Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang memutuskan perkara dugaan pencucian uang masuk ke tahap pembuktian dari jaksa penuntut umum (JPU). Pada Senin (8/6/2026) JPU akan melakukan pembuktian pada dua terdakwa yakni Ahmad Yazid dan Andhi Nur Huda.
Ahmad Yazid atau Gus Yazid adalah Ketua Yayasan Silmi Kaffah Rancamulya. Sementara, Andhi Nur adalah mantan Direktur PT Rumpun Sari Antan. Keduanya tersangkut kasus karena Andhi memberikan uang Rp20 miliar pada Ahmad Yazid dan uang itu terkait dengan dugaan korupsi di Cilacap yang menyeret eks Sekda Cilacap Awaluddin Muuri.
Dalam sidang putusan sela Rabu (3/6/2026) majelis hakim menolak keberatan para terdakwa dan memutuskan untuk melanjutkan sidang dengan agenda pembuktian dari JPU.
Mula Perkara Pencucian Uang
Dugaan kasus korupsi ini terjadi antara tahun 2023 sampai 2024. Kala itu, Andhi Nur Huda masih berstatus sebagai Direktur PT Rumpun Sari Antan. Andhi ingin menjual tanah PT Rumpun Sari Antan di Kecamatan Cipari Kabupaten Cilacap pada Perumda Kawasan Industri Cilacap.
Hanya saja, Perumda Kawasan Industri Cilacap tidak memiliki bidang usaha di sektor perkebunan. Kemudian, Awaluddin Muuri yang saat itu sebagai Sekda Cilacap dan Iskandar Zulkarnain sebagai Plt Direktur Perumda Kawasan Industri Cilacap aktif memuluskan niat Andhi untuk menjual lahan.
Muuri dan Iskandar ngebet ingin membantu Andhi karena ada iming-iming fee jika tanah PT Rumpun Sari Antan di Cipari terjual. Di situlah kemudian dibuat badan usaha milik daerah (BUMD) yang baru yakni PT Cilacap Segara Artha (CSA).
PT CSA kemudian membeli lahan milik PT Rumpun Sari Antan di Cipari seluas 716 hektar dengan harga Rp237 miliar. Dari transaski tersebut diduga Muuri mendapatkan fee Rp1,8 miliar, Iskandar mendapatkan fee Rp4,3 miliar. Sisanya uang hasil penjualan digunakan oleh Andhi untuk kepentingan pribadi.
Persoalan makin ruwet karena setelah membeli tanah itu, PT CSA tak bisa menguasai tanah tersebut. Sebab, tanah PT Rumpun Sari Antan ternyata masih dalam penguasaan Kodam IV/Diponegoro. PT Rumpun Sari Antan hanyalah unit usaha di bawah yayasan milik Kodam. PT Rumpun Sari Antan bukan pemilik sah atas tanah yang dijual.
Akibatnya, PT CSA tidak memperoleh hak atas lahan, sementara uang ratusan miliar rupiah telah berpindah tangan. Dari situlah kemudian para terdakwa terseret kasus dan diproses oleh kejaksaan dan disidang di pengadilan.
Dari pembelian lahan yang bermasalah itu, Gus Yazid mendapatkan aliran uang sebesar Rp20 miliar.
“Bahwa tersangka diduga melakukan tindak pidana pencucian uang, yaitu menerima atau menguasai penempatan hasil tindak pidana korupsi dalam jual beli tanah seluas 700 hektar,” kata Kasi Penkum Kejati Jateng, Arfan Triono, Rabu (24/12/2025) seperti dikutip dari video di Instagram Kejati Jateng.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



