RIBUAN warga memadati kawasan Pura Mangkunegaran, Surakarta, pada Selasa (16/6/2026) malam, mereka datang dari berbagai penjuru untuk menyaksikan Kirab Pusaka Hajad Dalem Mapag 1 Sura Be 1960, mereka juga ikut berebut air jamasan Pusaka Mangkunegaran.
Tradisi sakral jamasan Pusaka Mangkuneragan yang digelar setiap malam pergantian Tahun Baru Jawa tersebut kembali menjadi magnet budaya yang menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.
Sejak sore hari, jalan-jalan di sekitar Pura Mangkunegaran telah dipenuhi warga yang ingin menyaksikan prosesi kirab pusaka yang menjadi bagian penting dari tradisi Keraton Mangkunegaran. Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang rute kirab yang dipadati penonton hingga larut malam.
Selain menyaksikan prosesi budaya yang sarat nilai sejarah, banyak warga datang dengan tujuan khusus untuk mendapatkan air jamasan pusaka yang dipercaya membawa keberkahan dan keselamatan.
Air Jamasan Pusaka Mangkunegaran Diyakini Membawa Berkah
Usai prosesi kirab, perhatian masyarakat tertuju pada pembagian air jamasan, yakni air yang digunakan dalam ritual pembersihan pusaka sebelum dikirab.
Sebagian warga meyakini air tersebut memiliki nilai spiritual dan dapat membawa keberkahan bagi keluarga.
“Saya datang untuk mengambil air jamasan. Semoga membawa berkah untuk keluarga,” ujar Marimin (54), salah seorang warga yang mengikuti rangkaian kegiatan di kawasan Pura Mangkunegaran.
Momen pembagian air jamasan pun menjadi salah satu bagian yang paling dinanti dalam setiap peringatan Malam 1 Sura di Solo.
Sekda Jateng Sebut Tradisi Jadi Penggerak Pariwisata dan Ekonomi
Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, yang hadir dalam kegiatan jamasan pusaka tersebut menilai tradisi Malam 1 Sura memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurutnya, tradisi yang terus hidup di tengah masyarakat menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki daya tarik kuat meskipun berada di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi.
“Ini merupakan bentuk nyata pelestarian budaya dan tradisi yang menjadi kekayaan Jawa Tengah. Tradisi seperti ini harus terus dijaga karena memiliki nilai sejarah, budaya, sekaligus dampak ekonomi yang besar,” kata Sumarno.
Ia menambahkan, membludaknya jumlah pengunjung yang hadir menjadi bukti bahwa tradisi lokal tetap diminati dan mampu menjadi daya tarik wisata budaya.
“Tadi kita melihat sendiri bagaimana masyarakat memenuhi sepanjang rute kirab. Ini membuktikan tradisi masih hidup dan dicintai masyarakat. Mudah-mudahan juga berdampak pada pergerakan ekonomi, khususnya di Kota Surakarta,” ujarnya.

Enam Pusaka Mangkunegaran Dikarak Keliling Kota
Prosesi kirab dimulai sekitar pukul 20.00 WIB setelah KGPAA Mangkunegara X memberikan perintah pemberangkatan. Enam pusaka utama Mangkunegaran yang sebelumnya menjalani ritual jamasan pusaka kemudian dibawa keluar oleh para abdi dalem untuk dikirab mengelilingi kota.
Pusaka tersebut terdiri atas lima tombak pusaka dan satu pusaka yang ditempatkan dalam jodang atau kotak kaca khusus.
Ribuan peserta mengikuti kirab dengan berjalan kaki tanpa alas serta menjalani laku tapa bisu, yaitu tradisi berjalan dalam keheningan tanpa berbicara selama prosesi berlangsung.
Adapun rute kirab dimulai dari Pura Mangkunegaran menuju kawasan Ngarsopuro melalui Jalan Diponegoro, Jalan Slamet Riyadi, Jalan Kartini, Jalan RM Said, Jalan Teuku Umar, kemudian kembali ke kompleks Pura Mangkunegaran.
Panitia mencatat sekitar 10.000 tamu undangan menghadiri peringatan Malam 1 Sura tahun ini. Sementara jumlah peserta kirab mencapai sekitar 2.500 orang yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari keluarga besar Mangkunegaran, masyarakat umum, pejabat pemerintah hingga sejumlah tokoh nasional.
Tradisi Malam 1 Sura Jadi Identitas Budaya yang Tetap Hidup
Selain kirab pusaka, rangkaian peringatan Tahun Baru Jawa di Mangkunegaran juga diisi dengan tirakatan selama 24 jam yang dibagi dalam tiga fase. Seluruh kegiatan akan ditutup pada Rabu pagi dengan meditasi dan Laku Catur Sembah sebagai simbol penyambutan tahun baru dalam penanggalan Jawa.
Di tengah derasnya modernisasi, Kirab Pusaka Malam 1 Sura kembali menunjukkan kekuatan budaya lokal sebagai identitas masyarakat Jawa yang tetap lestari. Tradisi ini tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menggerakkan sektor ekonomi dan pariwisata di Kota Solo.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



