Sawah Mangkrak Akibat Banjir Lumpur, Petani Grobogan Minta Solusi ke Sekda Jateng

Syarif TM
Sekda Jateng saat meninjau lokasi banjir lumpur akibat jebolnya tanggul di Grobogan. (dok. Pemprov Jateng)

LEBIH dari 1,5 hektare lahan persawahan di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, mangkrak akibat banjir lumpur setelah jebolnya tanggung Sungai Tuntang.

Banjir lumpur menyebabkan sawah petani mangkrak, bahkan hingga kini belum dapat digarap setelah terdampak banjir lumpur akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang pada Februari lalu.

Kondisi tersebut dikeluhkan para petani kepada Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, saat menghadiri kegiatan di halaman Masjid Roudlotul Jannah, Desa Tinanding.

Salah seorang petani, Sumarsih, mengaku sawah miliknya seluas 1,5 hektare kini mangkrak karena tertutup endapan lumpur tebal. Akibat sedimentasi tersebut, posisi lahannya menjadi lebih tinggi dibanding area persawahan di sekitarnya sehingga air irigasi tidak dapat masuk.

“Saya ingin sawahnya dikeruk supaya bisa ditanami lagi,” ujar Sumarsih di hadapan Sekda Jateng.

Keluhan Petani Soal Banjir Lumpur Direspon Sekda Jateng

Keluhan terkait banjir lumpur akibat jebolnya tanggul itu langsung mendapat respons dari Sekda Sumarno. Bersama jajaran terkait, ia meninjau langsung kondisi sawah terdampak banjir lumpur untuk melihat tingkat kerusakan dan sedimentasi yang terjadi di lokasi.

Baca juga  Lawan Persak Kebumen di Semifinal Liga 4 Jateng Ditentukan Pagi Ini

Menurutnya, dampak jebolnya tanggul Sungai Tuntang membuat sebagian lahan pertanian warga hingga kini belum dapat difungsikan kembali untuk aktivitas tanam.

“Desa Tinanding kemarin terdampak tanggul jebol, ada sawah warga yang terkena lumpur. Sampai sekarang belum bisa beraktivitas untuk tanam,” kata Sumarno.

Pemprov Jateng Siapkan Langkah Pengerukan Lumpur

Dari hasil peninjauan lapangan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menilai pengerukan lumpur menjadi langkah paling memungkinkan agar lahan dapat kembali produktif.

Sumarno menjelaskan, elevasi tanah sawah yang tertimbun lumpur perlu disesuaikan dengan lahan di sekitarnya agar sistem irigasi kembali berfungsi normal.

“Solusinya memang harus dikeruk agar elevasinya sama dengan sawah di sebelahnya, sehingga air bisa mengalir dan menggenangi area sawah yang tertimbun,” katanya.

Ia menambahkan, berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), kawasan Desa Tinanding termasuk dalam zona Lahan Sawah Dilindungi (LSD) yang memiliki tingkat kesuburan tinggi dan menjadi salah satu wilayah penting bagi sektor pertanian di Kabupaten Grobogan.

Selain itu, tanggul yang jebol diketahui merupakan bagian dari saluran induk irigasi yang memiliki peran vital bagi ribuan hektare lahan pertanian di wilayah tersebut.

Baca juga  Cukup Bawa KTP, Layanan Kesehatan Speling Jadi Andalan Warga

“Kalau melihat RTRW, kawasan ini jelas masuk LSD karena memang daerahnya sangat subur. Sawah di sekitar lokasi juga masih ditanami dan terlihat hijau,” ungkapnya.

Penanganan Pascabencana Jadi Prioritas

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan penanganan sawah terdampak lumpur akan menjadi perhatian serius karena menyangkut mata pencaharian masyarakat.

Sumarno mengatakan, tim perencanaan Pemprov Jateng akan segera berkoordinasi untuk menentukan langkah teknis penanganan pascabencana agar lahan pertanian warga bisa kembali produktif.

“Nanti akan kami koordinasikan lebih lanjut. Kami dari tim perencanaan berkomitmen membantu menyelesaikan persoalan ini karena menyangkut mata pencaharian warga,” katanya.

*Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!