AMIKOM – Upaya meningkatkan kesehatan reproduksi remaja terus digencarkan melalui pendekatan edukatif berbasis komunitas. Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Amikom Purwokerto menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa pelatihan Abdominal Exercise dan Kegel Exercise bagi remaja putri di Posyandu Remaja RW 11, Cilacap Utara.
Kegiatan yang berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2025 ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menghubungkan teori akademik dengan praktik langsung di masyarakat. Program tersebut dilaksanakan oleh Gita Ayu Indria bersama mahasiswa Program Studi Diploma III Kebidanan Universitas Amikom Purwokerto.
“Kegiatan pengabdian masyarakat ini kami rancang sebagai solusi non-farmakologis yang mudah diakses oleh remaja putri untuk membantu mengurangi nyeri haid atau dismenore,” ujar Gita Ayu Indria.
Dismenore kerap dianggap keluhan ringan, padahal dampaknya cukup besar terhadap aktivitas belajar dan sosial remaja. Melalui survei awal, tim PkM menemukan bahwa banyak remaja putri mengalami nyeri haid berulang dan masih bergantung pada obat pereda nyeri.
“Keluhan nyeri haid sering dianggap wajar, padahal jika tidak dikelola dengan baik bisa mengganggu kualitas hidup remaja. Karena itu kami memilih intervensi berbasis latihan fisik yang aman dan bisa dilakukan secara mandiri,” jelasnya.
Dalam pelatihan ini, peserta dibekali dua jenis latihan utama, yakni Abdominal Exercise dan Kegel Exercise. Abdominal Exercise berfungsi merelaksasi otot perut dan membantu mengurangi kejang uterus saat menstruasi. Sementara Kegel Exercise bertujuan memperkuat otot dasar panggul dan meningkatkan sirkulasi darah di area tersebut.
“Latihan ini sederhana, tidak membutuhkan alat khusus, dan bisa dilakukan di rumah. Jika dilakukan secara rutin, manfaatnya tidak hanya mengurangi nyeri haid, tetapi juga meningkatkan kesadaran remaja terhadap kesehatan reproduksinya,” kata Gita.
Pelaksanaan kegiatan dibagi ke dalam dua tahap, yaitu pelatihan dan pendampingan. Pada tahap pelatihan, materi disampaikan secara interaktif melalui demonstrasi langsung, penggunaan media visual, serta sesi tanya jawab. Pendekatan ini dilakukan agar peserta memahami teknik yang benar dan aman.

Peran mahasiswa Diploma III Kebidanan menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Mereka berperan sebagai mentor sebaya yang membantu menjembatani pemahaman ilmiah dengan bahasa yang lebih mudah diterima remaja.
“Keterlibatan mahasiswa membuat suasana pelatihan lebih cair. Remaja putri menjadi lebih berani bertanya dan berdiskusi mengenai masalah yang selama ini dianggap sensitif,” ungkap Gita.
Selain remaja putri, kader Posyandu Remaja juga dilibatkan secara aktif. Kader tidak hanya dilatih sebagai peserta, tetapi juga dipersiapkan sebagai fasilitator keberlanjutan program.
“Kami melatih kader agar mampu memantau pelaksanaan latihan, memberikan koreksi jika ada gerakan yang kurang tepat, serta mengintegrasikan latihan ini dalam kegiatan rutin Posyandu Remaja,” imbuhnya.
Dampak dan Hasil yang Diperoleh
Hasil awal dari program ini menunjukkan dampak positif yang signifikan. Berdasarkan observasi dan laporan peserta, terjadi penurunan intensitas nyeri haid, serta peningkatan pengetahuan remaja mengenai manajemen kesehatan reproduksi.
“Remaja menjadi lebih percaya diri dan tidak langsung bergantung pada obat pereda nyeri. Mereka mulai memahami bahwa tubuh mereka bisa dikelola dengan cara yang lebih sehat,” ujar Gita.
Selain manfaat fisik, program ini juga memberikan dampak psikologis berupa peningkatan rasa kontrol diri dan kepercayaan diri pada remaja putri.
Keterlibatan kader Posyandu menjadi kunci keberlanjutan program ini. Dengan adanya kader terlatih, praktik Abdominal Exercise dan Kegel Exercise diharapkan terus dilakukan meski kegiatan PkM telah selesai.
“Harapannya, Posyandu Remaja bisa menjadi pusat edukasi kesehatan reproduksi yang aktif dan berkelanjutan, serta mampu mencetak remaja putri yang mandiri dan sadar akan kesehatan dirinya,” pungkas Gita.
Kegiatan PkM ini menjadi contoh intervensi kesehatan komunitas yang tepat sasaran. Tidak hanya membantu mengatasi dismenore, program ini juga membangun kapasitas masyarakat, khususnya remaja putri dan kader kesehatan, sehingga layak dijadikan model dan direplikasi di wilayah lain.







