RSI Sultan Agung Semarang Kembangkan Terapi Sel Autologus, Kedokteran Presisi Berbasis Nilai Profetik

Heri C
dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa. Direktur RSI Sultan Agung Semarang. (dok dr Agus Ujianto)

RSI Sultan Agung Semarang kembangkan terapi sel autologus. Terapi ini bertujuan mengoptimalkan potensi penyembuhan alami tubuh.

Perkembangan kedokteran modern terus bergerak ke arah personal medicine atau kedokteran presisi. Namun, pendekatan ini dinilai tidak sepenuhnya lahir dari ruang laboratorium semata, melainkan memiliki akar panjang dalam nilai-nilai etika dan teologi, khususnya dalam tradisi Islam yang menempatkan tubuh manusia sebagai amanah yang harus dijaga.

Direktur RSI Sultan Agung Semarang, dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUa menjelaskan, dalam perspektif Islam, menjaga jiwa atau Hifdzun Nafs merupakan prinsip utama.

Hal tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 32 yang menyebutkan bahwa menjaga satu nyawa setara dengan menjaga seluruh umat manusia. Prinsip inilah yang kini banyak dijadikan landasan etik dalam pengembangan teknologi medis presisi.

Sejarah pemikiran kesehatan dalam Islam juga merujuk pada ajaran para nabi yang memandang tubuh sebagai entitas suci. Sejak Nabi Adam AS yang diajarkan mengenal berbagai unsur alam, hingga risalah Nabi Muhammad SAW, kesehatan diposisikan sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual dan biologis manusia.

Baca juga  Kisah Pilu Penderes Cilacap, 15 Hari Bertahan di Hutan Aceh Usai Banjir Bandang

“Pendekatan ini kini diterapkan secara konkret di Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Rumah sakit tersebut mengembangkan terapi berbasis sel autologus, yakni penggunaan sel dari tubuh pasien sendiri untuk proses penyembuhan,” katanya.

Direktur RSI Sultan Agung Semarang Jelaskan Terapi Sel Autologus

Direktur RSI Sultan Agung Semarang, dr Agus Ujianto menjelaskan bahwa terapi sel autologus bertujuan mengoptimalkan potensi penyembuhan alami tubuh. Konsep ini sejalan dengan keyakinan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk terbaik sebagaimana disebut dalam Surah At-Tin ayat 4 (Ahsanul Taqwim), serta hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Imam Muslim: “Setiap penyakit ada obatnya, maka apabila obat itu mengenai penyakitnya, akan sembuh dengan izin Allah,” kata Direktur RSI Sultan Agung Semarang.

Secara medis, terapi autologus dinilai lebih aman karena meminimalkan risiko penolakan imun dan paparan bahan biologis asing. Dari sisi etika keislaman, penggunaan sel pasien sendiri juga dianggap lebih sesuai dengan prinsip thayyib (baik dan murni), karena menghindari unsur yang berpotensi syubhat.

Baca juga  Persibat vs Wijayakusuma FC, Ini Info Harga Tiketnya

Penerapan teknologi ini dipadukan dengan standar mutu internasional FISQua (Federation of Islamic Quality Assurance), sehingga proses medis tetap mengikuti kaidah ilmiah dan tata kelola kesehatan global.

Sejumlah pakar menyebutkan bahwa integrasi antara bioteknologi dan nilai spiritual bukanlah hal baru dalam peradaban Islam. Tokoh seperti Ibnu Sina melalui karya monumentalnya Al-Qanun fi al-Tibb telah memadukan filsafat, etika, dan kedokteran dalam satu kerangka ilmiah yang utuh.

Kini, pendekatan serupa kembali dikembangkan dalam bentuk yang lebih modern melalui terapi sel punca dan kedokteran presisi. Teknologi tersebut tidak hanya dipandang sebagai inovasi laboratorium, tetapi juga sebagai upaya mengoptimalkan potensi biologis yang telah dianugerahkan Tuhan kepada manusia.

Dengan menggabungkan ketepatan diagnosis, teknologi sel, serta landasan etik keagamaan, pendekatan ini diharapkan mampu menghadirkan layanan kesehatan yang tidak hanya presisi secara klinis, tetapi juga selaras dengan nilai spiritual pasien.

“Model pelayanan ini sekaligus menunjukkan bahwa perkembangan sains dan nilai keimanan tidak harus berjalan berseberangan, melainkan dapat saling menguatkan dalam upaya menghadirkan sistem kesehatan yang memuliakan manusia secara utuh, fisik, psikis, dan spiritual,” kata Direktur RSI Sultan Agung Semarang tersebut.

Baca juga  Pemkab Banjarnegara Benahi SIKAP, Wabup Tegaskan ASN Dilarang Copy-Paste Laporan

*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.