Azan merupakan panggilan paling mulia yang bergema di muka bumi sebanyak lima kali dalam sehari. Namun, di tengah hiruk-pikuk aktivitas, seringkali suara merdu muazin tersebut hanya lewat begitu saja tanpa menyentuh sanubari.
Kalimat Hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falah adalah undangan langsung menuju kemenangan dan keberuntungan. Pertanyaannya, saat seruan itu menggetarkan langit, apakah hati kita ikut bergetar atau justru semakin tenggelam dalam urusan duniawi?
Melalaikan azan bukan sekadar masalah waktu, melainkan cerminan dari kondisi spiritual seseorang. Mari kita renungkan kembali, sejauh mana kita menghargai undangan Sang Pencipta di tengah kesibukan yang tak kunjung usai.
Betapa sering azan terdengar di sekitar kita. Dari masjid-masjid, mushalla, atau dari pengeras suara yang memanggil umat untuk datang kepada Allah. Tetapi banyak dari kita yang mendengarnya seperti mendengar suara biasa saja. Telinga mendengar, namun hati tidak tersentuh.
Sebagian orang masih sibuk dengan ponselnya, menonton, bekerja, atau bercakap-cakap. Azan berlalu begitu saja, seolah itu bukan panggilan dari Rabb yang menciptakan dirinya. Padahal setiap lafaz azan adalah undangan langsung dari Allah untuk bertemu dengan-Nya.
Bayangkan jika seorang raja besar memanggil kita secara langsung. Tentu kita akan segera datang dengan penuh hormat. Namun anehnya, ketika Allah — Raja segala raja — memanggil melalui azan, banyak manusia justru menunda, bahkan mengabaikannya.
Azan Bukan Sekadar Suara
Para sahabat Nabi memiliki sikap yang sangat berbeda. Ketika azan berkumandang, mereka seperti mendengar panggilan yang sangat agung. Mereka meninggalkan perdagangan, pekerjaan, bahkan percakapan, lalu bergegas menuju masjid dengan hati yang penuh rindu kepada Allah.
Bagi mereka, azan bukan sekadar suara. Azan adalah panggilan keselamatan. Azan adalah pengingat bahwa dunia hanya sementara, dan ada kehidupan yang jauh lebih besar setelahnya.
Sebaliknya, hati yang lalai sering kali tidak merasakan apa-apa ketika azan terdengar. Ia merasa masih punya banyak waktu. Ia berkata dalam hati, “Nanti saja.” Padahal tidak ada seorang pun yang tahu apakah ia masih hidup hingga waktu shalat berikutnya.
Sungguh menyedihkan ketika manusia begitu cepat merespons notifikasi dari ponselnya, tetapi lambat merespons panggilan Allah. Padahal yang memanggil dalam azan adalah Rabb yang memberi kita hidup, rezeki, dan segala nikmat yang kita rasakan setiap hari.
Azan sebenarnya adalah ujian bagi hati kita. Apakah kita termasuk orang yang mencintai pertemuan dengan Allah, atau termasuk orang yang lebih mencintai kesibukan dunia?
Orang yang hidup hatinya akan merasa gelisah jika mendengar azan tetapi belum berangkat shalat. Ia merasa ada sesuatu yang hilang jika belum memenuhi panggilan itu. Hatinya selalu ingin dekat dengan rumah Allah.
Sebaliknya, orang yang hatinya mulai tertutup akan merasa biasa saja. Azan datang dan pergi tanpa meninggalkan bekas di dalam jiwanya. Ia tidak merasa kehilangan apa pun.
Padahal setiap azan sebenarnya adalah rahmat. Allah sedang memanggil kita untuk membersihkan dosa, menenangkan jiwa, dan mengingat kembali tujuan hidup kita di dunia.
Mungkin hari ini kita masih bisa mendengar azan. Tapi suatu hari nanti, azan akan tetap berkumandang sementara kita sudah berada di dalam kubur. Saat itu kita akan sangat berharap diberi kesempatan sekali lagi untuk menjawab panggilan shalat.
Karena itu, ketika azan berikutnya berkumandang, berhentilah sejenak dari segala kesibukan. Dengarkan dengan hati yang sadar. Jawablah panggilan itu dengan langkah menuju shalat. Siapa tahu, itulah panggilan yang akan menyelamatkan hidup kita di dunia dan di akhirat.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.


