SEKTOR pariwisata masih menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah di Jawa Tengah. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memacu pertumbuhan sektor ini melalui pengembangan kawasan aglomerasi wisata serta penguatan desa wisata, yang terbukti mengantarkan Jawa Tengah mencatat capaian pariwisata tertinggi secara nasional sepanjang 2025.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pariwisata memiliki peran strategis dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
“Pariwisata menjadi instrumen penting untuk meningkatkan PAD dan memperkuat ekonomi daerah. Karena itu, destinasi wisata terus kita perbanyak dan perkuat,” ujar Ahmad Luthfi di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang.
Kembangkan Kawasan Aglomerasi Wisata
Menurut Ahmad Luthfi, keunggulan pariwisata Jawa Tengah terletak pada pengembangan kawasan aglomerasi wisata yang terintegrasi antarwilayah. Sejumlah kawasan unggulan seperti Kopeng, Borobudur, dan Rawapening dikembangkan sebagai simpul destinasi yang saling terkoneksi guna memperpanjang lama tinggal wisatawan.
“Jawa Tengah memiliki aglomerasi wisata Kopeng, Borobudur, dan Rawapening yang terus kita kembangkan secara terpadu,” katanya.
Selain aglomerasi wisata, Pemprov Jateng juga menjadikan desa wisata sebagai tulang punggung pemerataan ekonomi pariwisata. Saat ini, terdapat sekitar seribu desa wisata yang aktif menjadi bagian dari ekosistem pariwisata daerah.
Pengembangan desa wisata dilakukan secara bertahap dan berjenjang. Desa yang semula berskala lokal didorong naik kelas menjadi destinasi antardaerah hingga berorientasi internasional. Penetapan desa wisata tersebut telah diperkuat melalui surat keputusan (SK) kepala daerah di tingkat kabupaten dan kota.
“Para bupati dan wali kota sudah menetapkan desa wisata melalui SK. Dari wisata lokal, bisa berkembang menjadi wisata regional bahkan internasional,” jelasnya.
Dorong Diversifikasi Produk Wisata
Untuk memperluas segmentasi pasar, Pemprov Jateng juga mendorong diversifikasi produk pariwisata. Selain wisata alam dan sejarah, pengembangan wisata kuliner, wisata budaya, serta wisata ramah muslim menjadi fokus peningkatan daya saing.
“Kita dorong wisata kuliner, budaya, dan wisata ramah muslim. Jawa Tengah ini strategis karena berada di tengah Pulau Jawa,” kata Ahmad Luthfi.
Ia menegaskan, pengembangan wisata ramah muslim telah menjadi bagian dari visi dan misi pembangunan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. “Wisata ramah muslim sudah masuk dalam visi-misi kita,” tegasnya.
Kunjungan Wisatawan Terus Meningkat
Strategi tersebut sejalan dengan capaian kinerja sektor pariwisata Jawa Tengah. Berdasarkan riset CNBC Indonesia Research, daya tarik pariwisata Jawa Tengah menempati peringkat tertinggi nasional dengan kontribusi pendapatan mencapai Rp2,77 triliun sepanjang 2025.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Jawa Tengah pada 2025 mencapai 68,88 juta orang atau meningkat 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kunjungan wisatawan mancanegara juga tumbuh signifikan sebesar 28 persen menjadi 593.168 orang.
Capaian tersebut menjadi pijakan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk terus mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah pada 2026.
Sejumlah destinasi unggulan seperti Masjid Raya Sheikh Zayed Surakarta, Kota Lama Semarang, Candi Prambanan, kawasan Borobudur, serta Dataran Tinggi Dieng masih menjadi magnet utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!







