Seputar BanyumasSeputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Pencarian
  • Beranda
  • Banyumas
  • Cilacap
  • Purbalingga
  • Banjarnegara
  • Jateng
  • Nasional
  • Olahraga
  • Plesiran
  • Ragam
  • Risalah
  • Opini
  • Indeks
Ikuti Kami
© 2025 Seputar Banyumas. All Rights Reserved.
Seputar Banyumas > Artikel > Banjarnegara > Mengenal Beras Jenggawur, Primadona dari Banjarnegara yang Tembus Pasar Nasional
Banjarnegara

Mengenal Beras Jenggawur, Primadona dari Banjarnegara yang Tembus Pasar Nasional

Heri C
Terakhir diperbarui: 13 Januari 2026 17:39
Heri C
Membagikan
beras jenggawur
Pranyoto, Kepala Desa Jenggawur Banjarnegara menunjukkan beras Jenggawur yang berhasil tembus pasar nasional, Senin (12/1/2026). (dok Heri C)
Membagikan

Jauh sebelum masa panen tiba, gabah dari sawah-sawah Desa Jenggawur, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, kerap lebih dulu habis dipesan. Beras Jenggawur—demikian ia dikenal—telah lama menjadi primadona lokal yang kini merambah pasar nasional.

Di kalangan konsumen, beras ini disejajarkan dengan sejumlah beras premium Nusantara, seperti Delanggu dari Klaten, Pandawangi dari Cianjur, hingga beras Brastagi dari Sumatera Utara. Citra premium itu lahir bukan semata dari varietas, melainkan dari faktor alam yang spesifik.

Koordinator Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Banjarmangu, Cahyana Sembada, menyebut keunggulan utama Beras Jenggawur terletak pada karakter lahan dan sumber airnya.

“Tekstur tanahnya berbeda, dan pengairannya langsung dari Sungai Merawu. Faktor lokasi ini membuat rasa nasi Jenggawur lebih pulen dan enak, meskipun varietasnya sama dengan daerah lain,” kata Cahyana, Senin (12/1/2026).

Saat ini, petani Jenggawur mengandalkan varietas Inpari 32 sebagai andalan produksi, menggantikan varietas lama IR 64. Sementara varietas Barito, yang dikenal unggul dari sisi rasa, masih dibudidayakan meski luasan tanamnya kian menyusut.

Baca juga  Deteksi Dini HIV, Satpol PP dan Dinkes Sasar Pekerja Hiburan Malam

Secara keseluruhan, luasan baku sawah di Desa Jenggawur mencapai 121 hektare. Produktivitasnya tergolong tinggi, dengan rata-rata hasil panen 5 ton hingga 7,5 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare.

Gabah kering panen di tingkat petani dihargai minimal Rp6.500 per kilogram, sementara harga beras jenggawur di pasaran berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp16.500 per kilogram.

Tingginya permintaan membuat sistem jual beli gabah kerap dilakukan secara inden. Tengkulak dari berbagai daerah mulai Wonosobo, Semarang, hingga Jakarta berani memesan gabah jauh sebelum panen.

Untuk menjaga kualitas dan mengejar efisiensi produksi, Dinas Pertanian mulai memperkenalkan mekanisasi pertanian. Salah satu teknologi yang kini diuji coba adalah drone penyemprot pupuk dan pestisida.

“Satu unit drone bisa menyelesaikan penyemprotan satu hektare sawah dalam waktu sekitar satu jam. Kalau manual, bisa seharian,” ujar Cahyana. Meski harga perangkat tersebut mencapai Rp270 juta, teknologi ini dinilai relevan di tengah menyusutnya tenaga kerja tani, terutama buruh tanam dan buruh semprot.

Beras Jenggawur Diharapkan Kukuhkan Posisi

Sementara itu, Kepala Desa Jenggawur, Pranyoto, mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir, pola tanam serentak sempat terganggu akibat jebolnya Bendungan Clangap.

Baca juga  Dokter Spesialis Ini Turun ke Desa di Banjarnegara, Ini Targetnya

“Kami menyiasatinya dengan saluran cadangan agar produksi tetap berjalan. Prioritas kami tetap memenuhi kebutuhan pangan warga Jenggawur dan Kecamatan Banjarmangu lebih dulu,” kata Pranyoto.

Terkait distribusi, ia mengakui bahwa hingga kini sebagian besar gabah masih diserap pedagang perorangan karena menawarkan harga lebih tinggi. Namun ke depan, pemerintah desa berencana memperkuat peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan menjalin sinergi dengan Koperasi Merah Putih.

“Ke depan ingin kami satukan sebagai produk unggulan desa lewat BUMDes. Tujuannya agar petani lebih sejahtera, sekaligus harga beras tetap stabil bagi masyarakat Banjarnegara,” ujarnya.

Dengan dukungan teknologi dan tata niaga yang lebih tertata, beras Jenggawur dari lereng Merawu ini diharapkan terus mengukuhkan posisinya di pasar nasional tanpa meninggalkan akar kesejahteraan petani desa.

*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.

 

TAG:beras jenggawur
Artikel Sebelumnya mobil Detik-detik Mobil Buah Mundur Hantam Bangunan di Kalibombong Banjarnegara
Artikel Selanjutnya tambaknegara 5 Aktivitas Seru Berwisata di Tambaknegara Banyumas, Dari Susur Sungai Serayu hingga Kripik Tempe
TAHUN BARU
HUT PBG 25
HUT PBG 25 HR IRAWAN
HUT PBG 25 MKKS
HUT PBG 25 MUKODAM

Tetap Update Berita Terbaru!

Follow akun media sosial Seputar Banyumas dan jangan lewatkan kabar penting seputar Banyumas dan sekitarnya!
FacebookSuka
XMengikuti
InstagramMengikuti
YoutubeSubscribe
TiktokMengikuti

Mungkin Anda Suka

Rapat MBG dan Validasi data penerima manfaat
Banjarnegara

Rakor MBG Digelar, Pemkab Banjarnegara Tekankan Akurasi Data Penerima Manfaat

Oleh Syarif TM
Isra Miraj, siswa SRMP bersihkan Masjid
BanjarnegaraRisalah

Peringati Isra Miraj, Siswa SRMP 27 Banjarnegara Bersihkan Masjid, Tanamkan Nilai Ibadah Sejak Dini

Oleh Syarif TM
Gus Mikh
Banjarnegara

Makna Isra Miraj 1447 H: Gus Mikh Banjarnegara Ajak Umat Jadikan Salat sebagai Penguat Iman di Era Modern

Oleh Heri C
Evaluasi Kader JKN
BanjarnegaraKebumenPurbalingga

Kader JKN Disiapkan Lebih Profesional, BPJS Kesehatan Kebumen Gelar Evaluasi

Oleh Syarif TM
Seputar BanyumasSeputar Banyumas
Ikuti Kami
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Hubungi Kami
  • Disclaimer
  • Terms of Service
  • Kebijakan Privasi
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan 
  • Kode Etik Jurnalistik
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?