Tebing 100 Meter Longsor di Majenang! Puluhan Rumah Terancam, Ratusan Warga Mengungsi. Tanah longsor besar melanda Desa Bener, Kecamatan Majenang, Cilacap, Selasa (11/11/2025). Bukit setinggi 100 meter longsor menutup Sungai Cilopadang dan menimpa lahan warga. BPBD Cilacap mengevakuasi 279 warga ke tempat aman, sementara alat berat BBWS dikerahkan ke lokasi.
Hujan deras yang mengguyur wilayah utara Kabupaten Cilacap kembali memicu bencana tanah longsor di kawasan perbukitan. Kali ini, peristiwa terjadi di Grumbul Cirangkong RT 05/01, Dusun Glewang, Desa Bener, Kecamatan Majenang, pada Selasa petang sekitar pukul 18.30 WIB.
Material tanah dari bukit setinggi kurang lebih 100 meter dengan panjang sekitar 300 meter meluncur deras ke bawah, menutup aliran Sungai Cilopadang serta menimbun area persawahan dan kebun milik warga. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa ini menyebabkan kerugian besar dengan nilai taksiran mencapai Rp 650 juta.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Cilacap, Budi Setyawan, menjelaskan bahwa peristiwa itu terjadi akibat curah hujan tinggi yang mengguyur kawasan Majenang. Kondisi tanah yang labil serta kemunculan mata air baru dan retakan di tebing memperparah situasi hingga akhirnya terjadi longsoran besar.
“Longsor di Desa Bener, tebing dengan tinggi sekitar 100 meter menimpa Sungai Cilopadang dan area pertanian warga. Hujan deras serta kondisi tebing yang terjal menjadi penyebab utama kejadian ini,” ujar Budi Setyawan, Kamis (13/11/2025).

Area Terdampak Longsor hingga 2 Hektar
Menurut Budi, luas area terdampak mencapai dua hektar, meliputi kebun dan sawah milik warga. Sekitar 1,5 hektar kebun berisi pohon bambu dan kayu tahunan ikut terseret material longsor, sementara 500 ubin lahan persawahan warga tertimbun tanah. Tak hanya itu, beberapa jalan desa dan jalan kabupaten mengalami retak dan amblas, serta sejumlah rumah warga terancam runtuh akibat struktur tanah yang masih bergerak.
BPBD Cilacap bersama perangkat desa dan unsur Forkopimcam Majenang langsung turun ke lokasi untuk melakukan cek lapangan, pendataan, dan evakuasi warga terdampak. Sebanyak 279 jiwa mengungsi, dengan 125 jiwa ditampung di Balai Desa Bener dan sisanya menumpang di rumah kerabat.
“Kami sudah mengevakuasi seluruh warga yang berada di zona rawan. Sebagian besar sudah berada di tempat aman. Pengungsi terdiri dari lansia, balita, hingga penyandang disabilitas, dan semua kebutuhan dasar sedang kami upayakan,” kata Budi.

Balai Desa Bener jadi Pusat Pengungsi
Untuk sementara, Balai Desa Bener dijadikan pusat pengungsian utama, lengkap dengan dapur umum, posko kesehatan, dan pos logistik. BPBD juga menyiapkan Pos Lapangan dan Pos Pemantauan di dua titik utama area longsor.
Adapun kebutuhan mendesak pengungsi saat ini antara lain peralatan tidur (tiker dan selimut), perlengkapan mandi, bahan makanan, serta peralatan dapur seperti kompor dan dandang besar.
BPBD juga berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy yang menurunkan alat berat ke lokasi guna menyingkirkan material longsoran yang menutup aliran sungai.
“Alat berat dari BBWS sudah diterjunkan untuk penanganan material longsoran. Kami juga memasang rambu peringatan bencana di beberapa titik dan terus memantau kondisi tanah, karena pergerakan masih terjadi,” jelas Budi.
Meski situasi terpantau aman dan terkendali, tim gabungan tetap bersiaga menghadapi potensi longsor susulan. Kondisi cuaca yang masih tidak menentu membuat wilayah Majenang dan sekitarnya berada dalam status waspada bencana.
BPBD Imbau Masyarakat tidak Beraktivitas di Tebing Rawan
BPBD mengimbau masyarakat agar tidak beraktivitas di sekitar tebing dan selalu memantau perkembangan situasi melalui aparat desa setempat. Budi menegaskan, keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana di wilayah barat Cilacap tersebut.
“Kami minta masyarakat tetap waspada, terutama yang tinggal di lereng atau tepi sungai. Jika terlihat tanda-tanda seperti retakan baru, air keruh, atau suara gemuruh dari tebing, segera menjauh dan laporkan ke aparat desa,” pungkasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana di daerah rawan longsor, terutama di wilayah pegunungan Cilacap bagian barat seperti Majenang, Wanareja, dan Dayeuhluhur. Penguatan vegetasi, sistem drainase, dan kewaspadaan dini menjadi langkah penting untuk mencegah bencana serupa di masa depan.





