Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Cilacap. Menurunnya debit sumber air membuat sebagian masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Untuk membantu warga yang terdampak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap mulai mendistribusikan bantuan air bersih ke dua desa yang mengalami kekurangan pasokan air. Total sebanyak 8.000 liter air telah disalurkan guna memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Taryo, mengatakan hingga saat ini sudah ada dua desa yang mengajukan permohonan bantuan air bersih kepada pemerintah daerah, yakni Desa Kedungbenda di Kecamatan Nusawungu dan Desa Karangkemiri di Kecamatan Jeruklegi.
“Permohonan dari kedua desa sudah kami tindak lanjuti. Untuk Desa Kedungbenda sudah kami kirim sekitar 3.000 liter air bersih, sedangkan hari ini kami menyalurkan satu tangki berkapasitas 5.000 liter ke Desa Karangkemiri,” kata Taryo, Jumat (12/6/2026).
Desa Langganan Kekeringan Saat Kemarau
Menurut Taryo, kedua desa tersebut memang termasuk wilayah yang hampir setiap tahun mengalami persoalan kekurangan air bersih ketika musim kemarau tiba.
Di Desa Kedungbenda, warga menghadapi persoalan menurunnya debit air sumur saat hujan tidak turun dalam waktu lama. Kondisi tersebut diperparah dengan kualitas air yang menjadi payau sehingga kurang layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau di Kedungbenda, saat kemarau panjang debit air sumur turun dan airnya menjadi payau. Dari sisi kesehatan tentu kurang memenuhi syarat sehingga perlu bantuan air bersih,” ujarnya.
Sementara di Desa Karangkemiri, keterbatasan sumber air juga menjadi persoalan yang terus berulang setiap musim kemarau. Karena itu, bantuan air bersih rutin diberikan guna memenuhi kebutuhan warga.
Taryo berharap bantuan yang telah disalurkan mampu mencukupi kebutuhan dasar masyarakat hingga kondisi sumber air kembali membaik.
BPBD Siaga Hadapi Potensi Kekeringan di 105 Desa
BPBD Cilacap memperkirakan permohonan bantuan air bersih masih akan bertambah seiring berlangsungnya musim kemarau. Berdasarkan data yang dimiliki BPBD, terdapat sekitar 105 desa dan kelurahan di Kabupaten Cilacap yang berpotensi terdampak kekeringan dan kekurangan air bersih.
Meski demikian, pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan tidak seluruh wilayah yang berpotensi terdampak akhirnya mengajukan bantuan.
“Dari sekitar 105 desa dan kelurahan yang berpotensi terdampak, pada tahun 2024 sebelumnya hanya sekitar 45 desa yang mengajukan bantuan air bersih dan semuanya bisa kami layani,” jelas Taryo.
Untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan air bersih, BPBD telah menyiapkan armada tangki air dan personel di sejumlah wilayah. Empat Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Majenang, Sidareja, Kroya, dan kantor induk BPBD telah disiagakan guna mempercepat distribusi bantuan.
Gandeng Perusahaan hingga PMI
Selain mengandalkan anggaran pemerintah daerah, BPBD juga telah berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan air bersih apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.
“Kami sudah berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan di Cilacap, Baznas, PMI, dan berbagai pihak lainnya. Jika kebutuhan meningkat dan anggaran tidak mencukupi, kami berharap bisa mendapatkan dukungan bersama,” tutur Taryo.
Ia menegaskan BPBD siap merespons setiap permohonan bantuan yang diajukan masyarakat melalui pemerintah desa. Menurutnya, kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus segera dipenuhi.
“Pada prinsipnya, seberapa pun kebutuhan yang ada, kami akan berupaya mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat. Begitu ada permohonan resmi dari desa, kami akan segera menindaklanjuti dan melakukan dropping air ke lokasi,” tegasnya.
BPBD juga mengimbau desa-desa yang berpotensi terdampak kekeringan untuk menyiapkan tempat penampungan air berkapasitas besar agar proses distribusi bantuan dapat berlangsung lebih cepat dan menjangkau lebih banyak wilayah.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!



