Seputar BanyumasSeputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Pencarian
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Ikuti Kami
© 2025 Seputar Banyumas. All Rights Reserved.
Seputar Banyumas > Artikel > Jateng > Wayang Kulit Lakon Kresna Duta, Sumanto Ajak Masyarakat Memahami Pesan Moralnya
Jateng

Wayang Kulit Lakon Kresna Duta, Sumanto Ajak Masyarakat Memahami Pesan Moralnya

Djamal SG
Terakhir diperbarui: 20 November 2025 17:33
Djamal SG
Membagikan
Wayang kulit
Ketua DPRD Jateng Sumanto memberikan sambutan sebelum pementasan wayang kulit. (dokpri)
Membagikan

Pagelaran wayang kulit dengan lakon Kresna Duta dipentaskan di Kabupaten Karanganyar belum lama ini. Pentas tersebut adalah gelaran yang merupakan tanggapan dari Ketua DPRD Jateng Sumanto. Sumanto pun mengajak warga memahami pesan moral dari lakon tersebut. Pesan moralnya adalah bahwa diplomasi atau perundingan harus dikedepankan dalam menyelesaikan konflik.

Contents
  • Pementasan Wayang Kulit untuk Jaga Tradisi
  • Teladani Nilai Positif

Pagelaran wayang kulit itu berlangsung di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar. Dua dalang yaitu, Ki Daliyun Darjo Martono, dan Ki Fajri Nur Salim membawakan lakon tersebut.

Lakon Kresna Duta menceritakan perjalanan Prabu Kresna yang diutus sebagai duta oleh Pandawa. Prabu Kresna diutus untuk meminta kembali hak mereka berupa kerajaan Ngastina kepada Kurawa. Namun, misi perdamaian tersebut gagal karena Duryudana menolak dan malah berusaha membunuh Kresna. Kresna kemudian menunjukkan kesaktiannya dengan berubah menjadi raksasa yang sangat besar dan menakutkan untuk menunjukkan amarahnya atas sikap Kurawa.

Pementasan Wayang Kulit untuk Jaga Tradisi

Sumanto mengatakan, dirinya menggelar pentas wayang kulit setiap selapan dina atau 35 hari untuk menjaga tradisi dan warisan budaya. Pentas tersebut sekaligus memberi ruang ke para dalang Kabupaten Karanganyar untuk tampil.

Baca juga  DPRD Jateng Harus Berikan Kanal untuk Aspirasi Masyarakat

“Kali ini ceritanya tentang Kresna yang menjadi utusan Pandawa untuk menyampaikan secara baik-baik kepada Kurawa untuk membagi tanah Kerajaan Ngastina. Namun karena Kurawa menolak, terjadilah Perang Bharatayuda yang membuat 100 ksatria Kurawa habis dan Pandawa menguasai tanah dari Bapaknya,” kata Sumanto.

Sumanto mengatakan, Lakon Kresna Duta meskipun terlihat sederhana, tetapi sarat dengan nilai-nilai filosofis yang dalam dan relevan dengan kehidupan saat ini. Kresna tak langsung memilih jalan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Namun Kresna mengedepankan negosiasi atau lobi-lobi meskipun Kurawa merampas hak Pandawa atas tanahnya secara tidak adil.

“Pesan moralnya, negosiasi perlu dilakukan dulu sebelum terjadi hal yang merugikan. Meski Kresna datang untuk berdamai, ia tetap sadar bahwa perang mungkin terjadi. Kresna memberi batas jelas, jika diplomasi gagal, pembelaan diri harus dilakukan untuk menegakkan kebenaran,” kata Sumanto.

Teladani Nilai Positif

Lebih lanjut Sumanto mengajak masyarakat meneladani nilai-nilai positif yang terkandung dalam lakon wayang kulit. Menurutnya, pentas wayang kulit tak sekedar menjadi tontonan, tapi juga tuntunan. Nilai-nilai baik yang dikisahkan tokoh pewayangan seperti keberanian, keadilan, kesetiaan, dan kebijaksanaan, dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga  Harga Pupuk Subsidi Turun 20 Persen, Bukti Nyata Keberpihakan Presiden kepada Petani

Politisi PDIP ini menambahkan, ada banyak nilai baik yang diajarkan oleh tokoh-tokoh pewayangan. Yaitu keberanian, keadilan, kesetiaan, kebijaksanaan, dan kehati-hatian untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Kisah-kisah tersebut berasal dari kisah Mahabharata dan Ramayana. Menampilkan pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan, serta mengajarkan pentingnya menjaga moralitas dan perilaku yang luhur. Semoga pementasan ini memberikan pelajaran bagi kehidupan,” ungkapnya

Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Suruh, Aan Andrianto mengapresiasi langkah Sumanto yang rutin menggelar pentas wayang kulit di Kabupaten Karanganyar. Menurutnya hal tersebut menjadi bukti nyata upaya pelestarian kesenian tradisional.

“Kebetulan di sini kalau ada jadwal wayang warga ikut getok tular dan menonton. Pada zaman digital ini wayang kulit tak boleh dilupakan. Terima kasih pada Pak Manto yang telah memberikan tontonan dan hiburan ke warga Suruh,” ujarnya.

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.

TAG:wayang kulit
Artikel Sebelumnya investasi bodong Investasi Bodong di Kebumen Terbongkar, Total Kerugian Anggota Rp2,5 Miliar
Artikel Selanjutnya PSCS PSCS Terancam Gagal Tampil di Liga 4! Akuisisi Kandas, Suporter Berdebar
Caps academy
Caps
IMG-20251124-WA0000

Tetap Update Berita Terbaru!

Follow akun media sosial Seputar Banyumas dan jangan lewatkan kabar penting seputar Banyumas dan sekitarnya!
FacebookSuka
XMengikuti
InstagramMengikuti
YoutubeSubscribe
TiktokMengikuti

Mungkin Anda Suka

Bencana di Kebumen
JatengKebumen

Bencana di Kebumen Bulan Ini: 12 Orang Meninggal, Kerugian Capai Rp4,8 M

Oleh Djamal SG
tren persak
JatengKebumenOlahraga

Jelang Liga 4, Tren Persak Kebumen Terus Menanjak

Oleh Djamal SG
Longsor di Rowokele
JatengKebumen

Pasca Longsor di Rowokele, Warga Diminta Tetap Waspada

Oleh Djamal SG
mancing berhadiah
JatengKebumen

Ada Mancing Berhadiah Jutaan Rupiah di Petanahan

Oleh Djamal SG
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
Ikuti Kami
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan 
  • Kode Etik Jurnalistik
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?