Iman seringkali dianggap hanya sebatas pengakuan lisan atau status yang tertera di kartu identitas. Namun, benarkah keyakinan kita sudah benar-benar hidup di dalam jiwa?
- Pertama, Hati Mudah Tersentuh Saat Nama Allah Disebut
- Kedua, Ayat Al-Qur’an Menambah Iman, Bukan Sekadar Informasi
- Ketiga, Iman Mendorong Perubahan, Meski Perlahan
- Keempat, Hati Lebih Tenang Saat Bersandar kepada Allah
- Kelima, Iman Terlihat dalam Sikap, Bukan Hanya Ritual
- Keenam, Mudah Introspeksi, Sulit Merasa Paling Benar
- Ketujuh, Selalu Ingin Mendekat, Meski Pernah Menjauh
Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”
(QS. Al-Anfal: 2)
Al-Qur’an melalui Surat Al-Anfal ayat 2 memberikan gambaran yang sangat jujur dan mendalam mengenai ciri-ciri seseorang yang memiliki iman ‘berdenyut’. Iman yang hidup bukan sekadar teori, melainkan getaran yang memengaruhi cara berpikir, bersikap, hingga langkah kaki dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam ayat tersebut, Allah SWT menjelaskan bahwa indikator utama iman yang hidup adalah adanya respon batiniah yang kuat saat nama Allah disebut dan saat ayat-ayat-Nya dibacakan. Hal ini menjadi cermin bagi kita semua untuk berefleksi: apakah hati kita masih bergetar, ataukah sudah mulai membatu di tengah hiruk-pikuk dunia?
Iman bukan sekadar kata yang kita ucapkan, bukan pula status yang tertulis di identitas. Iman adalah sesuatu yang hidup—berdenyut di dalam hati, memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan melangkah. Al-Qur’an memberi kita gambaran yang sangat jujur tentang iman yang benar-benar hidup.
Ayat ini bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengajak kita bercermin. Sudah sejauh mana iman itu benar-benar hidup di hati kita? Berikut tujuh tanda iman yang hidup—bukan sekadar di lisan, tapi terasa nyata di dalam jiwa.
Pertama, Hati Mudah Tersentuh Saat Nama Allah Disebut
Iman yang hidup membuat hati kita lembut. Bukan berarti selalu menangis, tapi ada rasa hormat, takut, cinta, dan rindu saat nama Allah disebut. Ada getaran halus di dalam dada—kesadaran bahwa kita sedang berhadapan dengan Yang Maha Besar. Jika nama Allah disebut dan hati kita biasa saja, itu bukan tanda iman hilang, tapi sinyal bahwa iman butuh disiram kembali.
Kedua, Ayat Al-Qur’an Menambah Iman, Bukan Sekadar Informasi
Orang beriman bukan hanya membaca Al-Qur’an untuk tahu isinya, tapi untuk menghidupkan hatinya. Setiap ayat terasa seperti pesan pribadi. Kadang menenangkan, kadang menegur, kadang menyadarkan. Iman yang hidup membuat kita bertanya: “Apa yang Allah ingin perbaiki dari diriku lewat ayat ini?” Bukan hanya selesai membaca, tapi ingin berubah.
Ketiga, Iman Mendorong Perubahan, Meski Perlahan
Iman yang hidup tidak selalu membuat seseorang langsung sempurna. Tapi ia selalu mendorong ke arah yang lebih baik. Ada penyesalan saat salah, ada keinginan kuat untuk memperbaiki diri, walau sering jatuh lagi. Orang yang imannya hidup tidak bangga dengan dosanya, dan tidak nyaman berlama-lama dalam maksiat.
Keempat, Hati Lebih Tenang Saat Bersandar kepada Allah
Ayat ini menutup dengan satu sikap penting: tawakal. Iman yang hidup membuat kita berusaha sungguh-sungguh, tapi hati tetap tenang karena yakin Allah yang mengatur hasilnya. Kita boleh lelah, boleh kecewa, tapi tidak putus asa. Sebab iman yang hidup tahu: Allah tidak pernah lalai, bahkan saat doa belum dikabulkan.
Kelima, Iman Terlihat dalam Sikap, Bukan Hanya Ritual
Shalat, puasa, dan ibadah lainnya penting. Tapi iman yang hidup juga terlihat dalam akhlak: cara berbicara, kejujuran, kesabaran, dan empati. Iman yang hanya di lisan sering berhenti di sajadah. Iman yang hidup berjalan bersama kita—di rumah, di jalan, di tempat kerja, bahkan saat sendirian.
Keenam, Mudah Introspeksi, Sulit Merasa Paling Benar
Orang yang imannya hidup lebih sibuk memperbaiki diri daripada menghakimi orang lain. Ia mudah menunduk saat diingatkan, dan cepat memohon ampun saat salah. Bukan karena ia lemah, tapi karena ia sadar: iman adalah amanah, bukan prestasi. Semakin dekat kepada Allah, semakin rendah hati.
Ketujuh, Selalu Ingin Mendekat, Meski Pernah Menjauh
Iman yang hidup bisa melemah, tapi tidak mati. Ia mungkin redup saat lalai, tapi selalu rindu untuk kembali. Ada dorongan untuk mendekat kepada Allah—entah lewat doa sederhana, dzikir pelan, atau sekadar menyesali dosa dalam diam. Selama masih ada rindu untuk kembali, iman itu masih hidup.
QS. Al-Anfal ayat 2 tidak sedang menggambarkan manusia sempurna, tapi manusia yang hatinya terhubung dengan Allah. Iman bukan sesuatu yang statis; ia bisa tumbuh, bisa melemah, tergantung bagaimana kita merawatnya. Dengan mengingat Allah, membaca Al-Qur’an dengan hati, dan belajar bersandar penuh kepada-Nya.
Jika hari ini iman terasa lelah, itu bukan akhir segalanya. Justru itu tanda bahwa iman masih hidup—karena yang mati tidak pernah merasa apa-apa. Mari kita jujur pada diri sendiri, lalu perlahan kembali. Sebab iman yang hidup tidak menuntut kita sempurna, hanya mengajak kita terus pulang kepada Allah.
*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.



