Desa Karangjengkol, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, menjadi salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi pembuatan cobek (ciri) dan ulekan (mutu) dari batu gunung.
Di tempat produksi yang dikenal sebagai Umahe Ciri Watu, proses pembuatan cobek dilakukan dengan memadukan teknik tradisional dan bantuan alat mekanis sederhana.
Aktivitas ini tidak hanya menghasilkan peralatan dapur berkualitas, tetapi juga menjadi bagian dari kearifan lokal yang terus dijaga oleh masyarakat setempat.
Bahkan, proses produksinya kini mulai menarik perhatian pengunjung yang ingin melihat langsung bagaimana batu alam diolah menjadi cobek siap pakai.
Tahapan Pembuatan Cobek dari Batu Gunung
Berikut adalah tahapan pembuatan cobek dari Batu Gunung sebagaimana melansir unggahan akun TikTok @kknkarangjengkol:
1. Pemotongan Batu Gunung sebagai Bahan Utama
Proses dimulai dari pemilihan batu gunung berukuran besar sebagai bahan baku utama. Batu tersebut kemudian dipotong menggunakan mesin khusus.
Selama pemotongan berlangsung, air dialirkan secara terus-menerus ke bagian mata pisau.
Cara ini efektif untuk mengurangi debu sekaligus menjaga suhu alat agar tetap stabil, sehingga hasil potongan lebih rapi dan tidak mudah retak.
2. Pembentukan Pola Dasar Cobek
Setelah dipotong, batu mulai dibentuk menjadi pola dasar berbentuk lingkaran. Bagian pinggir dirapikan hingga mendekati bentuk cobek.
Pada tahap ini, hasilnya masih berupa lempengan batu tebal dengan bentuk kasar. Namun, bentuk dasar cobek sudah mulai terlihat.
3. Penghalusan Bagian Pinggir
Tahap selanjutnya adalah penghalusan sisi luar menggunakan mesin gerinda tangan. Pengrajin mengikis bagian pinggir secara perlahan untuk mendapatkan bentuk lingkaran yang simetris.
Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi agar cobek tidak hanya terlihat rapi, tetapi juga nyaman digunakan.
4. Pembuatan Cekungan di Bagian Tengah
Ciri khas cobek terletak pada bagian tengah yang cekung. Untuk membuatnya, pengrajin memahat bagian tengah batu secara manual.
Pembuatan cekungan dilakukan hingga mencapai kedalaman tertentu. Setelah itu, bagian dalam kembali dihaluskan agar tidak terlalu kasar saat digunakan untuk mengulek bumbu.
5. Finishing dan Siap Digunakan
Tahap akhir adalah proses penyempurnaan. Cobek yang sudah dibentuk akan diperiksa kembali untuk memastikan tidak ada retakan atau cacat.
Penggunaan batu gunung asli menjadi keunggulan utama cobek dari Desa Karangjengkol. Selain kuat dan tahan lama, cobek ini juga tidak mudah berpasir saat digunakan, sehingga aman untuk kebutuhan dapur sehari-hari.
Potensi Ekonomi dan Daya Tarik Wisata Edukasi

Keberadaan sentra cobek di Desa Karangjengkol tidak hanya mendukung kebutuhan rumah tangga, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.
Selain itu, Umahe Ciri Watu kini mulai dikenal sebagai lokasi wisata edukasi. Pengunjung dapat melihat langsung proses produksi cobek dari awal hingga selesai, sekaligus memahami nilai kerja keras di balik produk tradisional tersebut.
Perpaduan Teknik Tradisional dan Alat Modern
Proses pembuatan cobek di Desa Karangjengkol, Cilacap, menunjukkan bagaimana batu gunung yang sederhana dapat diolah menjadi peralatan dapur berkualitas tinggi.
Perpaduan teknik tradisional dan alat modern menjadikan produk ini tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Ke depan, potensi kerajinan cobek ini tidak hanya sebagai produk lokal unggulan, tetapi juga sebagai daya tarik wisata berbasis budaya yang mampu memperkenalkan kekayaan tradisi Cilacap kepada masyarakat luas.
*Anda bisa lihat info lain di Instagram kami.



