Cilacap Jadi Prioritas Program INEY Fase II, Prevalensi Stunting Turun Signifikan Jadi 15,6 Persen

Earlena
Pemkab Cilacap menggelar Rapat Koordinasi Lintas Sektor Kegiatan Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Aula Bappeda Kabupaten Cilacap.(Foto: Diskominfo Cilacap)

​Pemerintah Kabupaten Cilacap terus menujukkan komitmen kuat dalam mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Melalui penguatan koordinasi lintas sektor, Pemkab Cilacap menggelar Rapat Koordinasi Lintas Sektor Kegiatan Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Aula Bappeda Kabupaten Cilacap.

​Kegiatan strategis ini merupakan tindak lanjut nyata dari program Indonesia Nutrition Early Years (INEY) Fase II. Program nasional tersebut menempatkan Kabupaten Cilacap sebagai salah satu daerah prioritas utama dalam upaya percepatan penurunan angka stunting di tanah air.

​Kepala Bappeda Kabupaten Cilacap, Imam Jauhari, saat membuka rakor mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Cilacap saat ini berada di angka 15,6 persen. Angka ini menunjukkan tren positif dan penurunan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang menyentuh 18,5 persen.

​”Capaian Kabupaten Cilacap ini tercatat lebih baik jika dibandingkan dengan rata-rata prevalensi stunting di Provinsi Jawa Tengah sebesar 17,7 persen, maupun di tingkat nasional yang masih mencapai 19,8 persen,” ujar Imam Jauhari.

Baca juga  Bupati Amalia Tegaskan Stunting Bukan Sekadar Soal Ekonomi, Pola Asuh Jadi Penentu

​Ia menambahkan, lewat penguatan koordinasi dan kolaborasi aktif lintas sektor, jajaran Pemkab Cilacap optimistis dapat terus menekan angka stunting serendah mungkin ke depannya.

​Rakor ini turut menghadirkan narasumber berkompeten dari berbagai lini, di antaranya Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Poltekkes Surakarta, serta Dinas Kesehatan KB Kabupaten Cilacap. Sebanyak 40 peserta dari berbagai instansi tampak hadir, termasuk para camat, kepala puskesmas, hingga Ketua TP PKK Kabupaten Cilacap.

​Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Percepatan dan Penurunan Stunting Direktorat Gizi KIA Kementerian Kesehatan RI, Dakhlan Choeron, memaparkan arah kebijakan dan strategi penguatan intervensi spesifik. Ia menegaskan bahwa strategi tahun 2026 ini akan difokuskan secara masif pada pemenuhan serta perbaikan gizi bagi ibu hamil dan balita.

​“Dengan dukungan semua pihak, target penurunan stunting dapat dicapai lebih cepat. Kami berharap Cilacap dapat menjadi model bagi kabupaten lain,” tegas Dakhlan.

​Dukungan serupa juga datang dari tingkat provinsi. Ketua Kelompok Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Edy Purwanto, mengingatkan kembali bahwa stunting adalah masalah multidimensi yang membutuhkan penanganan bersama.

Baca juga  Pemkab Cilacap Gelar Rembug Stunting 2025: Dorong Kolaborasi dan Komitmen Nyata Tekan Angka Stunting

​“Stunting bukan hanya masalah sektor kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan sektor pendidikan, sosial, dan pembangunan. Karena itu, kerja sama lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan,” kata Edy.

​Sementara dari sisi akademis, Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Surakarta, Sih Rini Handajani, menyoroti pentingnya peran tenaga kesehatan serta sokongan dunia pendidikan demi memastikan program di lapangan berjalan tepat sasaran.

​“Kami siap mendukung penuh melalui riset dan penyediaan tenaga ahli agar intervensi gizi dan kesehatan di Cilacap lebih presisi. Pendidikan tenaga kesehatan juga akan kami arahkan untuk memperkuat program penurunan stunting ini,” pungkas Sih Rini.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!