Insiden dugaan keracunan massal terjadi di salah satu pondok pesantren di wilayah Cilacap Utara. Ratusan santri dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan, hingga lebih dari 100 orang harus dilarikan ke RSUD Cilacap untuk mendapatkan perawatan medis.
Peristiwa ini langsung mendapat perhatian aparat dan pemerintah daerah. Kapolresta Cilacap, Kombes Pol Budi Adhy Buono, menyatakan pihaknya bersama jajaran terkait segera turun ke lapangan untuk memastikan kondisi para santri.
Ia menyebutkan, peninjauan dilakukan langsung di rumah sakit bersama Dinas Kesehatan guna memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan yang maksimal. Selain itu, langkah ini juga dilakukan untuk menelusuri sumber penyebab dugaan keracunan tersebut.
“Kami kemarin ke RSUD bersama pemerintah daerah, khususnya Kepala Dinas Kesehatan, untuk mengecek langsung kejadian dugaan keracunan ini,” ujar Kapolresta saat ditemui, Jumat (1/5/2026).
Lebih dari 100 Santri Sempat Dirawat, Kini Tersisa 1 Pasien di RSUD
Menurutnya, dari ratusan santri yang sempat menjalani perawatan, saat ini kondisi mereka sudah membaik. Sebagian besar telah diperbolehkan pulang ke pondok pesantren, dan kini hanya tersisa satu pasien yang masih dirawat di rumah sakit.
“Kemarin ada 100 lebih yang datang, khusus yang perempuan ada yang rawat inap, yang laki-laki langsung kembali ke ponpes, sampai hari ini alhamdulillah tinggal satu yang dirawat di RSUD,” ungkapnya.
Dua Sampel Makanan Diuji di Laboratorium Provinsi
Untuk memastikan penyebab keracunan, petugas telah mengambil dua sampel makanan. Sampel tersebut berasal dari makanan yang diduga dikonsumsi para santri, yakni dari MBG serta dari dapur pondok pesantren.
Budi menjelaskan, seluruh sampel telah diserahkan kepada Dinas Kesehatan untuk dilakukan uji laboratorium di tingkat provinsi. Hingga kini, hasil pemeriksaan tersebut masih dalam proses dan belum dapat disimpulkan.
“Ada dua sampel makanan yang diambil, dari MBG dan dari pondok pesantren. Saat ini sedang diuji di laboratorium provinsi, hasilnya masih menunggu,” ungkapnya.
Pihak kepolisian juga terus berkoordinasi dengan tenaga medis guna mengetahui detail kejadian, termasuk gejala yang dialami para santri, waktu mulai munculnya keluhan, hingga proses penanganan di rumah sakit.
Gejala Muncul Sehari Setelah Konsumsi Makanan
Kapolrest menyebut, peristiwa ini terjadi pada Selasa (28/4) Namun, gejala keracunan baru mulai dirasakan para santri pada Rabu (29/4) sehari setelah diduga mengonsumsi makanan tersebut.
Jumlah santri yang terdampak diperkirakan mencapai lebih dari 100 orang, terdiri dari santri laki-laki dan perempuan. Untuk santri perempuan, sebagian sempat menjalani rawat inap, sementara santri laki-laki umumnya hanya mendapatkan perawatan singkat sebelum kembali ke pondok.
Meski begitu, penyebab pasti kejadian ini masih belum dapat dipastikan. Pihak berwenang menegaskan akan menunggu hasil uji laboratorium sebelum mengambil kesimpulan lebih lanjut.
“Kita belum bisa memastikan penyebabnya, karena masih menunggu hasil pemeriksaan sampel,” tegas Budi.
Hingga saat ini, kondisi para santri dilaporkan terus membaik. Aparat bersama pemerintah daerah memastikan akan terus memantau perkembangan serta mengambil langkah lanjutan setelah hasil uji laboratorium keluar.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!



