PEMERINTAH Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat upaya menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan. Salah satu langkah yang tengah didorong adalah pembentukan Satgas Anti-Bullying dan Anti-Kekerasan di seluruh Ponpes sebagai bagian dari perlindungan terhadap ratusan ribu santri di wilayah tersebut.
Komitmen itu disampaikan Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pesantren Ramah Perempuan dan Anak (Penak) bertema Membangun Kesadaran Kesehatan Mental dan Santri Konselor Sebaya yang digelar di Ponpes Al Mubarok, Kabupaten Wonosobo.
Menurut Nawal, penguatan kesehatan mental menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda, termasuk para santri, yang saat ini menghadapi berbagai tantangan sosial serta perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
“Kesehatan mental menjadi salah satu isu yang terus kami berikan penguatan agar generasi muda memiliki ketahanan emosional yang baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, edukasi kesehatan mental tidak hanya difokuskan di lingkungan pesantren, tetapi juga akan diperluas ke sekolah-sekolah. Materi terkait kesehatan mental dinilai penting diberikan sejak dini, termasuk saat masa orientasi siswa, sebagai upaya pencegahan terhadap berbagai persoalan psikologis yang kerap dialami remaja.
Penulis buku Pesantren Anti Bullying dan Kekerasan Seksual tersebut menilai bahwa kemampuan mengelola emosi dan membangun ketahanan diri menjadi bekal penting bagi generasi muda di era digital yang serba cepat dan penuh tekanan.
“Di tengah kehidupan yang serba instan, kemampuan mengelola emosi dan menghadapi tantangan harus terus dibina melalui pendampingan yang tepat,” katanya.
Tercatat 30 Kasus Kekerasan, Satgas Akan Dibentuk di 5.451 Pesantren
Dalam kesempatan itu, Nawal juga mengungkapkan masih adanya kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pesantren. Berdasarkan data Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah, terdapat 30 kasus kekerasan yang tercatat sepanjang periode 2019 hingga 2025.
Data tersebut menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sistem pencegahan melalui edukasi, pengawasan, dan mekanisme perlindungan yang lebih efektif di lingkungan Ponpes.
Atas arahan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, Pemprov Jawa Tengah kini mendorong pembentukan Satgas Anti-Bullying dan Anti-Kekerasan di seluruh pesantren.
Langkah tersebut dinilai strategis mengingat Jawa Tengah memiliki sekitar 5.451 pondok pesantren dengan jumlah santri mencapai 535.940 orang.
“Kami berharap satgas ini menjadi garda terdepan untuk menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri,” ujar Nawal.
Pesantren Didorong Jadi Ruang Aman bagi Perempuan dan Anak
Melalui program Pesantren Ramah Perempuan dan Anak, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah ingin memastikan bahwa Ponpes tidak hanya menjadi tempat pembelajaran ilmu agama, tetapi juga ruang yang mendukung kesehatan mental, penguatan karakter, serta perlindungan bagi perempuan dan anak.
Program tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran seluruh elemen pondok terhadap pentingnya pencegahan bullying, kekerasan fisik, kekerasan seksual, maupun bentuk perundungan lainnya.
Salah satu peserta kegiatan, Dinara Kholidya Safina, mengaku memperoleh wawasan baru mengenai kesehatan mental dan pentingnya memahami batasan-batasan perilaku yang termasuk bullying.
“Seminar ini membuat saya lebih memahami apa saja yang termasuk bullying dan bagaimana menciptakan Ponpes yang ramah perempuan dan anak,” katanya.
Dengan pembentukan Satgas Anti-Bullying dan Anti-Kekerasan serta penguatan edukasi kesehatan mental, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap seluruh pesantren dapat menjadi lingkungan pendidikan yang lebih aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang santri secara optimal.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



