GEMA sholawat yang kerap digelorakan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) dinilai telah menjadi inspirasi lahirnya gerakan sholawat yang semakin menguat di Jawa Tengah. Shalawat dipandang bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan kebutuhan umat untuk menjaga moral dan keberkahan hidup.
Penilaian tersebut disampaikan tokoh PPP Jawa Tengah, Masruhan Samsurie, saat memberikan sambutan dalam acara Al Ikhlas Bersholawat bersama Al Habib Anis bin Idrus Syahab, dalam rangka Harlah ke-53 PPP, di Desa Tengaran, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.
Gerakan Sholawat Disebut Lanjutkan Spirit Mbah Maemoen
Masruhan menyebut Gus Yasin sebagai motor penggerak gema sholawat di Jawa Tengah, melanjutkan spirit dakwah dan keteladanan KH Maimoen Zubair (Mbah Maemoen). Gerakan Sholawat di Jawa Tengah ini juga menjadikan semangat dalam menuju keberkahan hidup.
“Saya melihat Gus Yasin menjadi penggerak, motor dari gema shalawat di Jawa Tengah, sebagaimana yang dahulu digelorakan Mbah Maemoen,” ujarnya.
Menurutnya, gerakan sholawat memiliki peran penting sebagai penyangga moral kehidupan masyarakat. Selama shalawat terus dikumandangkan, harapan akan kehidupan yang lebih baik dan penuh keberkahan akan tetap terjaga.
“Shalawat adalah kebutuhan umat. Dalam menghadapi berbagai tantangan, semua amal akan menjadi lebih baik dan sempurna jika disertai shalawat,” katanya.
Gus Yasin Ajak Umat Dekatkan Diri kepada Allah Lewat Shalawat
Dalam sambutannya, Gus Yasin mengajak masyarakat Jawa Tengah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui shalawat, terlebih dalam doa-doa yang dilakukan secara bersama-sama di ruang terbuka.
Ia mencontohkan kisah Nabi Musa AS yang mengajak umatnya berdoa di alam terbuka saat menghadapi kemarau panjang.
“Nabi Musa AS pernah berdoa bersama umatnya di alam terbuka, memohon ampun dan pertolongan Allah saat menghadapi kesulitan,” katanya.
Melalui taubat dan doa bersama tersebut, Allah SWT kemudian mengabulkan permohonan Nabi Musa dan kaumnya dengan menurunkan hujan yang penuh berkah.
Refleksi untuk Indonesia yang Diuji Bencana
Kisah tersebut, lanjut Gus Yasin, gerakan sholawat ini menjadi refleksi bagi umat Islam di Indonesia yang saat ini tengah menghadapi berbagai bencana. Upaya mitigasi dan penanganan memang penting, namun doa dan pendekatan spiritual tetap menjadi kunci utama.
“Segala ikhtiar sudah dilakukan, tetapi Allah yang menentukan segalanya. Dengan mendekatkan diri kepada Allah melalui doa dan shalawat bersama, semoga marabahaya segera diangkat dan kesejahteraan bisa terwujud,” katanya.
Sholawat Bergema Meski Diguyur Gerimis
Shalawat bersama Habib Anis bin Idrus Syahab dari Jakarta berlangsung sekitar tiga jam. Meski sempat diguyur gerimis, antusiasme masyarakat tidak surut.
Gema shalawat dengan puluhan irama pun menggema di lapangan Desa Tengaran, diiringi grup hadroh Baitul Musthofa, menciptakan suasana khidmat dan penuh kekhusyukan.
*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.



