DIDAMPINGI Kepala BNPB, Bupati Banjarnegara, dan sejumlah pejabat pemerintah daerah, Menteri Koordinator PMK Pratikno mengunjungi dan memantau langsung kejadian longsor Pandanarum.
Bahkan Menko Praktikno bersama dengan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, langsung meninjau dua titik terparah, yakni Dusun Pringamba dan Dusun Situkung. Tanah di area tersebut tampak masih terus bergerak. Retakan di jalan kian melebar hanya dalam hitungan jam.
“Kita harus tetap waspada. Kondisi tanah belum stabil,” tegas Pratikno setelah berdialog dengan warga dan pemerintah daerah.
Kunjungan ini dolakukan untuk meliat langsung kondisi tanah dan perkembangan operasi pencarian korban, kondisi pengungsian, serta langkah antisipasi terhadap potensi longsor susulan.
Masih Ada 26 Warga Diduga Hilang dalam Longsor Pandanarum
Dalam keterangannya, Menko PMK Pratikno mengingatkan seluruh pihak untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan data lapangan, masih terdapat 26 warga yang belum diketahui keberadaanya atau diduga hilang.
Pencarian terhadap warga tersebut juga masih terkendala pada kondisi pergerakan tanah yang masih terjadi, bahkan kondisi jalan di sekitar lokasi juga menunjukkan retakan yang semakin melebar dibandingkan pagi hari.
“Longsor Pandanarum ini berbeda, bahkan saat ini masih ada pergerakan tanah, sehingga kewaspadaan harus terus dijaga,” tegasnya.
Ia menyebut medan longsor Pandanarum menjadi tantangan besar dalam upaya pencarian, karena struktur tanah yang belum stabil. Meski demikian, pemerintah memastikan peralatan dan dukungan teknis terus diperkuat.
“Alat berat sudah bergerak menuju lokasi longsor Pandanarum. Kami juga menghadirkan ahli geologi untuk memastikan keamanan, terutama karena di bagian atas terdapat embung yang harus diawasi,” jelas Pratikno.
Pemerintah Pusat Beri Dukungan Penuh
Pratikno menegaskan bahwa pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan, Kemensos, BNPB, dan Basarnas akan memberikan dukungan penuh dalam penanganan darurat di Pandanarum. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan bencana.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Basarnas, BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan para relawan yang telah bekerja keras sejak awal. Fokus kita jelas: menyelamatkan warga dan memastikan kebutuhan pengungsi terpenuhi, mulai logistik, layanan kesehatan, hingga dukungan psikologis,” ujarnya.
Kepala BNPB: Kondisi Tanah Pandanarum Sangat Berbeda dengan Majenang
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menekankan bahwa lambatnya pencarian di Pandanarum bukan karena kurangnya keseriusan, tetapi murni karena kondisi geografis yang sangat berbeda dari lokasi longsor di Majenang.
“Di Majenang medan lebih mudah sehingga korban bisa ditemukan hampir setiap hari. Dari 23 korban, 16 telah ditemukan. Namun di Pandanarum, hingga hari kedua pencarian belum bisa dilakukan karena faktor keamanan,” jelasnya.
Menurutnya, tanah di titik longsor Pandanarum terus bergerak sehingga membahayakan tim pencarian. Jika cuaca mendukung dan hujan tidak turun, pencarian direncanakan dilakukan secara manual untuk meminimalkan risiko.
Pasukan Kebersihan Ditarik Mundur karena Tanah Kembali Bergerak
Pada kesempatan yang sama, tim kebersihan atau pasukan orange terpaksa ditarik mundur setelah tanah kembali menunjukkan pergerakan. Sejumlah rumah di bagian atas juga mulai mengeluarkan suara retakan, mengindikasikan bangunan terancam roboh.
Kondisi tersebut dinilai tidak aman untuk melanjutkan proses pencarian maupun pembersihan sehingga seluruh kegiatan di titik tersebut dihentikan sementara.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!





