8 Fenomena ‘Kemajuan Palsu’ yang Sejatinya Adalah Tanda Akhir Zaman yang Diperingatkan Islam

Bahron Ansori
Banyak yang tak menyadari apa yang selama ini di sebut sebagai prestasi peradaban justru masuk dalam radar ciri-ciri akhir zaman yang patut diwaspadai. (dok Freepik.com)

Benarkah kita sedang maju, atau kita hanya sedang ‘menghias’ kehancuran? Pertanyaan ini mendadak viral di tengah hiruk-pikuk gaya hidup modern yang serba cepat. Banyak yang tak menyadari, apa yang selama ini kita sebut sebagai prestasi peradaban, justru masuk dalam radar ciri-ciri akhir zaman yang patut diwaspadai. Jangan sampai kita terlena dalam pesta pora teknologi, sementara kaki kita sudah berada di bibir jurang tanpa rasa curiga sedikitpun.

Berikut ini delapan kemajuan palsu yang justru menjadi ciri akhir zaman.

1. Ilmu Semakin Tinggi, Adab Semakin Rendah

Gelar akademik berjejer, seminar dan sertifikat berlimpah. Namun adab, akhlak, dan rasa hormat semakin langka. Orang merasa pintar, tapi mudah merendahkan. Berani bicara apa saja, tanpa etika dan tanggung jawab. Rasulullah SAW bersabda bahwa di akhir zaman ilmu diangkat, bukan karena buku hilang, tapi karena akhlak dan hikmah dicabut dari hati manusia. Ilmu tanpa adab bukan kemajuan—ia justru bencana yang berjalan dengan jas rapi.

Baca juga  7 Cara Menghilangkan Sifat Malas dalam Ibadah

2. Kebebasan Berekspresi yang Kehilangan Kendali

Semua orang bisa berbicara, berkomentar, menilai, bahkan menghakimi. Media sosial dianggap simbol demokrasi dan kemajuan. Namun lidah dan jari tak lagi terikat iman. Ghibah, fitnah, caci maki, dan aib orang lain disebar atas nama “pendapat pribadi”. Padahal Islam mengajarkan: tidak semua yang benar pantas diucapkan, dan tidak semua yang bisa ditulis halal untuk disebarkan.

3. Wanita Dipuja, Kehormatannya Dilepas

Perempuan dielu-elukan sebagai simbol kemajuan, tetapi justru ditarik keluar dari kemuliaannya. Aurat dibuka atas nama percaya diri, tubuh dijadikan komoditas, dan nilai ditentukan oleh penampilan. Padahal Islam memuliakan perempuan dengan kehormatan, bukan eksploitasi. Ketika aurat dianggap kuno dan rasa malu ditertawakan, itu bukan kemajuan—itu kemunduran yang diberi lampu sorot.

4. Anak-anak Dewasa Sebelum Waktunya

Anak kecil sudah bicara tentang hal dewasa, mengenal dunia yang belum layak ia masuki. Gadget dianggap tanda kecerdasan, padahal banyak anak kehilangan masa kanak-kanaknya. Akhir zaman ditandai ketika amanah disia-siakan—termasuk amanah menjaga fitrah anak. Kecanggihan tanpa pendampingan hanyalah jalan cepat menuju kerusakan jiwa.

Baca juga  Ironi Muslim Zaman Now: Fasih Bicara Agama Tapi Berat Melangkah ke Sajadah

5. Agama Dianggap Urusan Pribadi, Bukan Pedoman Hidup

Salat, puasa, dan ibadah masih ada, tapi dipisahkan dari etika bisnis, politik, dan sosial. Agama dipersempit menjadi ritual, bukan nilai. Orang merasa modern ketika mengatakan, “Iman di hati saja.” Padahal Islam datang sebagai cahaya untuk seluruh aspek kehidupan. Ketika syariat dianggap penghalang kemajuan, sesungguhnya kita sedang menjauh dari sumber keselamatan.

6. Makna Sukses yang Diukur oleh Harta dan Popularitas

Siapa yang kaya dianggap berhasil. Siapa yang viral dianggap hebat. Kejujuran, kesederhanaan, dan ketakwaan jarang masuk daftar pencapaian. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa akan datang masa ketika orang berlomba membangun dunia, tetapi melupakan akhirat. Kesibukan mengejar pengakuan manusia sering membuat kita lupa: nilai sejati bukan pada tepuk tangan, tapi pada ridha Allah.

7. Di Akhir Zaman, Hubungan Bebas Tapi Pernikahan Dipersulit

Pacaran dianggap wajar, zina dinormalisasi, tapi pernikahan dipersulit dengan standar duniawi. Ini salah satu tanda akhir zaman yang jelas: yang haram dipermudah, yang halal dipersulit. Padahal pernikahan adalah penjaga kehormatan dan ketenangan jiwa. Ketika komitmen ditakuti dan hawa nafsu dirayakan, masyarakat sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri.

Baca juga  Fenomena Selingkuh Akhir Zaman: Saat 'Chat Biasa' Menjadi Pintu Penghancur Rumah Tangga

8. Hati Kosong di Tengah Kemewahan

Rumah mewah, kendaraan mahal, liburan ke mana-mana—namun jiwa gelisah, mudah marah, dan sulit tenang. Banyak yang terlihat “sukses” tapi merasa hampa. Inilah kemajuan palsu: dunia penuh, hati kosong. Padahal hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Tanpa iman, semua pencapaian hanya seperti minum air laut—semakin diminum, semakin haus.

Akhir zaman bukan selalu tentang kehancuran fisik, tapi kerusakan makna. Yang berbahaya bukan sekadar dosa, melainkan dosa yang dianggap biasa. Bukan sekadar salah, tapi salah yang dirayakan. Semoga kita tidak sekadar menjadi penonton zaman, tapi hamba yang sadar, waspada, dan kembali menjadikan iman sebagai kompas hidup—sebelum kemajuan benar-benar menjauhkan kita dari keselamatan.

*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.