Kurs Dollar terhadap rupiah kembali menguat pada awal pekan ini, membuat nilai tukar Rupiah masih berada di bawah tekanan.
- Kurs Dollar Menguat, Rupiah Tertekan oleh Dolar AS
- Kurs Dollar Tertahan Data Tenaga Kerja dan Geopolitik
- Kurs Dollar Perkasa, Rupiah Melemah 0,62% dalam Sepekan
- Kekhawatiran Fiskal Domestik Tekan Rupiah
- Kurs Dollar Hari Ini: Rupiah Diproyeksi Masih Melemah
- Proyeksi Jangka Menengah: Kurs Dollar Bisa Dorong Rupiah ke Rp17.000
- Perbedaan Proyeksi BI dan Pemerintah
Pada perdagangan hari ini, Senin (22/12/2025) pergerakan Rupiah diperkirakan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah, seiring kombinasi sentimen global dan kekhawatiran domestik yang terus membayangi pasar keuangan.
Penguatan kurs Dollar tidak hanya dipicu faktor eksternal dari Amerika Serikat, tetapi juga diperberat oleh meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek fiskal Indonesia dalam jangka menengah.
Kondisi tersebut membuat pasar cenderung defensif dan menahan ekspektasi pemulihan Rupiah dalam waktu dekat.
Kurs Dollar Menguat, Rupiah Tertekan oleh Dolar AS
Berdasarkan data pasar, Rupiah menutup perdagangan akhir pekan lalu dalam kondisi tertekan. Pada Jumat, 19 Desember 2025, mata uang Garuda melemah sekitar 0,16 persen dan bergerak di kisaran Rp16.723 hingga Rp16.750 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring menguatnya kurs Dollar di pasar global.
Indeks dolar AS (DXY) tercatat naik lebih dari 0,20 persen dan bertahan di area 98,6. Penguatan indeks tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap dolar AS, di tengah ketidakpastian ekonomi global dan masih kuatnya fundamental ekonomi Amerika Serikat.
Kurs Dollar menguat terutama dipicu oleh perkembangan data inflasi AS. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) inti pada November 2025 tercatat turun ke level terendah sejak awal 2021. Secara teori, penurunan inflasi membuka peluang bagi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS, Federal Reserve.
Namun, pelaku pasar merespons data tersebut dengan sikap hati-hati. Sejumlah ekonom menilai bahwa penurunan CPI belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi AS.
Penutupan sebagian pemerintahan AS selama lebih dari 40 hari dikhawatirkan memengaruhi kualitas dan kelengkapan data statistik yang dirilis, sehingga pasar belum sepenuhnya yakin terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Kurs Dollar Tertahan Data Tenaga Kerja dan Geopolitik
Selain faktor inflasi, data ketenagakerjaan AS yang masih solid turut menahan pelemahan kurs Dollar. Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan pasar tenaga kerja tetap kuat, dengan tingkat pengangguran yang relatif rendah serta penciptaan lapangan kerja yang masih stabil.
Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS belum membutuhkan stimulus agresif dalam waktu dekat. Selama data ketenagakerjaan tetap solid, dolar AS cenderung dipertahankan sebagai aset yang relatif aman oleh investor global.
Dari sisi geopolitik, pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait peluang tercapainya titik terang dalam upaya mengakhiri konflik Ukraina juga memengaruhi sentimen pasar.
Meski membuka harapan stabilitas global, investor masih menunggu kejelasan hasil pertemuan lanjutan antara pejabat AS dan Rusia. Ketidakpastian tersebut membuat kurs Dollar tetap diminati sebagai aset lindung nilai.
Kurs Dollar Perkasa, Rupiah Melemah 0,62% dalam Sepekan
Jika dilihat secara mingguan, tekanan terhadap Rupiah semakin terlihat. Dalam sepekan terakhir, Rupiah tercatat melemah sekitar 0,62 persen dibandingkan posisi pekan sebelumnya.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menempatkan Rupiah di kisaran Rp16.735 per dolar AS.
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang cenderung tidak seragam di tengah penguatan kurs Dollar. Yen Jepang mencatat pelemahan terdalam dengan depresiasi lebih dari 1 persen dalam sepekan.
Sebaliknya, beberapa mata uang Asia lainnya justru mampu menguat, seperti rupee India dan ringgit Malaysia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap Rupiah tidak hanya bersumber dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi sentimen domestik, terutama terkait persepsi risiko fiskal dan keberlanjutan kebijakan ekonomi nasional.
Kekhawatiran Fiskal Domestik Tekan Rupiah
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada prospek kesehatan fiskal Indonesia dalam jangka menengah.
Bank Dunia memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia akan terus melebar hingga mendekati batas konstitusional sebesar 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2027.
Defisit fiskal diperkirakan berada di kisaran 2,8 persen pada 2025 dan meningkat menjadi sekitar 2,9 persen pada 2027.
Pelebaran defisit ini terjadi seiring dengan penurunan rasio pendapatan negara serta meningkatnya beban bunga utang pemerintah.
Konsekuensi dari kondisi tersebut adalah meningkatnya rasio utang terhadap PDB. Situasi ini berpotensi memengaruhi persepsi risiko Indonesia di mata investor global, yang pada akhirnya dapat mendorong aliran modal keluar dan menambah tekanan terhadap nilai tukar Rupiah di tengah penguatan kurs Dollar.
Kurs Dollar Hari Ini: Rupiah Diproyeksi Masih Melemah
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai bahwa kombinasi sentimen global dan domestik membuat pergerakan Rupiah masih rentan.
Menurutnya, pada perdagangan Senin ini, Rupiah berpotensi bergerak fluktuatif dan cenderung ditutup melemah di rentang Rp16.750 hingga Rp16.780 per dolar AS.
Fluktuasi diperkirakan tetap tinggi, mengingat pasar masih mencermati arah kebijakan moneter AS, perkembangan geopolitik global, serta respons pemerintah Indonesia dalam menjaga stabilitas fiskal dan kepercayaan investor.
Proyeksi Jangka Menengah: Kurs Dollar Bisa Dorong Rupiah ke Rp17.000
Dalam jangka menengah, tekanan terhadap Rupiah juga disoroti oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Lembaga ini memproyeksikan nilai tukar Rupiah pada 2026 akan bergerak di kisaran Rp16.678 hingga Rp17.098 per dolar AS, seiring potensi berlanjutnya penguatan kurs Dollar global.
BRIN menilai konflik geopolitik yang belum mereda serta potensi peningkatan rasio utang pemerintah hingga mendekati 40 persen dari PDB dapat memicu volatilitas pasar keuangan.
Kondisi tersebut berisiko mendorong arus keluar modal asing dari pasar portofolio domestik dan menekan Rupiah lebih dalam.
Perbedaan Proyeksi BI dan Pemerintah
Sementara itu, Bank Indonesia memiliki pandangan yang relatif lebih optimistis. Gubernur BI Perry Warjiyo memperkirakan rata-rata nilai tukar Rupiah pada 2026 berada di kisaran Rp16.430 per dolar AS. Proyeksi tersebut digunakan sebagai asumsi makro dalam Rencana Anggaran Tahunan Bank Indonesia 2026.
Di sisi lain, pemerintah dalam Undang-Undang APBN 2026 menetapkan asumsi nilai tukar Rupiah di level Rp16.500 per dolar AS.
Perbedaan proyeksi ini mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi terhadap dinamika ekonomi global dan pergerakan kurs Dollar ke depan.
Ke depan, stabilitas nilai tukar Rupiah akan sangat bergantung pada koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, serta kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar.
Penguatan fundamental ekonomi domestik, pengelolaan utang yang prudent, serta komunikasi kebijakan yang konsisten menjadi kunci untuk meredam volatilitas nilai tukar di tengah penguatan kurs Dollar global.
Dalam jangka pendek, Rupiah masih berpotensi berada di bawah tekanan. Namun, langkah stabilisasi yang tepat diharapkan dapat menjaga pelemahan agar tetap terkendali, meski dinamika global belum sepenuhnya mereda.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







