Banjir Rendam 530 Hektare Sawah di Cilacap, Produksi Padi Dipastikan Aman. Curah hujan yang tinggi dalam beberapa pekan terakhir mulai memunculkan ancaman serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Cilacap. Sejumlah wilayah, terutama Kecamatan Wanareja, mengalami banjir yang merendam kawasan pemukiman hingga areal persawahan.
Banjir Dipicu Intensitas Hujan Tinggi
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, menyatakan bahwa tingginya intensitas hujan memicu genangan di lahan pertanian warga.
“Dampak dari musim penghujan yang akhir-akhir ini intensitasnya sangat tinggi itu berdampak banjir di mana-mana, salah satunya di wilayah Wanareja, beberapa desa terendam termasuk di dalamnya adalah areal persawahan kita,” ungkapnya.
Tanaman padi yang terdampak bervariasi. Ada yang baru berumur 7–14 hari setelah tanam, bahkan sebagian masih dalam tahap pesemaian. Kondisi ini tentu membuat tanaman semakin rentan mati apabila banjir tidak segera surut.
Dari hasil pendataan awal, luas sawah yang terendam banjir mencapai 530 hektare. “Kalau ini berlarut tanpa surut-surut ya kemungkinan besar pertanamannya menjadi mati,” jelas Sigit.
Meski demikian, ia menegaskan capaian Luas Tambah Tanam (LTT) masih sesuai target. Dari target bulan ini 21 ribu hektare, realisasi sebelumnya mencapai 14.800 hektare. Namun, luasan ini kembali tergerus akibat banjir di Wanareja.

Banjir Lumpur Longsor Majenang Ikut Timbulkan Kerugian
Selain banjir, bencana longsor di Cibeunying, Majenang juga menimbulkan dampak pada sektor pertanian. Aliran lumpur menutup sawah seluas 2,73 hektare, dengan tanaman yang rata-rata berusia dua minggu.

Kerugian ekonomi turut dihitung
Sigit menjelaskan bahwa dengan produktivitas 3 ton per hektare dan harga gabah Rp6.500 per kilogram, sawah terdampak longsor berpotensi menimbulkan kerugian sekitar:
– Rp53 juta untuk satu kali musim tanam
– Rp106 juta untuk dua kali musim tanam
Saat ini, kondisi lahan masih setengahnya tidak dapat digunakan karena tebalnya lumpur. Pemulihan diproyeksikan dengan mengangkat dan memindahkan lumpur untuk mengembalikan fungsi lahan sebagai sawah.

Upaya Pemulihan dan Optimisme Produksi
Dinas Pertanian bersama lintas sektor kini melakukan inventarisasi lahan terdampak banjir dan longsor. Opsi penyediaan benih ulang dipersiapkan apabila situasi telah memungkinkan untuk tanam kembali.
Koordinasi dengan BBWS juga dilakukan agar penanganan terhadap tanggul jebol dapat dipercepat, sehingga limpasan air ke persawahan tidak lagi terjadi.
Meski banyak tantangan, Sigit tetap optimistis bahwa produktivitas padi Cilacap tak akan terganggu secara signifikan.
“Produksi padi di Kabupaten Cilacap Alhamdulillah masih cukup bagus dan prediksi kami masih bisa surplus 280 ribu sampai 300 ribu ton di tahun 2025,” tegasnya.
Dengan total 66 ribu hektare lahan baku sawah yang sebagian besar panen dua kali setahun, Dinas Pertanian berharap produktivitas masih bisa digenjot, terutama dengan mendorong wilayah yang sebelumnya hanya panen satu kali menjadi dua kali atau lebih.
“Mudah-mudahan sawah bisa segera pulih kembali dan surplus tadi masih bisa ter-cover,” harapnya.





