Jauh sebelum masa panen tiba, gabah dari sawah-sawah Desa Jenggawur, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara, kerap lebih dulu habis dipesan. Beras Jenggawur—demikian ia dikenal—telah lama menjadi primadona lokal yang kini merambah pasar nasional.
Di kalangan konsumen, beras ini disejajarkan dengan sejumlah beras premium Nusantara, seperti Delanggu dari Klaten, Pandawangi dari Cianjur, hingga beras Brastagi dari Sumatera Utara. Citra premium itu lahir bukan semata dari varietas, melainkan dari faktor alam yang spesifik.
Koordinator Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Banjarmangu, Cahyana Sembada, menyebut keunggulan utama Beras Jenggawur terletak pada karakter lahan dan sumber airnya.
“Tekstur tanahnya berbeda, dan pengairannya langsung dari Sungai Merawu. Faktor lokasi ini membuat rasa nasi Jenggawur lebih pulen dan enak, meskipun varietasnya sama dengan daerah lain,” kata Cahyana, Senin (12/1/2026).
Saat ini, petani Jenggawur mengandalkan varietas Inpari 32 sebagai andalan produksi, menggantikan varietas lama IR 64. Sementara varietas Barito, yang dikenal unggul dari sisi rasa, masih dibudidayakan meski luasan tanamnya kian menyusut.
Secara keseluruhan, luasan baku sawah di Desa Jenggawur mencapai 121 hektare. Produktivitasnya tergolong tinggi, dengan rata-rata hasil panen 5 ton hingga 7,5 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare.
Gabah kering panen di tingkat petani dihargai minimal Rp6.500 per kilogram, sementara harga beras jenggawur di pasaran berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp16.500 per kilogram.
Tingginya permintaan membuat sistem jual beli gabah kerap dilakukan secara inden. Tengkulak dari berbagai daerah mulai Wonosobo, Semarang, hingga Jakarta berani memesan gabah jauh sebelum panen.
Untuk menjaga kualitas dan mengejar efisiensi produksi, Dinas Pertanian mulai memperkenalkan mekanisasi pertanian. Salah satu teknologi yang kini diuji coba adalah drone penyemprot pupuk dan pestisida.
“Satu unit drone bisa menyelesaikan penyemprotan satu hektare sawah dalam waktu sekitar satu jam. Kalau manual, bisa seharian,” ujar Cahyana. Meski harga perangkat tersebut mencapai Rp270 juta, teknologi ini dinilai relevan di tengah menyusutnya tenaga kerja tani, terutama buruh tanam dan buruh semprot.
Beras Jenggawur Diharapkan Kukuhkan Posisi
Sementara itu, Kepala Desa Jenggawur, Pranyoto, mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir, pola tanam serentak sempat terganggu akibat jebolnya Bendungan Clangap.
“Kami menyiasatinya dengan saluran cadangan agar produksi tetap berjalan. Prioritas kami tetap memenuhi kebutuhan pangan warga Jenggawur dan Kecamatan Banjarmangu lebih dulu,” kata Pranyoto.
Terkait distribusi, ia mengakui bahwa hingga kini sebagian besar gabah masih diserap pedagang perorangan karena menawarkan harga lebih tinggi. Namun ke depan, pemerintah desa berencana memperkuat peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan menjalin sinergi dengan Koperasi Merah Putih.
“Ke depan ingin kami satukan sebagai produk unggulan desa lewat BUMDes. Tujuannya agar petani lebih sejahtera, sekaligus harga beras tetap stabil bagi masyarakat Banjarnegara,” ujarnya.
Dengan dukungan teknologi dan tata niaga yang lebih tertata, beras Jenggawur dari lereng Merawu ini diharapkan terus mengukuhkan posisinya di pasar nasional tanpa meninggalkan akar kesejahteraan petani desa.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.







