BANYAK cara dalam memulihkan keceriaan anak-anak yang ada dalam tenda pengungsian, seperti yang dilakukan oleh tim Wash PMI yang hadir untuk memberikan keceriaan dan tawa bagi anak-anak di tengah pengungsian.
Di tengah barisan tenda pengungsian yang berdiri di tanah becek dan aroma lembap yang tak kunjung hilang, tawa anak-anak kembali terdengar. Suara itu datang dari sebuah lingkaran kecil di mana puluhan anak duduk antusias, menunggu tokoh yang belakangan menjadi favorit mereka: Dodo, boneka tangan berwarna cerah yang selalu tampil dengan senyum lebar.
Dodo bukan sekadar boneka. Ia kini menjadi teman baru bagi anak-anak penyintas bencana, sekaligus jembatan bagi tim Wash PMI untuk mengajarkan pentingnya hidup bersih dan menjaga kesehatan. Di tengah hari-hari yang penuh ketidakpastian, boneka kecil ini hadir sebagai penghibur, guru, dan penyembuh bagi anak-anak di pengungsian.
Cerita Dimulai dari Sebuah Ide Sederhana
Relawan Wash PMI Brebes, Safa’atulloh, tahu bahwa memberikan edukasi tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada anak-anak tidak bisa dilakukan dengan cara biasa. Kondisi psikologis mereka sedang rapuh, apalagi mereka yang saat ini tinggal di pengungsian, sebagian masih ketakutan setelah bencana yang merenggut rumah bahkan keluarga.
“Kami ingin membuat suasana yang ringan, yang bisa mendekatkan pesan kesehatan tanpa membuat mereka merasa seperti sedang diajari,” kata Safa’atulloh. Dari gagasan itu, Dodo lahir sebagai tokoh utama dalam sesi edukasi.
Metode yang digunakan tidak kaku. Mereka memakai cerita, gerak, permainan, dan trik sulap sederhana agar pesan-pesan penting seperti cara cuci tangan yang benar, kebersihan tubuh, hingga bahaya lingkungan kotor lebih mudah dipahami.
Dodo Jadi Sahabat Baru Anak-Anak di Pengungsian
Saat sesi dimulai, Dodo muncul dari balik panel kain, melambai-lambai dengan suara lucu yang disesuaikan oleh relawan. Seketika, wajah-wajah murung anak-anak yang berada di pengungsian berubah menjadi tawa.
“Anak-anak langsung tertarik. Mereka merasa Dodo berbicara langsung kepada mereka,” kata Safa’atulloh.
Dodo menunjukkan langkah cuci tangan yang benar melalui gerakan sederhana, membasahi tangan, menggosok telapak, dan punggung tangan, membersihkan sela-sela jari hingga kuku. Anak-anak pun menirukan dengan penuh semangat, seolah sedang bermain peran dengan sahabat baru mereka.

Edukasi yang Berubah Menjadi Terapi
Namun misi Dodo tidak berhenti pada edukasi. Bagi banyak anak, sesi ini menjadi ruang aman untuk melepaskan stres, mengurangi kecemasan, dan menata kembali rasa aman yang sempat hilang.
“Interaksi aktif dan sesi bermain ini membantu mengurangi tekanan emosional yang mereka alami. Mereka bisa tertawa, bergerak bebas, dan merasa diperhatikan,” jelasnya.
Di tengah pengungsian dan dalam situasi darurat yang penuh batasan, momen seperti ini menjadi sangat berharga. Anak-anak bisa kembali menjadi anak-anak bermain, tertawa, dan merasakan kebahagiaan sederhana.
Pulang dengan Hygiene Kit dan Senyum Lebar
Selesai bermain dengan Dodo, setiap anak mendapatkan hygiene kit berisi sabun mandi, sampo, sabun cuci, serta sikat dan pasta gigi. Paket sederhana ini melengkapi pesan edukasi yang telah mereka dapatkan sekaligus memberi dukungan nyata agar mereka dapat menjaga kebersihan di pengungsian.
Safa’atulloh berharap pendekatan ini dapat meninggalkan jejak positif. “Kami ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Ada yang peduli, ada yang menemani, dan ada ruang untuk tersenyum kembali,” katanya”
Di Tengah Luka, Selalu Ada Harapan
Di lokasi pengungsian, Dodo mungkin hanya boneka. Tapi bagi anak-anak yang kehilangan banyak hal akibat bencana, Dodo adalah lambang harapan kecil bahwa keceriaan masih bisa tumbuh meski di tempat yang tak terduga.
Dan di tangan para relawan PMI, harapan itu menjadi nyata, satu tawa kecil dalam satu waktu.
Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!





