Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Cilacap menegaskan komitmennya dalam menangkal penyebaran paham radikalisme, khususnya di lingkungan pondok pesantren. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan pendidikan Islam moderat serta peningkatan pengawasan terhadap lembaga pendidikan berbasis pesantren, khususnya di bawah naungan NU.
Sekretaris PCNU Cilacap, Khasam Bisri mengatakan Nahdlatul Ulama sejak awal berdirinya telah berkomitmen menjaga keberagaman sekaligus menyebarkan ajaran Islam yang damai dan toleran.
“Sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama memiliki komitmen merawat Bhinneka Tunggal Ika serta mengajarkan Islam rahmatan lil ‘alamin yang menghargai perbedaan, tetapi menolak paham radikalisme dan kekerasan,” ujar Khasam, Senin (9/3/2026).
Kampanye Islam Moderat Lewat Pendidikan
Menurut Khasam, nilai-nilai Islam yang moderat terus dikampanyekan melalui berbagai jaringan lembaga pendidikan milik NU. Baik sekolah formal maupun pendidikan nonformal, semuanya diarahkan untuk menanamkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang menekankan sikap toleran dan menghargai keberagaman.
Ia menegaskan bahwa NU secara konsisten menolak ajaran yang mengarah pada kekerasan maupun kebencian terhadap kelompok lain.
“Kami terus mengampanyekan Islam yang damai melalui jaringan lembaga pendidikan NU, baik formal maupun nonformal, agar masyarakat tidak mudah terpengaruh ajaran yang mengarah pada kebencian dan radikalisme,” katanya.
Pemetaan Pesantren untuk Edukasi Masyarakat
Selain melalui pendidikan, PCNU Cilacap juga melakukan pemetaan terhadap pondok pesantren yang ada di wilayah Kabupaten Cilacap. Langkah ini dilakukan untuk memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat terkait pesantren yang berada di bawah naungan NU dan yang tidak.
Khasam menjelaskan, tidak semua pesantren di Cilacap memiliki latar belakang organisasi yang sama. Oleh karena itu, masyarakat perlu mendapatkan informasi yang cukup agar tidak keliru saat memilih lembaga pendidikan bagi anak-anak mereka.
“Tidak semua pondok pesantren di Cilacap berada di bawah naungan NU. Karena itu kami melakukan pemetaan agar masyarakat memiliki informasi yang jelas sebelum menyekolahkan anaknya,” jelasnya.
Menurutnya, pemetaan tersebut juga menjadi bentuk peringatan kepada masyarakat agar lebih berhati-hati ketika hendak memilih pesantren.
“Langkah ini bukan untuk membatasi, tetapi sebagai bentuk peringatan agar orang tua lebih berhati-hati dalam memilih lembaga pendidikan, khususnya pesantren,” tambahnya.
Pendidikan Islam Inklusif
Di lingkungan NU sendiri, pengelolaan pendidikan dilakukan oleh dua lembaga utama, yakni Lembaga Pendidikan Ma’arif NU yang menangani sekolah formal serta Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) yang membidangi pondok pesantren.
Melalui kedua lembaga tersebut, NU terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memilih pendidikan yang sejalan dengan ajaran Aswaja.
“Kami berharap masyarakat, khususnya warga NU, dapat memilih lembaga pendidikan yang sejalan dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah agar anak-anak tumbuh dengan pemahaman Islam yang moderat,” kata Khasam.
Ia juga menegaskan bahwa lembaga pendidikan NU selalu mendukung kebijakan pemerintah, termasuk dalam penerapan kurikulum nasional.
“Lembaga pendidikan NU selalu mendukung kebijakan kurikulum pemerintah karena tujuannya sama, yakni mencetak generasi yang religius, toleran, dan cinta tanah air,” pungkasnya.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!




