Pernahkah kita memperhatikan sosok pemulung atau tukang rongsok yang mendorong gerobak di tepi jalan, menyusuri tumpukan sampah sejak pagi hingga senja? Atau suara khas tukang rongsok yang berkeliling kampung menawarkan jasa membeli barang bekas? Bagi sebagian orang, pekerjaan ini kerap dipandang remeh, kotor, bahkan dihindari. Padahal, di balik pemandangan itu, pemulung dan tukang rongsok memegang peran penting dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Pemulung adalah individu yang mengumpulkan barang-barang bekas bernilai ekonomis dari tempat pembuangan sampah, jalanan, hingga sudut-sudut kota. Sementara tukang rongsok menjadi mata rantai berikutnya yang membeli, memilah, dan menyalurkan barang bekas itu ke pengepul atau industri daur ulang. Keduanya bekerja tanpa seragam, tanpa perlindungan sosial memadai, namun kontribusinya nyata.
Setiawan, pengepul rongsok di Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara mengatakan, bagi pemulung dan tukang rongsok, sampah bukan sekadar limbah. Botol plastik, kardus, besi tua, hingga kertas bekas adalah sumber penghidupan. “Mereka melihat nilai di balik barang yang telah dianggap tak berguna. Dari tangan-tangan merekalah, ribuan kilogram sampah setiap hari terselamatkan dari berakhir di tempat pembuangan akhir,” katanya.
Pemulung dan Tukang Rongsok Beri Dampak pada Lingkungan
Menurut Setiawan, peran mereka berdampak langsung pada lingkungan. Dengan memilah dan mengumpulkan sampah anorganik, pemulung membantu mengurangi volume sampah yang harus ditangani pemerintah. Proses ini juga menekan pencemaran tanah dan air serta mengurangi emisi karbon dari pembakaran atau penumpukan sampah.
“Tak hanya soal lingkungan, pemulung dan tukang rongsok juga berkontribusi pada ekonomi sirkular. Barang bekas yang mereka kumpulkan menjadi bahan baku industri daur ulang. Rantai ekonomi ini menghidupi banyak pihak dari tukang rongsok, pengepul, hingga pabrik pengolahan serta menciptakan lapangan kerja lainnya,” katanya.
Namun, di balik peran penting itu, kehidupan mereka tak selalu mudah. Penghasilan yang tak menentu, risiko kesehatan, hingga stigma sosial menjadi bagian dari keseharian. Banyak dari mereka tetap bekerja meski hujan turun atau terik matahari menyengat, demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Sudut pandang masyarakat perlahan perlu berubah. Pekerjaan pemulung dan tukang rongsok bukanlah sesuatu yang hina, melainkan bentuk kontribusi nyata terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan. Tanpa mereka, sampah akan menumpuk lebih cepat, kota akan semakin sesak, dan beban pengelolaan lingkungan kian berat,” katanya.
Di tengah krisis sampah yang terus mengancam, pengumpul barang bekas sejatinya adalah pahlawan sunyi. Mereka bekerja dalam diam, tanpa sorotan, namun manfaatnya dirasakan banyak orang. Menghargai mereka berarti menghargai lingkungan dan mengakui bahwa dari sesuatu yang kita buang, selalu ada nilai yang bisa diselamatkan bahkan menjadi penghasilan orang lain.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



