Keren! Olahan Limbah Pisang Karya Novita Berhasil Menjangkau Pasar Eropa

Faiz Ardani
Produk limbah pohon pisang disulap jadi kerajinan bernilai ekspor. (Kilang Cilacap).

Pandemi Covid-19 menjadi ujian berat bagi banyak keluarga. Bagi Novita Hermawan bersama sang suami, Rudi Hermawan, masa tersebut bukan sekadar cobaan, melainkan titik balik yang mengubah arah hidup mereka.

Ketika perusahaan tempat Rudi bekerja, salah satu anak usaha BUMN, terdampak situasi pandemi, ketidakpastian pun menghantui perekonomian keluarga. Kondisi itu memaksa mereka mengambil keputusan besar yang penuh risiko, yakni kembali ke kampung halaman di Desa Selang, Kabupaten Kebumen.

Kepulangan mereka bukan sekadar untuk bertahan, tetapi menjadi awal perjuangan baru. Berbekal semangat, keberanian, serta keinginan kuat untuk bangkit, pasangan ini memilih memulai usaha dari nol sambil menggali potensi lokal yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.

Usaha pertama mereka di bidang mina padi belum membuahkan hasil. Hari-hari dilalui dengan penuh perhitungan, kekhawatiran namun tekad pantang menyerah. Hingga suatu hari, Novita mulai memandang lingkungan sekitarnya dengan cara berbeda.

Di desanya, pohon pisang tumbuh melimpah. Namun pelepahnya yang dianggap tak berguna sering dibiarkan membusuk atau dibakar. Bagi banyak orang, itu hanyalah limbah. Namun bagi Novita, itu adalah peluang yang menunggu untuk dihidupkan.

Dengan ketekunan dan semangat belajar mandiri, Novita dan Rudi mulai menelusuri pemanfaatan serat pelepah pisang dari berbagai negara. Mereka mempelajari tren produk ramah lingkungan, menggali potensi pasar, dan bereksperimen tanpa lelah. Dari tangan mereka, limbah pelepah pisang mulai diolah yang sebelumnya dikumpulkan dari petani, dipilah, dikeringkan, lalu dipintal menjadi tali serat alami bernilai tinggi.

Baca juga  Hari Ke-6 Pencarian, Penambang Pasir Tenggelam di Serayu Cilacap Masih Misterius

Perjalanan tidak selalu mulus. Banyak kegagalan, trial and error, serta hari-hari panjang yang menguji kesabaran. Namun keyakinan mereka sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar bisnis membuat mereka terus melangkah.

Lahirnya Agromina Fiber Indonesia menjadi bukti bahwa inovasi dapat tumbuh dari desa, dan mimpi besar tidak mengenal batas geografis. Produk-produk seperti keranjang laundry, dekorasi dinding, dan kap lampu buatan tangan para perajin mulai mendapat tempat di hati konsumen.

Tak hanya di dalam negeri, karya Agromina perlahan menembus pasar internasional mulai dari Nigeria, Dubai, Chile, Argentina, Belgia, Selandia Baru, hingga Amerika Serikat. Setiap pengiriman ke luar negeri bukan hanya transaksi bisnis, tetapi juga simbol bahwa kerja keras dari desa kecil di Kebumen mampu diakui dunia.

Pada 2021, Novita dan Rudi resmi mendirikan PT Agromina Fiber Java Indonesia, sebuah perusahaan yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga membawa misi sosial dan lingkungan. Dengan prinsip zero waste, sisa pelepah pisang yang tidak terpakai kembali diolah menjadi bio-leather atau vegan leather, memperluas nilai guna sekaligus mengurangi dampak lingkungan.

Baca juga  Panen Perdana Melon Golden Aroma Bersama Warga Pesisir Cilacap

Namun, keberhasilan Agromina tidak hanya diukur dari angka penjualan. Saat ini, Agromina memberdayakan sekitar 170 perajin, dengan 70 persen di antaranya perempuan, yang tersebar di Kebumen, Purworejo, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.

Banyak dari mereka adalah ibu rumah tangga yang kini memiliki penghasilan sendiri, membantu ekonomi keluarga, sekaligus menemukan rasa percaya diri dan kemandirian.

Sistem klaster yang diterapkan memungkinkan para perajin tetap bekerja dari rumah, sembari menjaga kualitas dan konsistensi produksi. Setiap anyaman, setiap produk, menyimpan cerita tentang ketekunan, kebanggaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Keseriusan Agromina dalam menjaga kualitas tercermin dari kepemilikan sertifikasi ISO 14001 untuk manajemen lingkungan dan ISO 9001 untuk manajemen mutu, serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Perusahaan juga membangun sistem traceability dan geotagging sebagai langkah strategis untuk menembus pasar Eropa, membuktikan bahwa UMKM desa pun mampu memenuhi standar global.

Pada 2025, Agromina masuk 10 besar Pertapreneur Aggregator tingkat nasional dalam program Pertamina UMK Academy, dengan pertumbuhan omzet lebih dari 100%. Sebuah pencapaian yang bukan hanya membanggakan, tetapi juga mengukuhkan bahwa ketekunan dan keberanian bermimpi dapat membuka pintu-pintu baru.

Baca juga  Tiga Napiter Rutan Cikeas Dipindahkan ke Lapas Karanganyar Nusakambangan, Prosedur Ketat Dijalankan

Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Cilacap, Sunaryo Adi Putra menyebut kisah Novita & Rudi Hermawan sebagai inspirasi bagi banyak pelaku UMKM.

“Agromina menunjukkan bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi produk bernilai tinggi dan berdaya saing global. Ini sejalan dengan komitmen Pertamina untuk menyebarkan energi dalam pemberdayaan masyarakat,” ujar Sunaryo Adi.

Menurutnya, Kilang Cilacap secara konsisten memberikan pendampingan, dukungan permodalan, serta membuka akses pameran dan pasar ekspor, agar UMKM binaan tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh mandiri dan berkelanjutan.

Di balik kesuksesan Agromina, ada cerita tentang keberanian mengambil risiko, kesabaran melewati kegagalan, dan kecintaan pada lingkungan serta komunitas.

Dari pelepah pisang dianggap sampah, Novita membuktikan bahwa harapan bisa tumbuh di tempat yang tak terduga. Dari desa kecil yang mengoptimalkan potensi kearifan lokal mampu melahiran karya yang membanggakan di level global.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!