16 Hari Pasca Longsor Pandanarum, PMI Masih Bertahan Layani Pengungsi

Syarif TM
PMI Banjarnegara saat melakukan pendampingan pada para pengungsi longsor Pandanarum, Banjarnegara. (dok.PMI Banjarnegara)

MEMASUKI hari ke-16 pascabencana tanah longsor Pandanarum di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, suasana pengungsian masih menyisakan luka dan trauma bagi para korban.

Masa seperti ini menjadi satu fase transisi darurat, dimana banyak relawan yang sudah meninggalkan lokasi bencana, sementara para korban masih membutuhkan pendampingan untuk masa pemulihan. Fase transisi darurat kini menjadi tantangan tersendiri bagi warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian.

Di tengah situasi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Banjarnegara masih terus memberikan pendampingan secara penuh. Tidak hanya memastikan kebutuhan logistik terpenuhi, PMI juga menjaga lingkungan pengungsian agar tetap bersih, aman, dan layak huni.

Wakorlap Pos PMI Banjarnegara, Adhe Benny Araneta, mengatakan bahwa relawan masih bertugas di sejumlah titik pelayanan sesuai mandat operasi kemanusiaan.

“Masih banyak tugas yang harus kami jalankan, terutama dalam pelayanan bagi para penyintas longsor Pandanarum yang masih bertahan di pengungsian,” ujarnya.

Baca juga  Polres Banjarnegara Ajak Buruh dan Ojol Jaga Kamtibmas Lewat Apel Kebangsaan

Menurutnya, pelayanan dapur umum masih berjalan untuk menyuplai kebutuhan makan sehari-hari bagi pengungsi dan relawan yang masih bertahan. Selain itu, penataan logistik dan distribusi bantuan terus dilakukan bersama BPBD Banjarnegara agar mekanisme penyaluran tetap satu pintu sesuai arahan Bupati.

“Distribusi logistik dilakukan sesuai kebutuhan dan berdasarkan data terbaru agar bantuan tepat sasaran,” katanya.

Layani Korban Longsor Pandanarum
PMI Banjarnegara masih tetap melakukan pendampingan para para korban longsor Pandanarum. (dok.PMI Banjarnegara)

Fokus Layanan Beralih ke Validasi Data dan Umpan Balik Penyintas

Adhe menjelaskan, setelah masa pencarian korban dihentikan, intensitas aktivitas relawan kini bergeser pada validasi data penyintas, identifikasi kebutuhan lanjutan, dan monitoring distribusi bantuan.

Salah satu fokus utama yakni Community Engagement and Accountability (CEA) pendekatan yang melibatkan penyintas secara langsung untuk memberikan kritik, saran, dan evaluasi terhadap layanan kemanusiaan.

“Umpan balik ini menjadi kompas untuk memperbaiki pelayanan, membangun kepercayaan, dan memastikan kebutuhan mereka benar-benar terpenuhi,” katanya.

Hingga saat ini, tim CEA PMI telah menerima 205 masukan melalui aplikasi berbasis Android yang mencatat kategori kebutuhan, kerentanan, hingga jenis bantuan yang diterima penyintas.

Baca juga  Jalan Rusak 18,11 Km di Banjarnegara Disulap Mulus Lewat IJD 2025, Warga Girang: Rezeki Mulus!

Harapan Korban Longsor Pandanarum

PMI berharap sistem umpan balik ini membantu proses pemulihan korban longsor Pandanarum berjalan tepat sasaran dan lebih berkelanjutan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyintas trauma.

“Kami terbuka terhadap setiap masukan. Semua ditampung sebagai bagian dari evaluasi untuk meningkatkan respon kemanusiaan ke depan,” katanya.

Warga kini berharap masa transisi segera berlanjut ke fase pemulihan, sehingga kehidupan dapat kembali berjalan normal setelah bencana besar yang mengguncang Situkung, Pandanarum.

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!