Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang jatuh pada Jumat, 16 Januari 2026, kembali menjadi momentum refleksi penting bagi umat Islam. Ulama muda Banjarnegara sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Alifbaa, Muhammad Mikhdlom Nihrir atau akrab disapa Gus Mikh, menegaskan bahwa Isra Miraj bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan pengingat utama tentang kewajiban salat sebagai fondasi kehidupan seorang Muslim.
Menurut Gus Mikh, Isra Miraj merupakan peristiwa agung ketika Rasulullah SAW menerima perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah SWT. “Salat adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan tanpa perantara. Ini menandakan betapa sentral dan pentingnya salat dalam menjaga iman umat Islam,” ujarnya.
Isra Miraj diperingati setiap tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriah. Pada momen ini, umat Islam biasanya mengisinya dengan berbagai amalan, seperti puasa sunnah Rajab, bersedekah, doa bersama, pengajian, hingga mendengarkan ceramah keagamaan. Seluruh rangkaian tersebut bertujuan untuk memperkuat iman serta meneguhkan kembali kesadaran bahwa salat adalah kebutuhan ruhani dalam kehidupan sehari-hari.
Secara historis, peristiwa Isra Miraj terjadi sekitar tahun 621 Masehi di Kota Mekah, pada masa yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn’ atau tahun duka. Saat itu, Nabi Muhammad SAW tengah menghadapi cobaan berat dengan wafatnya dua sosok pendukung utama dakwah, yakni Siti Khadijah dan Abu Thalib, di tengah tekanan serta boikot kaum Quraisy.
Isra Miraj terbagi dalam dua peristiwa besar. Isra, yakni perjalanan malam Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sebagaimana tertuang dalam firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra ayat 1. Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan Nabi SAW naik ke Sidratul Muntaha, bertemu para nabi, hingga menerima perintah salat. Awalnya diwajibkan 50 waktu, kemudian diringankan menjadi lima waktu sehari, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits sahih Bukhari dan Muslim.
“Di saat Nabi berada pada titik paling rapuh dalam hidupnya, Allah justru menghadiahkan salat sebagai penguat jiwa dan penopang iman. Berdasarkan riwayat, ada peristiwa besar yaitu waftanya dua orang yang dicintai Nabi yaitu istri Khadijah dan sebulan kemudian sang paman Abu Tholib serta tekanan dan gangguan secara fisik dakwah Nabi termasuk di Thoif, ” jelas Gus Mikh.
Gus Mikh Singgung Kualitas Iman
Ia menambahkan, di era modern seperti sekarang, tantangan umat Islam tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mental dan digital. Arus informasi, media sosial, serta tekanan hidup sering kali menjadi distraksi yang melemahkan fokus ibadah. Oleh karena itu, Gus Mikh mengajak umat Islam menjadikan salat lima waktu sebagai “mi’raj harian” untuk menjaga kedekatan dengan Allah SWT.
Selain ibadah personal, pemaknaan Isra Miraj juga perlu diwujudkan dalam aksi sosial nyata. Sedekah, berbagi ilmu, serta kegiatan kemanusiaan menjadi cerminan iman yang hidup dan berdampak bagi sesama.
“Isra Miraj jangan berhenti sebagai seremoni tahunan. Intinya adalah bagaimana kualitas iman kita terus meningkat, meskipun hidup di tengah dunia yang penuh distraksi,” pungkasnya.
Peringatan Isra Miraj 2026 pun kembali menegaskan pesan utama bahwa salat adalah hadiah langsung dari Allah SWT, lahir dari peristiwa agung di tengah ujian terberat Rasulullah SAW, sekaligus menjadi jalan penguat iman bagi umat hingga akhir zaman.
*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.







