Ketika Guru Pergi, Saat itulah Bel Pulang Tak Lagi Sama

Heri C
Sejumlah murid dan guru SD Negeri Blimbing berfoto bersama sebagai kenangan atas guru yang mendapatkan tugas di sekolah lain, Jumat (10/4/2026). (Foto: SD Negeri Blimbing Mandiraja)

Pagi itu, Jumat (10/4/20206), halaman SD Negeri Blimbing di Kecamatan Mandiraja tak lagi dipenuhi gelak tawa yang biasa pecah usai senam pagi. Langkah kaki anak-anak terasa lebih pelan, suara mereka merendah, seolah ikut menjaga suasana yang diliputi rasa kehilangan. Di bawah langit yang teduh, siswa dan guru berkumpul dalam satu lingkaran emosi untuk melihat guru yang akan melangkah pergi karena tugas. Hari itu adalah melepas sosok yang selama ini tak sekadar mengajar, tetapi juga mengasuh yaitu wanita yang hebat dan tangguh, Mar’atun Solechah.

Hari itu menjadi penanda peralihan bagi Mar’atun adalah awal perjalanan baru sebagai kepala sekolah di SD Negeri 2 Purwasaba. Namun bagi murid-muridnya, ini adalah hari perpisahan yang terasa terlalu cepat datang.

Saat berdiri di hadapan para siswa, Mar’atun berusaha tegar. Namun, suara yang semula mantap perlahan bergetar. Air mata yang ia seka berulang kali justru memperjelas betapa dalam ikatan yang telah terjalin selama ini. Ia tak banyak bicara panjang, hanya menitipkan pesan sederhana yang terasa hangat: agar anak-anak tetap belajar dengan sungguh-sungguh dan tidak melupakan kebersamaan yang telah dilalui.

Baca juga  PMI Banjarnegara Siapkan 100 Bingisan Cantik dan Doorprize Menarik, Ini Alasanya

“Perpisahan itu terasa bukan tentang jarak, melainkan tentang kenangan yang tak mudah dipisahkan,” kata Mar’atun.

Kepala SD Negeri Blimbing, Murti Handayani, menyebut pencapaian tersebut sebagai buah dari kerja panjang yang dijalani dengan kesungguhan.

“Ini adalah tugas. Bagi kami, kepergian Bu Mar’atun bukan sekadar kehilangan tenaga pengajar, melainkan juga sosok yang selama ini menjadi penggerak dan teladan. Tapi itu adalah tugas dan perjuangan. Tentu perjuangan yang pernah dilakukan disini akan dilanjutkan ditempat barunya. Selamat bertugas dan sukses, guru dan sahabat sejati,” katanya.

Menurut Murti, peristiwa semacam ini bukan hal baru di dunia pendidikan. Pergantian tugas, mutasi, atau promosi adalah bagian dari perjalanan seorang guru. Namun setiap perpisahan selalu memiliki ceritanya sendiri.

“Acara perpisahan bukan sekadar seremoni administratif, melainkan ruang di mana hubungan antara guru dan murid menemukan maknanya yang paling jujur,” katanya.

Ketika lagu “Terima Kasih Guruku” mengalun pelan, suasana yang semula tertahan akhirnya luruh. Satu per satu anak maju, menyalami tangan yang selama ini menuntun mereka menulis, membaca, dan memahami dunia. Beberapa tak kuasa menahan tangis, menggenggam tangan gurunya lebih lama, seolah enggan melepaskan.

Baca juga  Jejak Adipati Wirasaba hingga Makam Belanda, Klampok Dinilai Layak Jadi Kawasan Cagar Budaya

Usai bersalaman, langkah kecil dan seperti enggan dilakukan oleh Mar’atun. Perlahan namun pasti, langkah meninggalkan barisan diiringi lambaian kecil dan doa yang mungkin tak terucap.

Di halaman sekolah sederhana itu, pagi tersebut menjadi pengingat: bahwa pendidikan tak hanya soal pelajaran di kelas, tetapi juga tentang ikatan manusia yang tumbuh perlahan, lalu terasa begitu dalam saat harus dilepaskan. Yang datang pasti akan pergi.

 

 

Follow akun sosial media kami untuk update berita terbaru!