Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Ketenger merupakan salah satu pembangkit listrik tertua di Indonesia yang hingga kini masih beroperasi. Berlokasi di kawasan lereng Gunung Slamet, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, PLTA Ketenger menjadi tonggak awal pemanfaatan energi air untuk kelistrikan di wilayah Banyumas dan sekitarnya.
- 1918 – Awal Gagasan Pembangunan PLTA
- 1926 – Konsesi Resmi Diterbitkan
- 1929 – Pembangunan Mengalami Penundaan
- 1935–1937 – Pembangunan Infrastruktur Utama
- 1937–1939 – Instalasi Turbin dan Generator
- 1939 – PLTA Ketenger Resmi Beroperasi
- 1945–1960-an – Masa Transisi Pasca Kemerdekaan
- 1998–1999 – Penambahan Unit Pembangkit
- 2008 – Peningkatan Kapasitas
- Saat Ini – Warisan Energi yang Tetap Beroperasi
Berikut rangkuman timeline sejarah PLTA Ketenger yang disusun secara kronologis untuk memudahkan Anda memahami perjalanan panjang pembangkit listrik ini dari masa kolonial hingga era modern.
1918 – Awal Gagasan Pembangunan PLTA
Gagasan pembangunan pembangkit listrik tenaga air di kawasan Ketenger mulai muncul pada tahun 1918. Pemerintah kolonial Hindia Belanda melihat potensi besar aliran sungai di lereng Gunung Slamet sebagai sumber energi listrik yang stabil dan berkelanjutan.
1926 – Konsesi Resmi Diterbitkan
Pada 20 November 1926, pemerintah kolonial secara resmi menerbitkan konsesi pembangunan pembangkit listrik di wilayah Banyumas. Langkah ini menandai dimulainya perencanaan teknis PLTA sebagai bagian dari proyek elektrifikasi regional.
1929 – Pembangunan Mengalami Penundaan
Pembangunan fisik PLTA sempat terhenti pada tahun 1929. Berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi global hingga tantangan geografis, membuat proyek ini berjalan lebih lambat dari rencana awal.
1935–1937 – Pembangunan Infrastruktur Utama
Memasuki pertengahan 1930-an, proyek kembali dilanjutkan. Pada fase ini dibangun infrastruktur utama seperti bendungan, saluran air, pipa beton bertulang, dan kolam penampung. Tahap ini menjadi fondasi penting bagi operasional pembangkit.
1937–1939 – Instalasi Turbin dan Generator
Tahap lanjutan pembangunan dilakukan dengan pemasangan pipa pesat, pembangunan gedung sentral, serta instalasi turbin dan generator. Proses ini menjadi penentu kesiapan PLTA untuk mulai beroperasi secara penuh.
—
1939 – PLTA Ketenger Resmi Beroperasi
Tahun 1939 menjadi tonggak bersejarah. PLTA resmi beroperasi dan mulai menyuplai listrik untuk wilayah Banyumas dan sekitarnya. Pada masanya, pembangkit ini menjadi simbol kemajuan teknologi dan modernisasi infrastruktur energi di daerah.
1945–1960-an – Masa Transisi Pasca Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan PLTA Ketenger beralih ke pemerintah Indonesia. Pembangkit ini kemudian menjadi bagian dari sistem kelistrikan nasional dan dikelola oleh perusahaan listrik negara yang kelak dikenal sebagai PLN.
1998–1999 – Penambahan Unit Pembangkit
Untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi, dilakukan pembangunan unit tambahan pada akhir 1990-an. Langkah ini menandai modernisasi PLTA tanpa menghilangkan struktur dan fungsi utama bangunan bersejarahnya.
2008 – Peningkatan Kapasitas
Unit pembangkit kembali ditambah pada tahun 2008. Dengan tambahan ini, total kapasitas terpasang PLTA mencapai sekitar 8,5 megawatt, memperkuat perannya dalam sistem kelistrikan regional.
Saat Ini – Warisan Energi yang Tetap Beroperasi
Hingga kini, PLTA Ketenger masih beroperasi dan terhubung dengan jaringan listrik Jawa-Madura-Bali. Selain sebagai sumber energi terbarukan, PLTA ini juga menjadi warisan sejarah yang mencerminkan perjalanan panjang pembangunan infrastruktur listrik di Indonesia.
PLTA ini bukan sekadar pembangkit listrik, melainkan saksi sejarah pemanfaatan energi air di Indonesia. Dari gagasan awal pada 1918 hingga resmi beroperasi pada 1939 dan terus bertahan hingga kini, PLTA Ketenger menunjukkan bahwa energi terbarukan memiliki peran penting dalam pembangunan berkelanjutan.
*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.







