28 Januari sebagai Hari Privasi Data Sedunia: Ancaman Kebocoran Data Makin Mendesak di Tengah Serbuan Kejahatan Siber Global

Heri C
Ilustrasi artikel Peringatan Hari Privasi Data Sedunia yang jatuh setiap 28 Januari. (Freepik)

Tiap 28 Januari diperingati sebagai Hari Privasi Data Sedunia, sebuah momentum untuk meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya perlindungan informasi pribadi di era digital yang makin maju. Di tengah pertumbuhan pesat teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), risiko kebocoran dan penyalahgunaan data semakin nyata dan berdampak luas bagi individu serta organisasi.

Peringatan hari privasi data ini menjadi pengingat bahwa data privasi yang dibagikan secara sembarangan tanpa kontrol dan pengamanan yang memadai berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Di seluruh dunia, sejumlah insiden besar menunjukkan bagaimana pelanggaran privasi data dapat mengguncang kepercayaan publik dan menimbulkan kerugian finansial maupun reputasi.

Dilansir dari berbagai sumber data yang ada, tahun-tahun terakhir mencatat sejumlah kasus pelanggaran data yang mengkhawatirkan:

1. Insiden besar pada 2024–2025, di mana lebih dari 16 miliar kredensial akun bocor yang mencakup platform besar seperti Google, Facebook, Apple hingga Telegram, menjadikannya salah satu kebocoran data terbesar dalam sejarah modern. Para peneliti keamanan mengungkap kebocoran ini sebagai kumpulan data besar yang dipadukan dari berbagai sumber, memperluas risiko eksploitasi identitas digital di seluruh dunia.

Baca juga  Opor Entok Nini Kenter Khas Cilongok, Rasanya Nylekamin dan Mblaketaket

2. Di sektor keuangan dan teknologi, perusahaan seperti Coinbase melaporkan kebocoran data pelanggan sekitar 510.000 akun pada Mei 2025, termasuk dokumen identifikasi pribadi dan rincian transaksi, dengan permintaan tebusan hingga puluhan juta dolar AS.

3. Maskapai Qantas Airways mengonfirmasi bahwa data pribadi 5,7 juta pelanggan terekspos dalam serangan siber, termasuk nomor telepon, tanggal lahir, dan alamat rumah, salah satu insiden keamanan siber terbesar pada perusahaan Australia.

4. 23andMe, perusahaan tes genetik konsumen, didenda lebih dari £2,3 juta oleh regulator Inggris karena gagal melindungi data lebih dari 150.000 pengguna dalam serangan yang lebih besar mempengaruhi jutaan data secara global.

Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa tidak ada industri yang kebal terhadap ancaman pelanggaran data dari layanan keuangan, kesehatan, hingga layanan perjalanan dan cloud.

Ancaman di Era AI: Lebih Canggih, Lebih Berbahaya

Ahli keamanan siber menilai bahwa teknologi AI membuka peluang baru bagi pelaku kejahatan digital. AI tidak hanya mempercepat otomatisasi aktivitas online, tetapi juga memungkinkan serangan yang lebih canggih, seperti adversarial attacks yang dapat mengecoh sistem otomatisasi dan alat keamanan digital.

Baca juga  Makna Mendalam Tradisi Takiran di Bulan Jumadil Akhir, Warisan Spiritual yang Tetap Lestari di Banjarnegara

Peringatan juga datang dari komunitas infosec global bahwa pembagian data pribadi ke platform AI tanpa pengamanan dapat berujung pada eksposur ke dark web, yakni pasar gelap di internet tempat data curian diperjualbelikan.

Menurut beberapa sumber, lebih dari 26 miliar data pribadi telah terekspos dan tersedia dalam bentuk dataset online yang tidak aman, menjadikannya salah satu bocoran terbesar yang pernah tercatat. Data ini mencakup informasi pengguna dari platform besar seperti LinkedIn, Dropbox dan Twitter.

Survei independen juga menunjukkan lonjakan jumlah akun yang mengalami kebocoran data di berbagai negara, termasuk Rusia, Amerika Serikat, dan Prancis menandakan bahwa ancaman kebocoran bukan sekadar teori tetapi fenomena nyata dengan dampak global.

Para pakar menekankan bahwa pelanggaran data bukan hanya soal hilangnya informasi tapi juga tentang kerugian finansial, pencurian identitas, hingga hilangnya kepercayaan konsumen terhadap perusahaan dan lembaga yang menyimpan data mereka.

Langkah-langkah mitigasi yang dianjurkan meliputi:
-. Enkripsi data dan penggunaan koneksi aman (HTTPS).
-. Autentikasi dua faktor (2FA) sebagai lapisan keamanan tambahan.
-. Pembaruan sistem perangkat lunak secara berkala untuk menutup celah keamanan.
-. Pendidikan publik tentang risiko klik tautan mencurigakan dalam pesan atau email.

Baca juga  Review Zootopia 2: Lebih Matang, Cerita Makin Menggigit, Sekuel yang Dinanti Hampir Satu Dekade

Hari Privasi Data Sedunia Lebih Relevan

Peringatan Hari Privasi Data Sedunia yang jatuh setiap 28 Januari ini menjadi lebih relevan dari sebelumnya. Dengan semakin kompleksnya ancaman siber, perlindungan data pribadi harus menjadi prioritas bersama, baik bagi pengguna individu maupun perusahaan global. Di tengah gempuran teknologi baru, kewaspadaan dan pembaruan kebijakan keamanan menjadi kunci untuk mencegah korban pelanggaran data berikutnya.

*Anda bisa melihat info lain di Instagram kami.