Hutan Payau Cilacap: Eksotisme Sunset di Balik Kurang Terawatnya Infrastruktur

Kurnia
Keindahan sunset tersembunyi di Hutan Payau Cilacap, meskipun dibayangi kurang terawatnya fasilitas dan infrastruktur yang ada. (Foto: visitjawatengah.jatengprov.go.id)

Kabupaten Cilacap memiliki permata hijau di pesisir utara yang dikenal sebagai Wisata Hutan Payau. Berlokasi tepat di Beji Lor, Tritih Kulon, Kec. Cilacap Utara, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, destinasi ini merupakan perpaduan antara benteng alam dan lokasi rekreasi.

Namun, di balik pesona matahari terbenamnya yang memikat, kondisi terkini kawasan ini mulai memprihatinkan akibat kurangnya perawatan infrastruktur.

Sejarah Singkat Hutan Payau dan Peran Penting Perhutani

Hutan Payau Cilacap bukan sekadar tempat wisata biasa. Sejarah mencatat bahwa kawasan ini mulai dikembangkan secara intensif sejak tahun 1978 melalui tangan dingin Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Barat.

Awalnya, fokus utama area ini adalah sebagai lahan konservasi mangrove dan penahan abrasi di pesisir selatan Jawa.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1990-an, kawasan seluas kurang lebih 10 hektar ini mulai dibuka untuk umum sebagai obyek wisata alam. Tetapi, baru dijadikan hutan kota berdasarkan keputusan Bupati Cilacap, pada tanggal 2 Maret 2009.

Baca juga  HIPMI Raya Cilacap 2025 Kolaborasi Inspiratif Wirausaha Muda

Tujuannya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

Keberhasilan konservasi di sini menjadikannya salah satu hutan mangrove paling rimbun dan terlengkap di wilayah Barlingmascakeb.

Keanekaragaman Jenis Pohon Mangrove

Sebagai pusat edukasi, Hutan Payau Tritih Kulon menyimpan kekayaan botani yang luar biasa. Berdasarkan data teknis, terdapat berbagai jenis pohon mangrove yang tumbuh subur dan menjadi habitat bagi biota laut serta burung-burung lokal.

Beberapa jenis yang mendominasi kawasan ini antara lain:

* Rhizophora Mucronata (Bakau Hitam): Dikenal dengan akar tunjangnya yang kuat untuk menahan gelombang.
* Bruguiera Gymnorrhiza (Tanjang): Pohon yang memiliki bunga merah ikonik.
* Avicennia Marina (Api-api): Jenis yang sangat toleran terhadap kadar garam tinggi.
* Xylocarpus Granatum (Nyiri): Mangrove yang memiliki buah berbentuk bulat besar.

Kehadiran jenis-jenis pohon ini menciptakan kanopi hijau yang sangat rapat, memberikan oksigen murni sekaligus suasana sejuk yang sulit ditemukan di area perkotaan Cilacap.

Golden Hour: Titik Terbaik Menikmati Senja

Daya tarik utama yang tak terbantahkan dari Wisata Cilacap ini adalah pemandangan sunset-nya. Ketika pengunjung berhasil mencapai ujung jalur trekking yang mengarah ke dermaga atau perairan terbuka, mereka akan disuguhi panorama langit jingga yang memukau.

Baca juga  Terinspirasi Guru Muchtar, Sekda Jateng Susuri Sekolah Terluar di Cilacap

Pantulan cahaya matahari di atas permukaan air payau yang tenang menciptakan siluet pepohonan mangrove yang estetik.

Saat air laut surut, hamparan lumpur di sekitar hutan memberikan tekstur visual yang unik, menambah daya tarik bagi para pecinta fotografi.

Banyak pengunjung sengaja datang pada sore hari hanya untuk mengabadikan momen golden hour ini, yang sering kali disebut sebagai salah satu titik sunset terbaik di Cilacap.

Sorotan Fasilitas: Catatan dari Media Sosial

Sayangnya, pengalaman estetis tersebut kini dibayangi oleh tantangan infrastruktur yang kurang memadai. Hal ini sempat menjadi sorotan di media sosial, salah satunya oleh akun TikTok @retnobdtm_11.

Melalui unggahannya, terlihat jelas kontras antara keindahan alam dengan kondisi fisik bangunan yang mulai rusak.

Jalur trekking yang membelah hutan bakau terpantau retak, berlumut, bahkan beberapa bagian jembatannya mulai lapuk dan tidak stabil. Pengunggah menggambarkan bahwa meski pemandangannya luar biasa, kawasan ini terkesan kurang terurus dan sepi, seolah kehilangan perhatian dari pengelola.

Kerusakan ini tidak hanya mengurangi kenyamanan estetika, tetapi juga berisiko bagi keamanan pengunjung, terutama orang tua yang membawa anak-anak.

Baca juga  Pemkab Cilacap Resmikan Command Center, Aduan Warga Ditargetkan Tuntas 2x24 Jam

Urgensi Revitalisasi dan Harapan Masa Depan

Dengan tiket masuk yang sangat ekonomis, yakni Rp7.500 per orang, potensi kunjungan sebenarnya sangat tinggi. Akan tetapi, tanpa adanya perbaikan rutin, kekayaan hayati dan sejarah panjang Hutan Payau ini bisa kehilangan daya tariknya.

Dibutuhkan sinergi kembali antara pihak pengelola dan pemerintah daerah untuk melakukan revitalisasi jalur trekking serta pemeliharaan gazebo.

Hutan Payau Cilacap adalah warisan hijau yang berharga. Jika dirawat dengan standar yang “proper”, destinasi ini bukan hanya menjadi tempat melihat sunset, tetapi tetap menjadi pusat edukasi mangrove yang membanggakan bagi warga Jawa Tengah.

*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami