PERAN Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke depan bisa menjadi duta investasi dunia, untuk itu Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan komitmennya mendukung program pemerintah pusat dalam mencetak pekerja migran yang profesional dan berdaya saing global.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa provinsi yang dipimpinnya memiliki ekosistem pendidikan vokasi dan pelatihan yang kuat untuk menyiapkan tenaga kerja migran yang kompeten, terlindungi, serta mampu membawa citra positif Indonesia di luar negeri.
Pernyataan tersebut disampaikan Ahmad Luthfi saat menerima kunjungan Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kamis (5/3/2026).
“Pekerja migran kita sebenarnya juga menjadi duta investasi Indonesia di luar negeri. Karena itu mereka harus disiapkan dengan baik agar tidak menjadi korban dari proses penempatan yang tidak sesuai aturan,” kata Luthfi.
Jumlah PMI Asal Jateng Terus Meningkat
Jawa Tengah dikenal sebagai salah satu daerah pengirim pekerja migran terbesar di Indonesia. Data penempatan PMI dari provinsi ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2021 tercatat sebanyak 17.440 pekerja asal Jawa Tengah bekerja di luar negeri. Angka tersebut meningkat drastis pada 2022 menjadi 47.493 orang, lalu kembali bertambah pada 2023 hingga mencapai 64.566 orang.
Tren peningkatan itu berlanjut pada 2024 dengan jumlah 66.610 PMI, sementara pada 2025 tercatat 62.276 pekerja asal Jawa Tengah yang bekerja di berbagai negara.
Beberapa kabupaten yang menjadi penyumbang terbesar tenaga kerja migran antara lain Cilacap, Kendal, Brebes, Pati, Grobogan, Banyumas, Sragen, dan Kebumen.
Didukung BLK, SMK, hingga Politeknik
Menurut Ahmad Luthfi, kesiapan Jawa Tengah dalam mencetak tenaga kerja migran profesional didukung oleh banyaknya lembaga pendidikan dan pelatihan yang tersedia di daerah.
Fasilitas tersebut meliputi Balai Latihan Kerja (BLK), sekolah vokasi, SMK, hingga politeknik yang dapat dimanfaatkan untuk membekali calon pekerja migran dengan keterampilan profesional.
Selain keterampilan kerja, calon PMI juga perlu dibekali dengan kemampuan bahasa serta pemahaman budaya negara tujuan agar mampu beradaptasi dengan baik.
“Persiapan harus lengkap, mulai dari kemampuan bahasa, pemahaman budaya negara tujuan, hingga keterampilan kerja. Dengan begitu mereka benar-benar siap bekerja sekaligus terlindungi,” ujarnya.
Ia juga menilai berbagai persoalan yang dialami pekerja migran di luar negeri sering kali berawal dari proses keberangkatan yang tidak sesuai prosedur.
Karena itu, pembenahan sistem sejak awal dinilai penting agar perlindungan terhadap pekerja migran bisa berjalan lebih optimal.
Target Nasional 500 Ribu Pekerja Migran Profesional
Sementara itu, Wakil Menteri P2MI Dzulfikar Ahmad Tawalla menyampaikan bahwa kunjungannya ke Jawa Tengah bertujuan memetakan potensi sarana dan prasarana untuk menyiapkan calon pekerja migran.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengoptimalkan sekitar 500 ribu calon pekerja migran Indonesia yang akan ditempatkan di berbagai sektor profesional di luar negeri.
“Arahan Presiden sangat jelas, kita ingin mengoptimalkan sekitar 500 ribu calon pekerja migran untuk ditempatkan di berbagai sektor profesional,” ujar Dzulfikar.
Ia juga mengapresiasi keseriusan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten, baik untuk kebutuhan tenaga kerja di dalam negeri maupun luar negeri.
Menurutnya, perlindungan pekerja migran harus dilihat sebagai sebuah ekosistem yang menyeluruh, mulai dari pendidikan vokasi, pelatihan bahasa, pengurusan dokumen, hingga proses penempatan kerja di negara tujuan.
Kapasitas Pendidikan Vokasi Jateng Capai 1,2 Juta Orang
Dzulfikar menilai kapasitas lembaga pendidikan dan pelatihan di Jawa Tengah sangat besar. Jika dihitung secara keseluruhan, daya tampung pendidikan vokasi di provinsi tersebut mencapai sekitar 1,2 juta orang.
Kapasitas tersebut berasal dari berbagai institusi pendidikan seperti sekolah vokasi, SMK, Balai Latihan Kerja, hingga politeknik.
“Ini kabar yang sangat menggembirakan bagi kami. Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk mendukung program nasional penyiapan pekerja migran profesional,” katanya.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, Kementerian P2MI bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana membentuk tim percepatan untuk merancang berbagai agenda strategis dalam meningkatkan kualitas sekaligus perlindungan pekerja migran Indonesia.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.




