Hari Jadi ke-455 Banyumas, Ini Beragam Rangkaian Acaranya

Selain aspek permintaan, kendala dari sisi suplai juga turut memperkeruh situasi. Curah hujan yang tinggi diketahui menghambat produksi hortikultura. Hal ini diperparah dengan belum tibanya masa panen raya, yang mengakibatkan harga beras di tingkat pedagang mulai merangkak naik.

Rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti, ini menjadi wadah strategis bagi jajaran Forkopimda. Wabup menekankan bahwa stabilitas keamanan dan ketahanan pangan adalah prioritas utama untuk menjaga kondusifitas daerah menjelang hingga sesudah Lebaran.

Menghadapi situasi ekonomi global yang fluktuatif, Lintarti meminta seluruh pemangku kepentingan untuk tetap waspada dan proaktif dalam berkomunikasi.

“Mengingat kondisi global yang saat ini tidak stabil, seluruh jajaran pemangku kepentingan diharapkan meningkatkan kewaspadaan,” ujar Lintarti.

Beliau juga menambahkan pentingnya deteksi dini terhadap setiap hambatan distribusi maupun stok pangan di lapangan.

“Setiap sektor diharapkan mampu mengidentifikasi potensi kendala secara dini dan memastikan koordinasi lintas sektor berjalan optimal,” jelasnya.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!

Baca juga  Bukan Mitos, Pohon Berusia Ratusan Tahun di Banjarnegara Berbuah 15 Varian Durian Unggulan