Kisah Kerenyahan Keripik Niti, Oleh-oleh Khas Purwokerto yang Legendaris Sejak 1967

Kurnia
Keripik Niti, oleh-oleh khas Purwokerto yang legendaris sejak 1967. (Foto: TikTok @keripiktempeniti)

Tak hanya mendoan, Purwokerto juga memiliki camilan legendaris yang sudah bertahan puluhan tahun dan tetap digemari hingga kini. Salah satu nama yang tak boleh dilewatkan adalah Keripik Niti. Produk keripik tempe ini telah menjadi ikon oleh-oleh khas Banyumas sejak 1967.

Dengan cita rasa gurih dan tekstur renyah yang khas, Keripik Niti terus mempertahankan eksistensinya di tengah maraknya camilan modern.

Keripik Niti, Berawal dari Usaha Sederhana di Tahun 1960-an

Perjalanan Keripik Niti dimulai dari sosok Mbah Marniti yang merintis usaha ini sekitar tahun 1965. Berbekal resep tradisional yang diracik sendiri, ia mulai menjajakan keripik tempe secara keliling menggunakan rinjing.

Nama “Niti” diambil dari bagian namanya sebagai identitas produk. Seiring waktu, usaha tersebut mulai dikenal luas oleh masyarakat, khususnya di kawasan Purwokerto Kidul, dan resmi populer sejak 1967.

Baca juga  Bangga! 11 Atlet Panahan Banyumas Lolos ke Kejurnas 2025 di Kudus
mbah Kisah Kerenyahan Keripik Niti, Oleh-oleh Khas Purwokerto yang Legendaris Sejak 1967
Mbah Marniti, perintis Keripik Niti yang memulai usaha dari berjualan keliling.(Foto: TikTok @keripiktempeniti)

Setelah Mbah Marniti wafat pada 2013, usaha ini telah melewati estafet generasi. Dari anaknya, Ahmad Muntasir, hingga kini dikelola oleh generasi ketiga, Pungguh Jatmiko.

Meski telah berganti pengelola, cita rasa khas yang menjadi ciri utama tetap dipertahankan. Konsistensi inilah yang membuat Keripik Niti tetap menjadi favorit lintas generasi.

Proses Produksi yang Menjaga Kualitas Rasa

Salah satu kunci kelezatan Keripik Niti terletak pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan teknik tradisional.

Dalam sehari, produksi bisa mencapai ribuan tempe mentah yang kemudian diolah menjadi ratusan bungkus keripik siap jual. Semua proses dilakukan dengan pengawasan ketat agar kualitas tetap terjaga.

Keunikan lainnya ada pada teknik penggorengan dua kali. Tempe terlebih dahulu digoreng setengah matang, lalu digoreng kembali hingga kering dan renyah sempurna. Metode ini menghasilkan tekstur khas yang sulit ditiru.

Selain itu, penggunaan minyak kelapa berkualitas turut memberikan cita rasa gurih yang lebih alami dan khas.

Harga Ramah di Kantong, Cocok untuk Oleh-oleh

Tak hanya soal rasa, Keripik Niti juga dikenal dengan harganya yang terjangkau. Satu bungkus dibanderol sekitar Rp30.000 dengan isi 20 keping keripik.

Baca juga  Bupati Banyumas Pastikan Harga Bahan Pokok Stabil Selama Momen Nataru 

Kemasan yang rapi dan daya tahan yang cukup lama membuat camilan ini sangat cocok dijadikan oleh-oleh khas Purwokerto.

Produksi
Proses produksi keripik tempe dengan teknik penggorengan dua tahap. (Foto: TikTok @keripiktempeniti)

Lokasinya pun mudah dijangkau, berada di kawasan strategis di Purwokerto Kidul, tidak jauh dari pusat kota dan fasilitas umum.

Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Camilan Modern

Lebih dari lima dekade bertahan, Keripik Niti menjadi bukti bahwa kuliner tradisional mampu bersaing dengan produk kekinian.

Di saat banyak camilan baru bermunculan, Keripik Niti tetap mempertahankan jati diri dengan menjaga kualitas dan rasa autentik. Hal ini menjadikannya bukan sekadar makanan ringan, tetapi juga bagian dari warisan kuliner Banyumas.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Purwokerto, rasanya belum lengkap tanpa membawa pulang keripik tempe legendaris ini. Setiap gigitan menghadirkan perpaduan rasa gurih dan cerita panjang yang terus hidup hingga hari ini.

*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.