Penetapan Cagar Budaya Banjarnegara Prioritaskan Manfaat Ekonomi dan Edukasi

Syarif TM
Tim saat melakukan rapat koordinasi terkait cagar budaya di Banjarnegara. (dok. Kominfo)

KABUPATEN Banjarnegara memiliki ratusan Objek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB). Untuk itu, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banjarnegara menyusun skala prioritas kajian, agar penetapanya dilakukan secara selektif dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Penetapan cagar budaya tidak hanya berorientasi pada pelestarian, tetapi juga mempertimbangkan aspek multiefek, mulai dari potensi ekonomi, pengembangan pengetahuan, hingga keterkaitan dengan sektor pariwisata.

Kajian Cagar Budaya Harus Memberi Dampak Nyata

Anggota TACB Banjarnegara, Sugeng Waluyo, menegaskan bahwa setiap kajian ODCB harus dilakukan secara mendalam dan komprehensif sebelum ditetapkan sebagai cagar budaya.

“Penetapan cagar budaya harus dipikirkan dampaknya. Apakah mampu menggerakkan ekonomi lokal dan memperkaya pengetahuan masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

Selain kajian teknis, TACB juga mendorong sosialisasi aktif kepada masyarakat, baik melalui platform digital, media sosial, maupun laman resmi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Banjarnegara, agar keberadaan cagar budaya semakin dikenal dan dimanfaatkan.

Baca juga  Belajar ke KONI Banjarnegara, KONI Brebes Pertanyakan Pengelolaan KOK

Sugeng menyebutkan, salah satu fokus kajian tahun ini adalah Kawasan Kota Lama Klampok sebagai bagian dari dukungan Program Kota Pusaka. Sejumlah objek direncanakan segera diajukan kepada Bupati Banjarnegara untuk ditetapkan sebagai cagar budaya, antara lain Kawedanan Klampok, Polsek, Kantor Kecamatan, Makam Wargo Hutomo, dan Kantor Pos Klampok.

“Lokasinya sangat strategis untuk pengembangan wisata sejarah, apalagi didukung dengan sentra kerajinan keramik Klampok,” katanya.

Kota Lama Jadi Wisata Edukasi Sejarah di Kawasan Kota

Selain Klampok, TACB juga akan mengkaji Makam Selamanik serta Bendungan Bandjar Tjahjana Werken yang berada di kawasan Serulingmas Zoo.

Dengan pengembangan ini, pengunjung tidak hanya menikmati rekreasi dan edukasi satwa, tetapi juga mendapatkan story telling sejarah, mulai dari tokoh Selamanik yang terkait dengan Sunan Giri dan penyebaran Islam di Banjarnegara, hingga bendungan peninggalan kolonial yang dulunya merupakan mega proyek irigasi dan hingga kini masih dimanfaatkan masyarakat.

Dukung Indeks Pemajuan Kebudayaan

Sementara itu, Kabid Kebudayaan Dinparbud Banjarnegara, Kuat Herry Isnanto, menyampaikan bahwa bukti peninggalan sejarah ini menjadi salah satu indikator dalam Indeks Pemajuan Kebudayaan (IPK).

Baca juga  Pemkab Banjarnegara Benahi SIKAP, Wabup Tegaskan ASN Dilarang Copy-Paste Laporan

“Di tengah keterbatasan anggaran, keberadaannya akan kita optimalkan. Harapannya masyarakat sekitar ikut mendukung pelestarian sekaligus pemanfaatannya agar berdampak pada ekonomi dan edukasi,” ujarnya.

Dengan pendekatan, diharapkan tidak hanya terjaga kelestariannya, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan dan pembelajaran bagi masyarakat.

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!