Antisipasi Kemarau El Nino 2026, Cilacap Genjot Percepatan Tanam dan Optimalkan Air

Faiz Ardani
Petani di Cilacap sedang memanen padi. (Faiz Ardani).

Pemerintah Kabupaten Cilacap mulai tancap gas menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino pada 2026. Sejumlah strategi disiapkan, mulai dari percepatan masa tanam hingga pengelolaan sumber daya air secara maksimal.

Langkah ini dilakukan seiring prakiraan musim kemarau yang diprediksi mulai berlangsung pada Mei mendatang. Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian berupaya memastikan produksi pangan tetap stabil meski dihadapkan pada ancaman berkurangnya curah hujan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, mengatakan berbagai upaya mitigasi sudah mulai dijalankan sejak dini. Hal ini penting agar sektor pertanian tidak terdampak signifikan oleh kondisi cuaca ekstrem.

“Langkah antisipasi sudah kami siapkan, terutama percepatan tanam dan optimalisasi penggunaan air agar produksi tetap terjaga,” ujarnya.

 

Produksi Padi Tinggi, Stok Beras Masih Surplus

Di tengah ancaman El Nino, kondisi ketahanan pangan di Cilacap sejatinya masih cukup aman. Berdasarkan data Dinas Pertanian, luas baku sawah di wilayah ini mencapai 67.031 hektare.

Baca juga  Topang Ekonomi Jateng, SBI Edukasi Warga Cilacap Soal Risiko Area Tambang

Sepanjang tahun 2025, realisasi luas panen padi bahkan mencapai 132.681 hektare dengan produktivitas rata-rata 64,44 kuintal per hektare. Dari capaian tersebut, total produksi padi diperkirakan menyentuh angka 855.042 ton dalam bentuk gabah kering giling (GKG).

Jika dikonversikan menjadi beras konsumsi, jumlahnya setara sekitar 507.438 ton. Angka ini jauh melampaui kebutuhan beras masyarakat Cilacap yang berada di kisaran 185.583 ton.

“Dengan kondisi tersebut, Cilacap masih mengalami surplus beras sekitar 321.854 ton,” jelas Sigit.

Sejumlah kecamatan seperti Kedungreja, Gandrungmangu, Kawunganten, Majenang, dan Wanareja menjadi sentra produksi padi utama yang menopang capaian tersebut.

 

Target 2026 Ditingkatkan, Percepatan Tanam Digenjot

Memasuki 2026, Dinas Pertanian menargetkan luas panen padi meningkat menjadi 136.335 hektare dengan estimasi produksi mencapai 834.712 ton.

Sementara itu, target Luas Tambah Tanam (LTT) padi pada Maret 2026 ditetapkan sebesar 9.342 hektare. Namun hingga 30 Maret, realisasi baru mencapai 6.465 hektare atau sekitar 69,20 persen.

Kondisi ini mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat masa tanam di berbagai wilayah. “Percepatan tanam menjadi langkah penting untuk mengejar sisa curah hujan sebelum memasuki puncak kemarau,” jelasnya.

Baca juga  Waspada, BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal !

 

Optimalisasi Sumber Air Jadi Kunci

Selain percepatan tanam, strategi lain yang dilakukan adalah mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya air. Berbagai sumber air alternatif diidentifikasi, mulai dari embung, dam parit, sumur dalam, sumur resapan, hingga sistem irigasi perpompaan dan perpipaan.

Pengelolaan jaringan irigasi dari tingkat primer hingga kuarter juga terus diperkuat guna memastikan distribusi air tetap berjalan optimal.

Sigit menyebut, hingga saat ini belum ada rencana pengeringan saluran irigasi di Daerah Irigasi (DI) Serayu maupun DI Menganti. Hal ini menjadi kabar baik bagi petani karena suplai air diperkirakan masih relatif aman dalam waktu dekat.

 

Petani Didorong Gunakan Varietas Tahan Kekeringan

Dalam menghadapi potensi kekeringan akibat El Nino, petani juga didorong untuk menyesuaikan pola tanam sesuai kondisi iklim. Selain itu, penggunaan varietas padi tahan kekeringan seperti Inpari 11, 18, 19, 20, hingga Inpari 46 mulai disosialisasikan.

Tak hanya itu, varietas berumur genjah seperti Inpari 6, 12, dan Cakrabuana juga dianjurkan guna mempercepat masa panen dan meminimalkan risiko gagal panen.

Baca juga  Jadwal Lengkap Wijayakusuma FC di Ajang Liga 4 Jateng 

“Selain percepatan tanam, kami juga memastikan kesiapan alat dan mesin pertanian serta pengendalian organisme pengganggu tanaman,” tambahnya.

 

Perkuat Sinergi Menuju Ketahanan Pangan

Pemerintah daerah juga terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya mendorong percepatan tanam sekaligus menjaga ketahanan pangan berkelanjutan di Kabupaten Cilacap.

Dengan berbagai strategi tersebut, Cilacap diharapkan mampu menghadapi dampak El Nino tanpa mengganggu stabilitas produksi pangan, sekaligus mempertahankan status sebagai daerah surplus beras di Jawa Tengah.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!